Sepanjang hidup kita mendengar berbagai macam fakta yang sudah diterima orang banyak sebagai suatu kebenaran. Namun terkadang fakta-fakta tersebut sering tidak benar namun (seperti bahasan kemarin) sering diulang-ulang dalam kebudayaan kita sehingga terasa benar. Daftar ini berisi 7 buah mitos yang dipercaya sebagai suatu fakta.
Bunglon Berubah Warna Untuk Kamuflase
Mitosnya: Bunglon merubah warna kulitnya sama dengan daerah di sekelilingnya sehingga predator tidak akan dapat melihat bunglon itu. Intinya sang bunglon melakukan kamuflase untuk menyelamatkan dirinya.
Faktanya: Bunglon memang bisa merubah warna kulitnya namun hal itu lebih disebabkan karena kondisi emosi si Bunglon. Ketika Bunglon bertemu lawan jenis, ia akan berubah warna menjadi kebiruan. Jika Bunglon sedang agresif ia akan berubah warna menjadi hitam. Tidak ada hubungannya dengan kamuflase.
Kalau Rambut/Kumis Dicukur Akan Tumbuh Kembali Lebih Tebal
Mitosnya: Saat hendak bercukur atau menggunduli rambut kita sering diberitahu orang bahwa bulu kita akan tumbuh jauh lebih tebal setelah dicukur.
Faktanya: Tidak ada bukti ilmiah yang memastikan hal tersebut, hal ini lebih dikarenakan orang-tua menginginkan anaknya klimis dan bersih sehingga agar anak-anak/remaja mau digunting rambut/cukur kumis mereka menasehatkan hal seperti itu, yang akhirnya menjadi mitos yang diterima masyarakat.
Cuaca Dingin Menyebabkan Flu
Mitosnya: Cuaca dingin akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga kita mudah terkena flu. Untuk alasan yang sama juga kita menghindari udara dingin ketika sedang musim flu.
Faktanya: Khusus untuk penyakit flu, daya tahan tubuh yang menurun memang menyebabkan tubuh lebih mudah terserang penyakit. Namun cuaca apapun tidak ada korelasinya dengan daya tahan tubuh. Malahan pada cuaca panas bibit penyakit lebih aktif. Banyak orang terserang flu saat cuaca dingin karena orang menjadi sering berkumpul bersama di dalam ruangan yang mempermudah penyebaran penyakit itu.
Tembok China Adalah Satu-satunya Struktur Buatan Manusia Yang Bisa Dilihat Dari Luar Angkasa
Mitosnya: Sangking panjangnya tembok cina, bangunan ini bisa dilihat dari luar angkasa ketika para astronot mengalihkan pandangan mereka ke China.
Faktanya: Pada jarak yang sama tembok China bisa terlihat dari luar angkasa, jalan raya, kota-kota, bandar udara, dan banyak struktur lain juga bisa dilihat dari atas sana. Lihat saja sebuah hasil foto satelit.
Indonesia Dijajah 350 Tahun Oleh Belanda
Mitosnya: Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun mulai dari tahun 1592 sampai 1942 ketika Jepang datang.
Faktanya: Sampai tahun 1900 pun masih banyak daerah di Indonesia yang merdeka. Ingat perang Sisingamangaraja? (1887-1907). Intinya mungkin lebih tepat dikatankan kalau Belanda perlu 300 tahun-an untuk menaklukan seluruh Indonesia. Itupun sebenarnya masih banyak wilayah yang semi-otonom. Belanda menguasai Indonesia dengan bangsanya sendiri.
Maria Magdalena Seorang Pelacur
Mitosnya: Maria Magdalena, seorang murid Yesus merupakan seorang pelacur yang bertobat. Dalam berbagai literatur sering dikatikan menjadi kekasih Yesus, dipolulerkan ke khalayak ramai oleh Dan Brown.
Faktanya: Tidak pernah ada bukti Maria Magdalena itu seorang pelacur, baik dalam Injil, Injil Apokripha maupun catatan sejarah. Bahkan dalam Injil ia hanya disebut dua kali.
Darwin Mengatakan Bahwa Manusia Berevolusi Dari Kera
Mitosnya: Charles Darwin yang menelurkan Teori Evolusi (Inipun masih bisa diperdebatkan apa dia menjiplak atau hasil buah tangannya sendiri), mengatakan bahwa manusia berevolusi dari kera.
Faktanya: Dia tidak pernah mengatakan hal ini. Tidak ada ilmuwan pula yang akan mengatakan hal demikian. Para penolak teori evolusi yang menyebarkan hal ini untuk menjatuhkan pamor Teori Evolusi. Menurut Teori Evolusi manusia tidak berevolusi dari kera namun memiliki nenek moyang yang sama.
Minggu, 19 September 2010
Senin, 06 September 2010
Tradisi Mudik, Ada Spektakuleritas Makna Didalamnya
Tradisi mudik Lebaran dalam masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun sangat mengesankan, mencengangkan, sekaligus sangat merepotkan terutama bagi pemerintah dan aparat keamanan. Setiap tahun menjelang Lebaran (Idul Fitri), orang dalam jumlah jutaan manusia seakan ‘digerakkan’ oleh suatu kekuatan luar-biasa dari satu tempat—metropolis—yang dianggap sebagai tempat mancari nafkah ke suatu tempat—kampung halaman lain yang disebut sebagai tempat asal-muasalnya.
Menjelang Lebaran, masyarakat Indonesia bergerak dalam jumlah yang sangat menajubkan sehingga budayawan terkemuka Indonesia, Umar Kayam (1993), pernah mengatakan bahwa mudik Lebaran itu sebagai “menjalani suatu ritus yang tidak jelas apakah itu suatu keajaiban fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya”. Fenomena mudik Lebaran ini nyaris merupakan suatu keajaiban karena agaknya, tidak ada satu ritus lain pun di Indonesia yang dapat menandinginya dalam skala dinamika gerak massa manusia.
Ritus mudik Lebaran ini telah memindahkan massa manusia dalam jutaan orang dari suatu kota ke kota yang lain atau dari suatu kota ke daerah pedesaan (migrasi kota desa)—terutama di Jawa, Bali, dan Sumatera—dalam waktu seminggu atau dua minggu secara ulang-alik. Dalam gerak perpindahan ulang-alik ini, jutaan manusia ambil bagian dalam ritus mudik Lebaran tersebut. Tentu saja jumlah orang yang akan diangkut kendaraan (bus, kereta api, pesawat terbang, dan kapal laut) tidak sebanding sehingga bepergian dalam rangka ritus mudik Lebaran ini merupakan suatu pergulatan atau perjuangan tersendiri.
Menurut perkiraan Departemen Perhubungan, jumlah arus mudik tahun ini (2006) akan mencapai 20,82 juta orang, atau naik 11 persen dibandingkan dengan tahun lalu (2005). Dari jumlah ini, 10 juta orang akan menggunakan angkutan jalan raya, 4,37 juta memanfaatkan kereta api, 2,27 juta memakai angkutan penyeberangan (feri), 1,13 juta dengan kapal laut, dan 2,59 juta akan menumpang pesawat terbang. Tidak mudah mengatur mobilitas orang dalam jumlah demikian banyaknya, terutama pada saat puncak arus mudik Lebaran, yakni pada H-2.
Mudik Lebaran yang telah menjadi sebuah fenomena bagi masyarakat Indonesia ini telah mengerahkan dana yang sangat besar. Orang yang hidup dan bekerja di suatu kota besar akan menggerakkan sejumlah dana yang cukup signifikan ke suatu kota lain—kampung halamannya. Tentu saja, mobilitas finansial ini juga merupakan fenomena tersendiri bagi geliat ekonomi dan roda pembangunan di daerah pedesaan atau di kota lainnya.
Ritus ini telah mengumpulkan keluarga inti yang berserakan di kota-kota besar di Pulau Jawa atau di luar Pulau Jawa, di Bali atau Sumatera, yang tidak sempat reriungan dengan keluarga besar mereka sehingga ritus ini merupakan ritus untuk menegakkan kembali kesetiaan yang terhampar dan menyebar di mana-mana.
Ritus nasional
Ritus mudik Lebaran ini adalah ritus “manajerial nasional” atau proyek nasional yang melibatkan keseriusan pemerintah, lembaga (bisnis) swasta, dan masyarakat itu sendiri. Ritus mudik Lebaran ini melibatkan dana bukan hanya dalam skala keluarga pribadi, melainkan dana negara dan swasta serta fasilitas dan angkatan bersenjata negara. Bukankah ini merupakan ritus nasional karena keterlibatan fasilitas nasional yang harus dikelola?
Di negara industri maju seperti Amerika Serikat (AS) misalnya, yang mempunyai ritus Christmas day dan Thanksgiving day, dimana pada ritus tersebut mereka jadikan sebagai ajang untuk berkumpulnya seluruh keluarga inti mereka. Tetapi, apakah mudik Christmas dan Thanksgiving bagi masyarakat AS sefenomenal atau sekompak “mudik Lebaran” di Indonesia yang melibatkan orang, sumber daya, dan fasilitas negara dalam skala besar?
Dalam peristiwa berikut—Christmas dan Thanksgiving—agaknya presiden dan para menteri di AS tidak terlibat secara langsung, institusi militer mereka tidak dikerahkan untuk mendirikan posko serta disiagakan, perusahaan angkutan umum tidak dikomandoi oleh menteri Perhubungan, atau Kepolisian mereka tidak perlu disiagakan dengan sandi “Operasi Ketupat” atau “Operasi Lilin” seperti di Indonesia. Ritus mudik Christmas dan Thanksgiving merupakan arena berkumpul dalam skala keluarga inti, tidak dalam skala keluaga jaringan.
Apakah ketika negara maju seperti AS tersebut belum menjadi negara industri maju yang terpecah dalam kota-kota dan masih menjadi negara agraris, mudik Christmas dan Thanksgiving mereka seheboh ritus mudik Lebaran? Bisakah ritus mudik Christmas dan Thanksgiving menjadi sebuah fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya? Mungkin bagi masyarakat Indonesia, mudik Lebaran adalah sebuah ritus yang lebih hangat, lebih emosional, dan lebih romantis; meskipun sangat merepotkan. Tetapi, apakah fenomena ritus seperti ini masih dapat dipertahankan dalam waktu yang lama di masa-masa mendatang?
Perubahan total
Bagi kaum agamis yang menitikberatkan pandangannya dari sudut penghayatan agama, berpendapat bahwa kondisi seperti ini dapat dipertahankan apabila akar penghayatan agama dalam masyarakat masih kuat. Para sosiolog mungkin berpendapat sebaliknya, bahwa kondisi tersebut akan berubah bila kita telah berubah menjadi masyarakat kota (metropolitan), dan tidak lagi menjadi masyarakat desa (rural society)—dimana hubungan antara keluarga jaringan dan keluarga inti menjadi semakin renggang.
Bagi kaum determinis budaya, mudik Lebaran adalah fenomena budaya yang paling mendasar dan mentradisi. Apabila kita tidak dapat mempertahakan tradisi ini, maka kita akan kehilangan akar budaya. Bila suatu masyarakat kehilangan akar budayanya, maka masyarakat tersebut akan kehilangan pegangan hidup dan kehilangan segalanya.
Barangkali secara terpisah, setiap sudut pandang tersebut memiliki kekuatan argumentasinya sendiri. Tetapi, ritus mudik Lebaran ini adalah sebuah fenomena ritus yang total. Fenomena ini bukan potret terpisah dari Islam, masyarakat Indonesia, orang Jawa, orang Sumatera, kota atau desa di Indonesia; kereta api atau bus-bus yang penuh sesak, berhimpitan, dan loket-loket penjualan tiket penumpang dengan pemandangan antrian panjang yang membosankan. Kondisi ini mengesankan tiadanya penghargaan atas hakikat manusia dan seolah-olah memperlakukan manusia ibarat binatang ternak (kambing congek) dalam suatu pengangkutan menuju penjagalan atau tempat pemotongan hewan.
Maka, membayangkan suatu perkembangan di masa mendatang dalam konteks fenomena ritus mudik Lebaran, seyogianya membayangkan perubahan ritus tersebut secara total. Membayangkan perubahan tersebut mungkin sebaiknya optimis. Yakni membayangkan suatu tatanan masyarakat berbudaya, dimana toleransi beragama berjalan dengan damai di sebuah negeri yang mengakui pluralisme dan heterogenitas struktural.
Akhirnya, membayangkan suatu perubahan budaya yang mentradisi adalah membayangkan suatu masyarakat yang hidup dalam tatanan yang berkeadilan sosial dan sejahtera. Hidup dalam pemerintahan yang bersih dan jujur, yang senantiasa memperjuangkan kepentingan dan nasib rakyatnya dan tidak mementingkan diri sendiri atau kelompok. Kemudian membayangkan vitalitas budaya bangsanya.
Menjelang Lebaran, masyarakat Indonesia bergerak dalam jumlah yang sangat menajubkan sehingga budayawan terkemuka Indonesia, Umar Kayam (1993), pernah mengatakan bahwa mudik Lebaran itu sebagai “menjalani suatu ritus yang tidak jelas apakah itu suatu keajaiban fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya”. Fenomena mudik Lebaran ini nyaris merupakan suatu keajaiban karena agaknya, tidak ada satu ritus lain pun di Indonesia yang dapat menandinginya dalam skala dinamika gerak massa manusia.
Ritus mudik Lebaran ini telah memindahkan massa manusia dalam jutaan orang dari suatu kota ke kota yang lain atau dari suatu kota ke daerah pedesaan (migrasi kota desa)—terutama di Jawa, Bali, dan Sumatera—dalam waktu seminggu atau dua minggu secara ulang-alik. Dalam gerak perpindahan ulang-alik ini, jutaan manusia ambil bagian dalam ritus mudik Lebaran tersebut. Tentu saja jumlah orang yang akan diangkut kendaraan (bus, kereta api, pesawat terbang, dan kapal laut) tidak sebanding sehingga bepergian dalam rangka ritus mudik Lebaran ini merupakan suatu pergulatan atau perjuangan tersendiri.
Menurut perkiraan Departemen Perhubungan, jumlah arus mudik tahun ini (2006) akan mencapai 20,82 juta orang, atau naik 11 persen dibandingkan dengan tahun lalu (2005). Dari jumlah ini, 10 juta orang akan menggunakan angkutan jalan raya, 4,37 juta memanfaatkan kereta api, 2,27 juta memakai angkutan penyeberangan (feri), 1,13 juta dengan kapal laut, dan 2,59 juta akan menumpang pesawat terbang. Tidak mudah mengatur mobilitas orang dalam jumlah demikian banyaknya, terutama pada saat puncak arus mudik Lebaran, yakni pada H-2.
Mudik Lebaran yang telah menjadi sebuah fenomena bagi masyarakat Indonesia ini telah mengerahkan dana yang sangat besar. Orang yang hidup dan bekerja di suatu kota besar akan menggerakkan sejumlah dana yang cukup signifikan ke suatu kota lain—kampung halamannya. Tentu saja, mobilitas finansial ini juga merupakan fenomena tersendiri bagi geliat ekonomi dan roda pembangunan di daerah pedesaan atau di kota lainnya.
Ritus ini telah mengumpulkan keluarga inti yang berserakan di kota-kota besar di Pulau Jawa atau di luar Pulau Jawa, di Bali atau Sumatera, yang tidak sempat reriungan dengan keluarga besar mereka sehingga ritus ini merupakan ritus untuk menegakkan kembali kesetiaan yang terhampar dan menyebar di mana-mana.
Ritus nasional
Ritus mudik Lebaran ini adalah ritus “manajerial nasional” atau proyek nasional yang melibatkan keseriusan pemerintah, lembaga (bisnis) swasta, dan masyarakat itu sendiri. Ritus mudik Lebaran ini melibatkan dana bukan hanya dalam skala keluarga pribadi, melainkan dana negara dan swasta serta fasilitas dan angkatan bersenjata negara. Bukankah ini merupakan ritus nasional karena keterlibatan fasilitas nasional yang harus dikelola?
Di negara industri maju seperti Amerika Serikat (AS) misalnya, yang mempunyai ritus Christmas day dan Thanksgiving day, dimana pada ritus tersebut mereka jadikan sebagai ajang untuk berkumpulnya seluruh keluarga inti mereka. Tetapi, apakah mudik Christmas dan Thanksgiving bagi masyarakat AS sefenomenal atau sekompak “mudik Lebaran” di Indonesia yang melibatkan orang, sumber daya, dan fasilitas negara dalam skala besar?
Dalam peristiwa berikut—Christmas dan Thanksgiving—agaknya presiden dan para menteri di AS tidak terlibat secara langsung, institusi militer mereka tidak dikerahkan untuk mendirikan posko serta disiagakan, perusahaan angkutan umum tidak dikomandoi oleh menteri Perhubungan, atau Kepolisian mereka tidak perlu disiagakan dengan sandi “Operasi Ketupat” atau “Operasi Lilin” seperti di Indonesia. Ritus mudik Christmas dan Thanksgiving merupakan arena berkumpul dalam skala keluarga inti, tidak dalam skala keluaga jaringan.
Apakah ketika negara maju seperti AS tersebut belum menjadi negara industri maju yang terpecah dalam kota-kota dan masih menjadi negara agraris, mudik Christmas dan Thanksgiving mereka seheboh ritus mudik Lebaran? Bisakah ritus mudik Christmas dan Thanksgiving menjadi sebuah fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya? Mungkin bagi masyarakat Indonesia, mudik Lebaran adalah sebuah ritus yang lebih hangat, lebih emosional, dan lebih romantis; meskipun sangat merepotkan. Tetapi, apakah fenomena ritus seperti ini masih dapat dipertahankan dalam waktu yang lama di masa-masa mendatang?
Perubahan total
Bagi kaum agamis yang menitikberatkan pandangannya dari sudut penghayatan agama, berpendapat bahwa kondisi seperti ini dapat dipertahankan apabila akar penghayatan agama dalam masyarakat masih kuat. Para sosiolog mungkin berpendapat sebaliknya, bahwa kondisi tersebut akan berubah bila kita telah berubah menjadi masyarakat kota (metropolitan), dan tidak lagi menjadi masyarakat desa (rural society)—dimana hubungan antara keluarga jaringan dan keluarga inti menjadi semakin renggang.
Bagi kaum determinis budaya, mudik Lebaran adalah fenomena budaya yang paling mendasar dan mentradisi. Apabila kita tidak dapat mempertahakan tradisi ini, maka kita akan kehilangan akar budaya. Bila suatu masyarakat kehilangan akar budayanya, maka masyarakat tersebut akan kehilangan pegangan hidup dan kehilangan segalanya.
Barangkali secara terpisah, setiap sudut pandang tersebut memiliki kekuatan argumentasinya sendiri. Tetapi, ritus mudik Lebaran ini adalah sebuah fenomena ritus yang total. Fenomena ini bukan potret terpisah dari Islam, masyarakat Indonesia, orang Jawa, orang Sumatera, kota atau desa di Indonesia; kereta api atau bus-bus yang penuh sesak, berhimpitan, dan loket-loket penjualan tiket penumpang dengan pemandangan antrian panjang yang membosankan. Kondisi ini mengesankan tiadanya penghargaan atas hakikat manusia dan seolah-olah memperlakukan manusia ibarat binatang ternak (kambing congek) dalam suatu pengangkutan menuju penjagalan atau tempat pemotongan hewan.
Maka, membayangkan suatu perkembangan di masa mendatang dalam konteks fenomena ritus mudik Lebaran, seyogianya membayangkan perubahan ritus tersebut secara total. Membayangkan perubahan tersebut mungkin sebaiknya optimis. Yakni membayangkan suatu tatanan masyarakat berbudaya, dimana toleransi beragama berjalan dengan damai di sebuah negeri yang mengakui pluralisme dan heterogenitas struktural.
Akhirnya, membayangkan suatu perubahan budaya yang mentradisi adalah membayangkan suatu masyarakat yang hidup dalam tatanan yang berkeadilan sosial dan sejahtera. Hidup dalam pemerintahan yang bersih dan jujur, yang senantiasa memperjuangkan kepentingan dan nasib rakyatnya dan tidak mementingkan diri sendiri atau kelompok. Kemudian membayangkan vitalitas budaya bangsanya.
Menteri Perhubungan Selingkuh, Percaya??
Dugaan kasus selingkuh Menteri Perhubungan (Menhub) Freddy Numberi dengan presenter televisi Risty Rustarto berawal dari investigasi yang dilakukan istri Freddy, Ny Annie Numberi.
Annie mulai curiga dengan suaminya saat acara Kementerian Perhubungan RI di Belanda yang mengikutkan Risty yang bersamaan dengan penerbangan perdana Garuda Indonesia ke Negeri Kincir Angin tersebut, Juni lalu. Annie sedianya ikut mendampingi suaminya. Namun, tiket keberangkatan Annie tiba-tiba dibatalkan sendiri oleh sang suami dengan berbagai alasan. Namun menurut sumber, penerbangan Annie dibatalkan karena karena Risty telah lebih dulu didaftar dengan alasan tugas peliputan.
"Melihat gelagat mencurigakan suaminya, Ibu Annie memerintahkan orang dekatnya untuk membentuk tim investigasi mencari tahu soal suaminya. Ibu juga meminta mencari tahu siapa Risty" Freddy dan Risty sudah membantah tudingan tersebut. Freddy yang juga anggota Dewan Pembina DPP Partai Demokrat tak bersedia berkomentar panjang seputar tuduhan selingkuh tersebut. Annie yang awalnya mengakui perselingkuhan suaminya dan melaporkan hal tersebut ke Ibu Negara, Ny Any Yudhoyono, juga sudah tak bersedia lagi berkomentar.
Kucing-kucingan
Annie tak bisa menerima ketika dilarang ikut suami ke Belanda. Wanita ini pun bergegas mengurus tiket pesawat sehingga bisa satu pesawat dengan suaminya. Aksi main kucing-kucingan pun terjadi. Freddy kemudian akhirnya membatalkan keberangkatan Risty. Hasil invenstigasi yang didapat "tim Annie" menunjukkan, wanita yang ikut ke Belanda bernama lengkap Bernedad Risty Rustarto, yang berprofesi sebagai reporter televisi dan bertempat tinggal di daerah Tebet, Jakarta. "Lalu, dilaporkanlah bahwa Risty juga tinggal tidak jauh dengan rumah ibunya," tambah sumber itu.
Kecurigaan Annie numberi makin terang saat mengetahui suaminya juga tak mengajaknya bertugas ke Singapura. Informasi yang didapat tim invetigasi Annie, suaminya akan kembali menemui Risty di satu tempat di Singapura di sela-sela tugas.
Awalnya, Annie berniat memergoki pertemuan keduanya. Namun, rencana itu batal terlaksana karena sang suami yang purnawirawan laksanama TNI AL ini mengetahui jika dirinya dibuntuti.
Terakhir, tim investisgasi Annie Numberi mendapat informasi tambahan bahwa Risty mendapat kucuran dana dari Freddy untuk biaya pengobatan ayah Risty yang tengah sakit jantung.
Serangan
Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Infokom Ruhut Sitompul memastikan tidak ada reshuffle kabinet yang akan dilakukan oleh Presiden SBY terkait berembusnya isu pergantian Freddy akibat kasus selingkuh.
Ruhut menyatakan, para kader Demokrat yang kini sedang duduk di kabinet membantu SBY terus mendapatkan serangan dari berbagai penjuru, termasuk Freddy.
Ruhut menduga isu menhub punya wanita simpanan sengaja dihembuskan oleh tokoh politik yang ingin mengincar posisi menteri.
"Kemarin (isu selingkuh) Menteri ESDM, sekarang Pak Menhub. Memangnya, tidak boleh berkawan dengan perempuan? Tidak benar menhub selingkuh dan tidak benar istrinya sudah mengadu ke Ibu Ani Yudhoyono. Ini grand design. Jadi, saya tegas membantah kalau Pak Menhub Freddy Numberi, selingkuh dan akan di-reshuffle," tegas Ruhut.
Isu tersebut kata Ruhut untuk menurunkan citra Presiden SBY dan mengganggu jalannya pemerintahan sehingga makin tidak dipercayai rakyat. Usaha ini tak akan berpengaruh apapun karena justru tingkat kepercayaan publik kepada Presiden SBY makin tinggi.
"Yang ada, Demokrat makin tinggi popularitasnya. Isu ini hanya dihembuskan oleh badut-badut politik yang mengincar posisi menteri. Bahkan, kemarin, ada partai yang minta interpelasi, sekarang malah ketakutan. Buntut dari isu yang dihembuskan ini dilakukan oleh mereka-mereka yang tidak siap kalah," Ruhut menegaskan.
Annie mulai curiga dengan suaminya saat acara Kementerian Perhubungan RI di Belanda yang mengikutkan Risty yang bersamaan dengan penerbangan perdana Garuda Indonesia ke Negeri Kincir Angin tersebut, Juni lalu. Annie sedianya ikut mendampingi suaminya. Namun, tiket keberangkatan Annie tiba-tiba dibatalkan sendiri oleh sang suami dengan berbagai alasan. Namun menurut sumber, penerbangan Annie dibatalkan karena karena Risty telah lebih dulu didaftar dengan alasan tugas peliputan.
"Melihat gelagat mencurigakan suaminya, Ibu Annie memerintahkan orang dekatnya untuk membentuk tim investigasi mencari tahu soal suaminya. Ibu juga meminta mencari tahu siapa Risty" Freddy dan Risty sudah membantah tudingan tersebut. Freddy yang juga anggota Dewan Pembina DPP Partai Demokrat tak bersedia berkomentar panjang seputar tuduhan selingkuh tersebut. Annie yang awalnya mengakui perselingkuhan suaminya dan melaporkan hal tersebut ke Ibu Negara, Ny Any Yudhoyono, juga sudah tak bersedia lagi berkomentar.
Kucing-kucingan
Annie tak bisa menerima ketika dilarang ikut suami ke Belanda. Wanita ini pun bergegas mengurus tiket pesawat sehingga bisa satu pesawat dengan suaminya. Aksi main kucing-kucingan pun terjadi. Freddy kemudian akhirnya membatalkan keberangkatan Risty. Hasil invenstigasi yang didapat "tim Annie" menunjukkan, wanita yang ikut ke Belanda bernama lengkap Bernedad Risty Rustarto, yang berprofesi sebagai reporter televisi dan bertempat tinggal di daerah Tebet, Jakarta. "Lalu, dilaporkanlah bahwa Risty juga tinggal tidak jauh dengan rumah ibunya," tambah sumber itu.
Kecurigaan Annie numberi makin terang saat mengetahui suaminya juga tak mengajaknya bertugas ke Singapura. Informasi yang didapat tim invetigasi Annie, suaminya akan kembali menemui Risty di satu tempat di Singapura di sela-sela tugas.
Awalnya, Annie berniat memergoki pertemuan keduanya. Namun, rencana itu batal terlaksana karena sang suami yang purnawirawan laksanama TNI AL ini mengetahui jika dirinya dibuntuti.
Terakhir, tim investisgasi Annie Numberi mendapat informasi tambahan bahwa Risty mendapat kucuran dana dari Freddy untuk biaya pengobatan ayah Risty yang tengah sakit jantung.
Serangan
Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Infokom Ruhut Sitompul memastikan tidak ada reshuffle kabinet yang akan dilakukan oleh Presiden SBY terkait berembusnya isu pergantian Freddy akibat kasus selingkuh.
Ruhut menyatakan, para kader Demokrat yang kini sedang duduk di kabinet membantu SBY terus mendapatkan serangan dari berbagai penjuru, termasuk Freddy.
Ruhut menduga isu menhub punya wanita simpanan sengaja dihembuskan oleh tokoh politik yang ingin mengincar posisi menteri.
"Kemarin (isu selingkuh) Menteri ESDM, sekarang Pak Menhub. Memangnya, tidak boleh berkawan dengan perempuan? Tidak benar menhub selingkuh dan tidak benar istrinya sudah mengadu ke Ibu Ani Yudhoyono. Ini grand design. Jadi, saya tegas membantah kalau Pak Menhub Freddy Numberi, selingkuh dan akan di-reshuffle," tegas Ruhut.
Isu tersebut kata Ruhut untuk menurunkan citra Presiden SBY dan mengganggu jalannya pemerintahan sehingga makin tidak dipercayai rakyat. Usaha ini tak akan berpengaruh apapun karena justru tingkat kepercayaan publik kepada Presiden SBY makin tinggi.
"Yang ada, Demokrat makin tinggi popularitasnya. Isu ini hanya dihembuskan oleh badut-badut politik yang mengincar posisi menteri. Bahkan, kemarin, ada partai yang minta interpelasi, sekarang malah ketakutan. Buntut dari isu yang dihembuskan ini dilakukan oleh mereka-mereka yang tidak siap kalah," Ruhut menegaskan.
Sahur On The Road di Makassar Telan Korban Jiwa
Kegiatan membangunkan warga dengan menggunakan musik secara berkelompok, atau populer sahur on the road yang diikuti ribuan massa disetiap sabtu malam selama ramadhan di Makassar, menelan Jiwa.
Suandi (24), mahasiswa universitas swasta di Makassar, meregang nyawa setelah ditikam di Jl Urip Sumoharjo, Minggu (5/9), dini hari. Selain Suandi, adik kandung korban yang bernama Arfandi (21) juga masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Akademis setelah mengalami pendarahan hebat. Ia ditikam sebanyak tiga kali, di antaranya pada bagian dada, perut, dan lengan. Perisriwa terjadi saat itu korban yang juga warga Kompleks Puri Mutiara, Jl Monginsidi Baru, Kecamatan Makassar, sedang mengikuti kegiatan tersebut bersama adiknya dan sejumlah rekannya.
Saat melintas di Jl Urip Sumiharjo, tepatnya di depan lembaga kursus mengumudi Aliah, tiba - tiba kelompok tersebut dilempari dengan batu oleh sekelompok pemuda di wilayah tersebut. Lalu terjadi keributan dan adu mulut antara peserta sahur on the road dengan sejumlah pemuda yang nongkrong di tempat tersebut. Menurut sejumlah saksi, Arfandi mendatangi gerombolan pemuda tersebut. Katanya dia bermaksud dan meminta agar gerombolan itu tidak melempar lagi, jelas Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Makassar, AKP Saiful, saat ditemui di ruang kerjanya, Minggu kemarin.
Namun pemuda-pemuda yang ditegur tersebut malah marah. Arfandi dianiaya. Ia ditikam dibagian perut sebelah kanan. Arfandi yang bersimbuh darah kemudian tersungkur.
Sejumlah rekan Arfandi, termasuk kakak kandungnya, Suandi, kemudian datang memberikan pertolongan. Beberapa rekannya melarikan Arfandi ke RS Akademis.
Sementara Suandi menetap dan berusaha mencari siapa yang menikam adiknya. Naasnya Suandi kemudian mengalami hal yang sama. Ia ditikam sebanyak tiga kali. Suandi akhirnya mengembuskan nafas terakhir saat dilarikan ke rumah sakit.
"Kami sudah mengamankan enam pemuda. Mereka adalah warga Karuwisi. Salah satu diantaranya bernama Abd Rahman sudah mengakui perbuatannya," jelas Saiful
Masih menurut Saiful, untuk sementara ini pihaknya masih melakukan pengembangan untuk mencari sejumlah pelaku lainnya.
Kapolres Datangi TKP
Beberapa saat setelah aparat kepolisian berhasil mengamankan sejumlah pemudam tiba-tiba beredar kabar jika Polsek Makassar akan diserbu oleh sejumlah rekan dan sahabat korban. Akibatnya sejumlah perwira kepolisian seperti Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Fajaruddin, dan Kapolrestabes, Kombes Polisi Muhammad Nur Samsul, segera mendatangi Polsek Makassar.
Seminggu sebelumnya, Kepala Kepolisian Sektor Panakkukang AKP Wahyu Bram, dianiaya oleh sejumlah pemuda dari organisasi Laskar Merah Putih. Wahyu dipukul hingga berkali kali dibagian kepalanya saat berusaha menertibkan gelombang massa yang mengikuti kegiatan sahur on the road. Pasalnya saat itu aksi peserta sahur ini membuat sejumlah ruas jalan di Makassar mengalami kemacetan.
Sirait, salah seorang warga Kota Makassar, meminta tahun depan agar kegiatan serupa yang tidak memiliki tujuan tersebut dibubarkan. Seharusnya pemerintah Kota Makassar dan pihak kepolisian agar tidak lagi mengeluarkan izin untuk kegiatan seperti ini. Ini lebih banyak mudarat-nya dibanding manfaatnya.
Suandi (24), mahasiswa universitas swasta di Makassar, meregang nyawa setelah ditikam di Jl Urip Sumoharjo, Minggu (5/9), dini hari. Selain Suandi, adik kandung korban yang bernama Arfandi (21) juga masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Akademis setelah mengalami pendarahan hebat. Ia ditikam sebanyak tiga kali, di antaranya pada bagian dada, perut, dan lengan. Perisriwa terjadi saat itu korban yang juga warga Kompleks Puri Mutiara, Jl Monginsidi Baru, Kecamatan Makassar, sedang mengikuti kegiatan tersebut bersama adiknya dan sejumlah rekannya.
Saat melintas di Jl Urip Sumiharjo, tepatnya di depan lembaga kursus mengumudi Aliah, tiba - tiba kelompok tersebut dilempari dengan batu oleh sekelompok pemuda di wilayah tersebut. Lalu terjadi keributan dan adu mulut antara peserta sahur on the road dengan sejumlah pemuda yang nongkrong di tempat tersebut. Menurut sejumlah saksi, Arfandi mendatangi gerombolan pemuda tersebut. Katanya dia bermaksud dan meminta agar gerombolan itu tidak melempar lagi, jelas Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Makassar, AKP Saiful, saat ditemui di ruang kerjanya, Minggu kemarin.
Namun pemuda-pemuda yang ditegur tersebut malah marah. Arfandi dianiaya. Ia ditikam dibagian perut sebelah kanan. Arfandi yang bersimbuh darah kemudian tersungkur.
Sejumlah rekan Arfandi, termasuk kakak kandungnya, Suandi, kemudian datang memberikan pertolongan. Beberapa rekannya melarikan Arfandi ke RS Akademis.
Sementara Suandi menetap dan berusaha mencari siapa yang menikam adiknya. Naasnya Suandi kemudian mengalami hal yang sama. Ia ditikam sebanyak tiga kali. Suandi akhirnya mengembuskan nafas terakhir saat dilarikan ke rumah sakit.
"Kami sudah mengamankan enam pemuda. Mereka adalah warga Karuwisi. Salah satu diantaranya bernama Abd Rahman sudah mengakui perbuatannya," jelas Saiful
Masih menurut Saiful, untuk sementara ini pihaknya masih melakukan pengembangan untuk mencari sejumlah pelaku lainnya.
Kapolres Datangi TKP
Beberapa saat setelah aparat kepolisian berhasil mengamankan sejumlah pemudam tiba-tiba beredar kabar jika Polsek Makassar akan diserbu oleh sejumlah rekan dan sahabat korban. Akibatnya sejumlah perwira kepolisian seperti Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Fajaruddin, dan Kapolrestabes, Kombes Polisi Muhammad Nur Samsul, segera mendatangi Polsek Makassar.
Seminggu sebelumnya, Kepala Kepolisian Sektor Panakkukang AKP Wahyu Bram, dianiaya oleh sejumlah pemuda dari organisasi Laskar Merah Putih. Wahyu dipukul hingga berkali kali dibagian kepalanya saat berusaha menertibkan gelombang massa yang mengikuti kegiatan sahur on the road. Pasalnya saat itu aksi peserta sahur ini membuat sejumlah ruas jalan di Makassar mengalami kemacetan.
Sirait, salah seorang warga Kota Makassar, meminta tahun depan agar kegiatan serupa yang tidak memiliki tujuan tersebut dibubarkan. Seharusnya pemerintah Kota Makassar dan pihak kepolisian agar tidak lagi mengeluarkan izin untuk kegiatan seperti ini. Ini lebih banyak mudarat-nya dibanding manfaatnya.
Jumat, 03 September 2010
Progress Proyek Busway Makassar
Angkutan massal berupa busway di Kota Makassar terus digodok. Kamis siang, 2 September, 18 titik halte sekaligus jembatan penyeberangan orang (JPO) sudah dibeberkan Pemkot Makassar. Dari 18 titik untuk koridor I itu, tujuh diantaranya berada di Jalan Perintis Kemerdekaan. Lima lainnya di Jalan Urip Sumiharjo dan enam lainnya di Jalan AP Pettarani.
Rencananya, 18 titik itu akan diserahkan ke pengusaha untuk dikerjakan. Hanya saja, melihat kompensasi yang diberikan pemkot, maka sepanjang jalan di koridor I akan banjir iklan bando. Pasalnya, bagi pengusaha yang mengerjakan satu JPO plus halte, akan space iklan dalam bentuk bando dua buah. 12 pengusaha sudah ikut dalam pertemuan yang dipimpin Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Dalam pertemuan tersebut juga terungkap 18 titik JPO di koridor I, Daya hingga Telkom Pettarani.
Halte 1 akan ditempatkan di Terminal Regional Daya. Menyusul kemudian halte di jalan masuk UKIP Jalan Perintis Kemerdekaan, depan kompleks Nusa Tamalanrea Indah, Tamalanrea atau BTP, Pintu I Unhas, STMIK Dipanegara, serta halte Alfa/Carrefour.
Di Jalan Urip Sumiharjo, halte ditempatkan di Tello, Taman Makam Pahlawan, kantor Gubernur, UMI, serta Universitas 45. Sedangkan di AP Pettarani, halte akan diposisikan di Pasar Tamamaung Pettarani, Abdullah Dg Sirua, depan Ramayana, Hertasning, UNM, serta Telkom. Sedangkan 12 perusahaan yang berminat menggarap JPO dan halte. Ilham mengatakan, pelibatan pengusaha ini sangat penting sebab biaya pembuatan JPO sangat besar. Sementara mereka terkendala dana. Belum lagi operasional angkutan massal ini sudah harus dilaksanakan 2011 mendatang.
"Membangun jembatan penyeberangan orang atau JPO biayanya besar. Bentangan 40 meter itu butuh Rp 3 miliar lebih. Nah, pemkot dalam rangka membangun angkutan massal di 2011 paling tidak membutuhkan Rp 50 miliar untuk JPO di koridor I saja. Itu beban besar," kata Ilham. Makanya, karena ada sisi ekonomis, JPO ini lalu ditawarkan ke pengusaha. "JPO memiliki sisi ekonomis dari sisi iklan. Makanya kita ajak pengusaha kerja sama.
Kita bisa beri bonus dua pemasangan bando. Satu di jembatan, satu di luar. Jadi kita tidak perlu keluarkan uang. Hanya juga ada pembebasan pajak sekian tahun. Intinya, pemkot dalam pembangunan ini tidak perlu keluarkan Rp 50 miliar untuk satu koridor," kata Ilham.
Pengiritan dana ini sangat penting menurut Ilham. Sebab mereka juga mesti menyiapkan bus. "Kita juga mau pengadaan bus. Juga pasti akan diberikan subsidi di tahap awal," kata Ilham seraya menjelaskan bahwa tarif sistemnya tidak berdasar penumpang tapi jumlah jarak.
Terkait 12 perusahaan yang sudah ikut pertemuan, Ilham mengatakan mereka datang untuk diberi penjelasan. 12 pengusahan ini belum ditetapkan. Mereka baru menyatakan siap berpartisipasi dan pemkot menjelaskan ada 18 titik JPO yang disiapkan, Namun sebagian titik juga sudah ada yang punya misalnya di depan Ramayana dan satu lainnya di Jalan AP Pettarani yang kontraknya belum habis.
"Ada juga yang cuma mau pasang bando tapi kita tolak. Dia harus membangun jembatan dan kita beri kesempatan pasang iklan dan tambahan bando satu lagi. Tapi itu aset pemda. Kita butuhkan JPO dan mereka membangun," jelasnya.
Rencananya, 18 titik itu akan diserahkan ke pengusaha untuk dikerjakan. Hanya saja, melihat kompensasi yang diberikan pemkot, maka sepanjang jalan di koridor I akan banjir iklan bando. Pasalnya, bagi pengusaha yang mengerjakan satu JPO plus halte, akan space iklan dalam bentuk bando dua buah. 12 pengusaha sudah ikut dalam pertemuan yang dipimpin Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Dalam pertemuan tersebut juga terungkap 18 titik JPO di koridor I, Daya hingga Telkom Pettarani.
Halte 1 akan ditempatkan di Terminal Regional Daya. Menyusul kemudian halte di jalan masuk UKIP Jalan Perintis Kemerdekaan, depan kompleks Nusa Tamalanrea Indah, Tamalanrea atau BTP, Pintu I Unhas, STMIK Dipanegara, serta halte Alfa/Carrefour.
Di Jalan Urip Sumiharjo, halte ditempatkan di Tello, Taman Makam Pahlawan, kantor Gubernur, UMI, serta Universitas 45. Sedangkan di AP Pettarani, halte akan diposisikan di Pasar Tamamaung Pettarani, Abdullah Dg Sirua, depan Ramayana, Hertasning, UNM, serta Telkom. Sedangkan 12 perusahaan yang berminat menggarap JPO dan halte. Ilham mengatakan, pelibatan pengusaha ini sangat penting sebab biaya pembuatan JPO sangat besar. Sementara mereka terkendala dana. Belum lagi operasional angkutan massal ini sudah harus dilaksanakan 2011 mendatang.
"Membangun jembatan penyeberangan orang atau JPO biayanya besar. Bentangan 40 meter itu butuh Rp 3 miliar lebih. Nah, pemkot dalam rangka membangun angkutan massal di 2011 paling tidak membutuhkan Rp 50 miliar untuk JPO di koridor I saja. Itu beban besar," kata Ilham. Makanya, karena ada sisi ekonomis, JPO ini lalu ditawarkan ke pengusaha. "JPO memiliki sisi ekonomis dari sisi iklan. Makanya kita ajak pengusaha kerja sama.
Kita bisa beri bonus dua pemasangan bando. Satu di jembatan, satu di luar. Jadi kita tidak perlu keluarkan uang. Hanya juga ada pembebasan pajak sekian tahun. Intinya, pemkot dalam pembangunan ini tidak perlu keluarkan Rp 50 miliar untuk satu koridor," kata Ilham.
Pengiritan dana ini sangat penting menurut Ilham. Sebab mereka juga mesti menyiapkan bus. "Kita juga mau pengadaan bus. Juga pasti akan diberikan subsidi di tahap awal," kata Ilham seraya menjelaskan bahwa tarif sistemnya tidak berdasar penumpang tapi jumlah jarak.
Terkait 12 perusahaan yang sudah ikut pertemuan, Ilham mengatakan mereka datang untuk diberi penjelasan. 12 pengusahan ini belum ditetapkan. Mereka baru menyatakan siap berpartisipasi dan pemkot menjelaskan ada 18 titik JPO yang disiapkan, Namun sebagian titik juga sudah ada yang punya misalnya di depan Ramayana dan satu lainnya di Jalan AP Pettarani yang kontraknya belum habis.
"Ada juga yang cuma mau pasang bando tapi kita tolak. Dia harus membangun jembatan dan kita beri kesempatan pasang iklan dan tambahan bando satu lagi. Tapi itu aset pemda. Kita butuhkan JPO dan mereka membangun," jelasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)