Selasa, 08 November 2011

Napoleon Bonaparte Keturunan Makassar??

Ini bukan bagian sas sus, kabar burung, atau cerita mulut kemulut tanpa bukti. Tapi, cerita ini dipercaya oleh banyak orang-orang di Makassar.

Tapi, kepercayaan terhadap sas-sus tersebut makin menguat setelah membaca buku buah karya Nasarrudin Koro yang berjudul “Ayam Jantan Tanah Daeng”. Saya mulai berharap cerita itu benar adanya. Bangga juga sih, sebagai orang Indonesia, tentu cerita-cerita hebat para penduduk Nusantara akan turut membanggakan kita yang hidup di Indonesia ini.

Alkisah, I Yandulu Daeng Mangalle, salah satu putra atau pengeran keturunan Sultan Hasannudin, setelah dikalahkan Belanda pergi ke Siam dan meminta suaka kepada Raja Siam (sekarang Thailand). Permintaan suaka tersebut dikabulkan oleh Raja Siam yakni Raja Narai. Bukan hanya diberi suaka, pangeran Daeng Mangalle beserta para pengikutnya ini diberikan tempat di ibukota raja yang kelak dikenal sebagai Makkasan. Baru-baru ini, kisa Daeng Mangalle ditulis di harian kompas beberapa hari yang lalu.

Tak lama kemudian, Daeng Mangalle bersama adik raja terlibat rencana pemberontakan untuk menjatuhkan tahta Raja Narai. Sayang rencana ini keburu bocor, dan rencana pemberontakan pun dibatalkan. Meskipun demikian, Daeng Mangalle dan Adik Raja Narai diampuni diampuni oleh sang raja.

Rupanya, Daeng Mangalle tak menyerah begitusaja, masih berkobar dalam dirinya niat untuk melakukan pemberontakan. Ia kembali terlibat persekongkolan dengan dua pangeran Champa yang kebetulan juga tengah mendapatkan suaka dari Raja Narai di negeri Siam.

Mereka bersekongkol untuk kembali menjatuhkan Raja Narai dan kemudian akan menyerahkan tahta kepada sang Adik Raja Narai. Sebab, para pangeran penerima suaka ini menyadari jika tahta kerajaaan dipegang kepada adik raja, maka sesungguhnya secara defacto merekalah yang menguasai kerajaan. Sayang, adik raja ini entah tidak berminat dan membocorkan rencana ini kepada Raja.

Mendengar rencana kudeta ini, kerajaan sudah siap dengan pasukannya. Sehingga, sebagian besar pendukung kudeta kembali meminta ampun menyatakan setia kepada Raja.

Daeng Mangalle tidak meminta ampun, sehingga ia dan ratusan pengikutnya dihancurkan oleh pasukan Raja. Meskipun tumpas, jumlah mereka jauh lebih sedikit ternyata dapat membuat repot ribuan pasukan Siam. Akhirnya, sikap gagah berani yang mereka perlihatkan membuat tentara kerajaan dan tentara asing yang disewa oleh Kerajaan Siam angkat topi.

Dua putra I Yandullu Daeng Mangalle diampuni Raja Siam dan dibawa oleh Kapten tentara Perancis menghadap raja dan menetap di Perancis. Kedua putra Daeng Mangalle yakni Daeng Tulolo dan Daeng Ruru kemudian dikirim ke sekolah akademi tentara di perancis. Daeng Ruru kemudian berganti nama menjadi Louis Pierre de Macassart, sementara Daeng Tulolo menjadi Louis Dauphin. Mereka dibaptis tanggal 7 Maret 1687 oleh uskup kota Le Mans dengan ayah baptis Raja Louis.

Percaya gak, mereka inilah kakek moyangnya si Napoleon. Dan, itulah sebabnya, Napoleon itu kecil dan tidak tinggi. Juga, menurut buku ini kedua cucu Sultan Hasannudin itulah yang mengenalkan Perancis dengan binatang kesayangan ayam jago. Sama persis dengan ayam jagonya Sultan Hasannudin.

Ah, anda baca sendirilah buku Ayam Jantan Tanah Daeng karya Nasarrudin Koro.

Senin, 07 November 2011

Kota Misterius "Wentira" di Palu

Konon hanya orang yang mampu melihat hal-hal gaib-lah yang bisa melihat kalau ternyata ada sebuah jembatan mewah yang merupakan pintu gerbang untuk masuk ke Kerajaan mistis Wentira.
Untuk masuk ke Wentira, tidak sembarangan, hanya yang dikehendaki dan diizinkan oleh penghuni Wentira yang boleh masuk. Nah paman teman saya ini termasuk orang yang diizinkan, karena dia melakukan ritual-ritual ditemani oleh orang2 pintar di sekitar daerah itu.

Sementara kalau orang yang dikehendaki biasanya orang yang katanya kalau lewat tidak permisi (kulo nowon) dulu, lewat dengan sombongnya, dan biasanya yang seperti ini tidak pernah lagi kembali keluar. Pernah ada kejadian mobil melintas di tengah jembatan tetapi sebelum sampai diujung jembatan sudah keburu menghilang, kata penduduk skitar masuk kedalam Wentira.
Menurut cerita paman teman saya itu alam di dalam Wentira didominasi warna kuning keemasan dimana penghuninya hidup sangat sejahtera dan tidak ada yang miskin, kehidupan disana laiknya kehidupan normal, semua ada baik gedung, kendaraan dll tapi semuanya serba mewah.
Menurut cerita orang2 di sekitar pegunungan Sulawesi Barat yang katanya juga masuk kedalam area Wentira, kadang2 ada penghuni Wentira yang keluar untuk berbelanja di pasar2 tradisional, ciri-cirinya tidak ada garis pemisah diatas tengah bibir seperti layaknya manusia normal, kalau mereka muncul tetap dilayani tetapi tidak ada yang berani mengganggu.
Mungkin nama ‘Wentira’ di kota-kota lain dianggap biasa, namun berbeda hal nya apabila nama ini di dengar oleh masyarakat yang berada di Pulau Sulawesi Tengah.
Wentira merupakan lokasi yang berada di Kebun Kopi (lintas Trans-Sulawesi). Wentira sendiri menurut beberapa kesaksian orang-orang yang mengaku pernah ke sana mengatakan kalau Wentira merupakan suatu kota yang sangat teramat indah dengan ciri khas warna kuning.
Namun yang sebenarnya sesuai dengan yang saya lihat langsung, Wentira sebenarnya hanya daerah berhutan lebat, jauh dari mana-mana, di antara Palu-Parigi, di lintas jalan yang disebut orang sebagai Trans-Sulawesi. Pohon-pohon raksasa tumbuh di pinggir jalan, dengan bentuk batang besar, putih, cenderung lurus, menjulang sangat tinggi seakan ingin menggapai langit. Batang pohon itu begitu lurus, dan baru di bagian sangat atas di ketinggian, tumbuh dahan dan cabangnya dengan daun-daun yang menjadi sangat kecil-kecil kalau dilihat dari bawah.
Konon, tak ada seorang pun berani menebang pohon seperti itu.
Sebenarnya banyak sekali kesaksian-kesaksian dari orang-orant yang mengaku pernah jalan-jalan ke Wentira, misalnya salah satu contoh yang paling terbaru yang saya dengar adalah ada seseorang yang memesan sebuah mobil BMW i series warna kuning dengan memberikan alamat “WENTIRA”.
Dan hebohnya, yang memesan itu adalah “seorang pria tua” tanpa ada keanehan sama sekali menurut sales promotion perusahaan tersebut.
lalu setelah di mobil tersebut di antar, ternyata tempat yang mereka datangi hanyalah hutan lebat.
Banyak juga warga di sekitar Wentira mengatakan, apabila ada kendaraan lewat daerah tersebut harus membunyikan klakson 3X agar perjalanan mereka lancar sampai tujuan.
Walaupun cerita ini seperti tak mungkin, namun saya sarankan agar kalian jalan-jalan untuk melihat langsung lokasi dari Wentira ini & kalian akan merasakan sendiri kengeriannya.

Cerita mengenai keberadaa komunitas “jin” Uwentira beredar cukup luas di kalangan masyarakat Palu. Mendengar kata Uwentira atau Wentira, mereka merujuk pada cerita, kisah maupun mitos soal keberadaan komunitas yang tak kasat mata ini. Hanya sedikit orang yang bisa melihatnya bahkan bisa berkomunikasi dengan warga Uwentira yang sering muncul bahkan di pasar-pasar di Palu dan sekitarnya. Kawasan Wentira ini oleh kalangan paranormal di Indonesia, memang dikenal sebagai salah satu wilayah paling angker di seluruh pelosok nusantara
Demi menjawab rasa penasaran banyak pengunjung, saya ingin membagikan cerita 3 teman saya berikut ini. Kebetulan mereka saya kenal karena bertemu langsung.
1. Cerita Sulwan Dase
To Wentira (ditulis Uwentira), demikian masyarakat Palu menyebut komunitas ini. Terletak disebuah kawasan yang bernama Wentira. Orang Toraja kuno menyebutnya To Wae Ntira. Menurut beberapa kawan menceritakan pengalaman mereka saat bertemu dgn orang2 To Wentira. Katanya, kita seolah-olah terombang-ambing diantara dunia nyata dan dunia maya, rasionalitas, dan supranatural. Bingung bercampur takjub. Antara percaya dan tidak percaya.
Menurut mereka yang pernah ke “Kota Wentira”, kota itu sangat modern, dgn peradabana yang sangat luar biasa. Semua jenis kendaraan ada disana (termasuk MRT). Masyarakatnya makmur dan serba berada. Yang menjadi persoalan adalah, pintu masuk ke kota tsb. Hampir tak satu orang pun bisa menjelaskn secara pasti lokasi jalan masuk. beberapa menjelaskan bahwa pintu masuk degan kendaraan roda dua dan mobil adalah melalui sebuah jembatan beratap. Jembatan ini sebenarnya menjembatani sebuah sungai yang membentang. Secara logika, bila kita masuk ke ujung satu pastilah bisa tiba di ujung satunya. Namun keanehan terjadi. Kadang2 ketika sebuah mobil memasuki ujung jembatan, mobil itu tdk pernah lagi keluar di ujung satunya. Beberapa hari kemudian, biarlah pengendara mobil itu bercerita bahwa mereka baru saja pulang dari Kota Wentira, di mana segala sesuatunya ada disana.
Wow…persoalannya, di bagian mana dari jembatan itu yg menjadi pintu masuknya? Sebab mobil tsb ketika memasuki jembatan, menghilang begitu saja dari pandangan mata….Sewaktu saya bertanya kepada beberap kawan yg pernah kesana, mengatakan, tempat itu sangat luar biasa. Namun tdk ada lagi yg berani kesana…
2. Cerita LES Kala’tiku
Saya ingat suatu kejadian aneh yang saya dengar dari bapak saya sendiri. Waktu itu Bapak mempunyai proyek di daerah lokasi wentira. niatnya sih jalan2 di jembatan itu tapi pas memasuki mulut jembatan menurut teman proyeknya mobil truk yang pakai teman saya dan supirnya tiba2 hilang seakan2 di telan oleh jembatan itu. terus terang ini tidak masuk di akal tapi kenyataan terjadi. tapi sayang teman kantor sya ini tidak mau menceritakannya pak jadi jujur saya juga jadi penasaran dengan cerita teman saya yang katanya kota itu luar biasa modern. yah antara kenyataan dan fiksi..
3. Kesaksian PS Patandung
To wentira menurut orang Kaili (Suku asli di Sulteng) ada di sekitar kebun kopi ( Jl poros tawaeli – Toboli ) di jalan poros tersebut ada satu jembatan yang masih ada sampai sekarang. Konon katanya, masih buatan Belanda. Di sampingnya ada satu jembatan jembatan beton yang digunakan konon tahun 1980-an setiap kendaraan yg lewat wajib memberi kode lampu atau setidaknya klakson sebagai tanda permisi mau lewat.
Saya sudah beberapa kali melewati kawasan Kebun Kopi yang disebut-sebut dua teman terakhir ini. Kawasan ini dikenal cukup berat, menanjak dengan kemiringan tajam. Belum lagi sering terjadi longsong. Jembatan itu masih ada, dan bahkan sekarang ada sebuah tugu berwarna kuning bertuliskan NGAPA UWENTIRA. Ngapa dalam bahasa Kaili berarti Kampung,Negeri atau Kota. Uwentira berarti tidak kasat mata. Jadi NGAPA UWENTIA berarti Kota UWENTIRA.

Pengakuan !!

SESEORANG yang mengaku baru pulang dari tanah paling suci tiba-tiba muncul di kantor Andy. Dengan tutur kata memikat tiada tara yang membuat semua lawan bicara kehilangan kata-kata, ia meminta Andy untuk mengunjungi Wentira, daerah yang dipastikan bakal membuatnya jatuh cinta.
Anda boleh percaya atau tidak, tetapi hampir semua orang di wilayah Palu, Parigi, termasuk kabupaten baru bernama Parimot (Parigi Motong), tempat dalam lintas daerah-daerah tersebut Wentira berada, percaya bahwa kisah ini benar-benar terjadi. Mereka percaya, Wentira, daerah paling wingit di wilayah setempat -sebagaimana beberapa kali pernah terjadi- lagi-lagi mengirimkan makhluknya muncul dari alam maya, dan kali ini yang disatroni rupanya Andy, seorang arsitek, urban designer atau perencana kota yang dikenal dengan proyek-proyeknya yang modern.
Wentira sebenarnya hanya daerah berhutan lebat, jauh dari mana-mana, di antara Palu-Parigi, di lintas jalan yang disebut orang sebagai Trans-Sulawesi. Pohon-pohon raksasa tumbuh di pinggir jalan, dengan bentuk batang besar, putih, cenderung lurus, menjulang sangat tinggi seakan ingin menggapai langit. Batang pohon itu begitu lurus, dan baru di bagian sangat atas di ketinggian, tumbuh dahan dan cabangnya dengan daun-daun yang menjadi sangat kecil-kecil kalau dilihat dari bawah. Konon, tak ada seorang pun berani menebang pohon seperti itu.
Di antara kesenyapan hutan, rimbunnya semak-semak di pinggir jalan, terdapat jembatan tak seberapa besar. Persis jembatan berikut jurang dan ngarai tajam di sekitar situlah dipercaya orang sebagai "pusat Wentira", negeri jin dan para lelembut, yang lewat berbagai cerita, dikatakan penghuninya sering keluar dari dunia mayanya, masuk dan menyatu dalam kehidupan manusia sehari-hari.
"Wentira..." Orang terkesiap ketika Andy menunjukkan kartu nama, yang memang tertulis "Wentira" sebagai alamat si empunya nama. Semua orang yang mengenal Wentira termangu-mangu, merinding mendengar cerita Andy yang begitu yakin, bahwa dia bukan saja berhubungan langsung dengan orang yang mengaku dari Wentira, tetapi beberapa kali ia mengunjung Wentira, tinggal di sana beberapa waktu, bahkan telah menyelesaikan proyek yang tiada terkira artinya baginya.
"Tahukah Mas Andy apa itu Wentira?"
"Ya, saya tidak mengira bahwa di Palu ada daerah seramai dan semodern itu," kata Andy.
Mati, Mas Andy telah percaya pada eksistensi dunia maya sebagai benar-benar ada, tangible seperti kartu nama yang dipegangnya. Lanjut Andy, seperti mimpi, "Tak ada dalam bayangan saya, bahwa saya bakal bisa menjumpai kota abad 21 seperti Paris-La Defense di situ. Taman kotanya mengingatkan saya pada Parc Culturel Urbain de la Villette, dengan monumen berupa tangga merah melingkar yang oleh orang sana disebut Folies. Sejarah masa depan arsitektur seakan telah dimulai dari situ, dalam bentuk arsitektur virtual, arsitektur maya, sesuatu yang hanya dimungkinkan perencanaannya setelah kemajuan proses komputer..."
Pendengarnya takjub, sekaligus makin tidak paham. Mereka geleng-geleng kepala. "Anak ini benar-benar telah dibawa jin ke Wentira..."
***
BEGITULAH, konon orang yang mengaku baru pulang dari tanah paling suci tadi, meminta Andy untuk datang ke Wentira, untuk membangunkan rumah baru baginya.
"Saya tidak pernah membangun rumah tinggal pribadi Pak...," kata Andy sopan, menolak secara halus tawaran orang itu.
"Tapi Pak Andy arsitek?"
"Ya, tetapi kegiatan saya lebih banyak pada perencanaan kota," ujarnya. Ia ingin menerangkan lebih lanjut, bahwa dia adalah urban designer, dengan proyek-proyek begitu luas lingkupnya, dari penataan kembali ruang kumuh bagi masyarakat miskin sampai pembangunan kota modern untuk lokasi perkantoran dan bangunan-bangunan komersial, tetapi ia pikir itu semua kurang ada gunanya.
Yang diajaknya bicara, tersenyum arif. "Kalau begitu tidak apa-apa. Pak Andy tidak perlu merasa punya beban atas permintaan saya. Saya selalu merasa, bisa berkenalan dengan seseorang saja sudah suatu berkah, melebihi apa saja, apalagi hanya dibanding rumah. Oleh karenanya saya akan mengundang Pak Andy ke Wentira saja. Nanti seseorang akan menyediakan tiket. Pak Andy bisa berangkat kapan saja, pokoknya tinggal beri tahu kami, dan nanti kami akan menjemput di airport. Belum pernah kan, ke Wentira? Anggaplah ini hanya ajakan berpiknik dan berteman, tidak ada yang lain...," ucap tamunya santun.
Andy yang halus perasaannya, tidak berkutik. Dia tarmangu-mangu memandang tamunya yang datang seperti angin, dan berlalu sebagai angin pula. Langkahnya begitu ringan seperti rase terbang. Bau tubuh yang ditinggalkannya adalah wangi hutan ketika dunia -dalam bahasa Andy sendiri-masih terjaga oleh matriks pusat-pusat kosmos yang sakral. Ia teringat aurora alam yang membesarkan dirinya, berupa candi-candi yang sebenarnya merupakan Mehru -pusat kosmos yang merupakan sumbu bumi yang menjulang ke atas menggapai surga tertinggi. Pesan hidup seperti itulah yang telah membawanya menjadi seorang arsitek, yang urusannya kemudian bukan membangun rumah, melainkan ingin membawa manusia menuju ke kemuliannya lewat lingkungan yang terjaga keseimbangan kosmosnya.
Mendadak dia menangkap suatu hawa yang seakan menyedotnya untuk segera hadir di Wentira. Entah nyata atau tidak ini semua, ia sendiri merasa datang ke Wentira dengan naik pesawat dengan tiket yang sudah disediakan, dan di airport sudah tersedia mobil bagus barikut sopir menjemputnya.
Pengalaman berikutnya dirasakannya sebagai mimpi. Ia nyaris tak mempercayai penglihatannya, bahwa Wentira adalah daerah ultra modern yang padanannya hanya bisa dia dapat pada referensi baik ketika ia sekolah mengenai sejarah urban dan desain di Wisconsin, Amerika, ataupun pada perencanaan urban dan regional di Glasgow, Inggris.
Dia melihat piramid kaca dengan konstruksi besi yang dibangun dengan berani dan manis, sebagai bagian pintu masuk dari bangunan besar yang kata si sopir, tempat menyimpan barang-barang berharga, dari patung Medusa karya Gericault, sampai ke maket sebuah museum di Berlin karya Daniel Libeskind yang merupakan tonggak bangunan paska-modernisme. Seketika Andy merasa kecil, dan menyesali belaka atas impresi yang hendak ia tunjukkan pada tamu yang telah mengundangnya ke Wentira ini.
"Siapa sebenarnya dia? Dan daerah apa pula ini?" kata Andy dalam hati.
Tempat tinggal orang yang mengundangnya itu sendiri berupa bangunan dengan facade boleh dikata terdiri hanya dari tiga elemen: kaca, besi, dan sesuatu yang serba putih, entah apa materinya, ia kurang mengenalinya. Sepintas ia teringat Georges Pompidou Centre di Paris. "Semua bentuk ini mengambil primary form. Ia mengonsepkan bangunan ini dalam era modernisme," ucap Andy, lagi-lagi hanya dalam hati. Ia mengamati segalanya dengan gumun. Bisiknya, "Benar, primary form. Yang ada hanya bentuk kotak-kotak seperti lukisan Picasso, serta warna-warna dasar seperti dipakai Mondrian."
Pikirannya masih melayang ke mana-mana, ketika dia dikejutkan oleh sambutan tuan rumah yang luar biasa hangat.
"Sampai juga kan, di sini. Jangan merasa sebagai tamu, dan jangan sungkan untuk menunjuk atau melakukan apa saja yang Pak Andy suka," kata si tuan rumah. Di rumah yang seperti "miniatur Georges Pompidou Centre' ini rupanya tinggal keluarga besar. Tuan rumah mengenalkan istri, anak, saudara istri, keponakan, dan lain-lain yang sulit diingat Andy satu-persatu. Yang jelas, wajah mereka tampan-tampan dan cantik-cantik.
Ia dijamu berbagai makanan, yang katanya merupakan makanan khas setempat. Ada sup sumsum sapi yang bernama kaledo, minuman yang sangat mengesankan rasanya, disajikan dalam keadaan hangat, bernama saraba, dan lain-lain. Belum lagi lobsternya, yang terasa tak ada duanya. Benar-benar santapan raja. Berangsur-angsur Andy merasa betah. Ada proses sedemikian rupa yang tidak dia pahami, dimana dia kemudian merasa seperti di rumah sendiri.
Pagi hari, seiring sarapan, kepadanya disajikan juice buah-buahan seperti wortel, jeruk, yang kesegaran buah-buahannya lagi-lagi mengingatkannya ketika dia bersekolah di Amerika dan Inggris. Akhirnya, dia tak bertanya-tanya lagi, di mana dia ini sebenarnya. Ia hanya tahu, ini Wentira -sebuah daerah ultra modern yang untuk sebagian orang barangkali hanya dianggap mimpi. Dia menerima Wentira dengan segenap jiwa, menerimanya sebagaimana adanya...
***
DUNIA wadag manusia dan dunia maya entah alam mana, gagasan paling scientific dan mimpi, bertaut-taut menjadi satu. Para staf dan pegawainya di kantor agak heran setiap kali "bos"-nya itu memberi briefing mengenai proyek di Wentira. Tidak seperti pada proyek-proyek yang lain, setiap kali bicara mengenai Wentira, si bos berubah menjadi pendongeng, dengan dongeng yang memukau. Sampai-sampai, staf andalannya, arsitek wanita paling cantik sekantor, mengaku terbawa mimpi tentang Wentira.
"Pak, saya ingin ikut ke Wentira, menginap di sana," kata staf tersebut.
"Hush...," Andy menukas.
Sekian waktu kemudian proyek tersebut terselesaikan. Ketika ia menyerahkan bangunan yang telah selesai kepada pemesannya, sebenarnya Andy masih ditahan untuk tidak meninggalkan Wentira. Diam-diam, keluarga besar itu ingin menjodohkan Andy dengan putri setempat, salah satu kerabat mereka, yang belum menikah.
"Dia cantik, seperti bintang film Maggie Cheung," katanya. "Namun saya tidak tertarik, karena wanita semacam itu terkesan galak di mata saya. Suka menggampar, menyiram air ke muka orang, bahkan seperti dalam film, diceritakan dia hendak membunuh raja. Saya tidak suka wanita yang galak. Saya mencari wanita yang romantis...," kenang Andy sambil tertawa.
"Untung Mas Andy tidak mau dijodohkan di situ. Kalau mau, Mas Andy tidak akan pernah kembali ke dunia nyata," komentar orang yang mendengar ceritanya.
Semua orang menganggap, dunia yang diceritakan Andy adalah dunia gaib, dunia alam maya yang tidak ada di dunia nyata. Sebaliknya, Andy percaya sepenuhnya, bahwa Wentira adalah dunia nyata, bahkan sampai "Maggie Cheung" tadi pun benar-benar ada.

Perahu Phinisi Raksasa Diluncurkan di Tanah Beru, Bulukumba

Warga Tanaberu, Kabupaten Bulukumba, akan mencatat sejarah baru dalam pembuatan perahu Phinisi. Besok malam, pengrajin perahu Phinisi di daerah itu akan meluncurkan sebuah perahu phinisi dengan ukuran yang jauh lebih besar dari biasanya.

Kali ini, perahu yang akan diluncurkan berukuran panjang 50 meter dan lebar sembilan meter. Ini adalah perahu dengan ukuran terpanjang dan terlebar yang pernah dibuat oleh masyarakat Tanaberu, Buluumba, selama ini.

Kepala Dinas Pariwisata Bulukumba, Andi Nasaruddin Gau, mengatakan, perahu yang dibuat Muslim Baso ini, rencananya akan diekspor ke Polandia. Seorang pengusaha di negeri tersebut telah memesan perahu Phinisi dengan ukuran seperti itu.

Para pengrajin perahu Phinisi di Bulukumba telah beberapa kali memasarkan perahu phinisi ke luar negeri. Negara yang menjadi pasar mereka adalah Singapura, Papua Nugini, Polandia, Australia, Perancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya.

Nasaruddin menjelaskan, kendala utama yang dihadapi para pengrajin saat ini adalah masalah bahan baku pembuatan perahu. Bahan baku kayu selama ini didatangkan dari Kalimantan. Kebijakan pemerintah yang membatasi pengadaan kayu dari Kalimantan membuat banyak pengrajin perahu yang pindah ke Kalimantan, Papua, dan Kendari, Sulawesi Tenggara.

"Kalau mereka pindah, jelas yang dirugikan adalah Bulukumba sendiri karena kehilangan orang-orang potensial," kata Nasaruddin. Karena itu,Nasaruddin berharap Pemprov Sulsel turun tangan mencari solusi agar pengrajin Phinisi di Bulukumba tidak punah.

Rabu, 02 November 2011

Usir Freeport dari Tanah Papua!

Massa dari Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Rabu (2/11/2011) sore ini, akan melakukan aksi di depan kantor PT Freeport. Aksi yang dilakukan, meminta agar Freeport hengkang dari Indonesia.
Ketua DPN Repdem, Masinton Pasaribu menjelaskan, sejarah kehadiran PT Freeport di Indonesia adalah sejarah pengukuhan kembali beroperasinya mesin-mesin penjajahan baru merampok kekayaan alam Tanah Air Indonesia. Dimulai dengan penggulingan presiden Soekarno yang anti kolonialisme dan imperialisme oleh kekuatan kapitalisme internasional melalui Jenderal Soeharto.
"Konsesi pertama yang diberikan oleh Soeharto kepada tuan besarnya adalah diterbitkannya UU Penanaman Modal Asing Nomor 1/1967, dan UU Pertambangan Nomor 11/1967 yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didiktekan David Rockefeller (penasihat CIA), disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto adalah Freeport. Inilah pertama kali kontrak pertambangan yang baru dibuat," tutur Masinton.
Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, ujar Masinton, maka sejak Soeharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah banyak merugikan Indonesia.Freeport memperoleh kesempatan untuk mendulang mineral di Papua melalui tambang Ertsberg sesuai Kontrak Karya Generasi I (KK-I) yang ditandatangani pada tahun 1967.
"Freeport adalah perusahaan asing pertama yang mendapat manfaat dari KK I. Dalam perjalanannya, Freeport telah berkembang menjadi salah satu raksasa dalam industri pertambangan dunia, dari perusahaan yang relatif kecil. Hal ini sebagian besar berasal dari keuntungan yang spektakuler sekaligus bermasalah yang diperoleh dari operasi pertambangan tembaga, emas, dan perak di Irian Jaya, Papua," tuturnya.
Aktivitas pertambangan PT Freeport McMoran Indonesia (Freeport) di Papua yang dimulai sejak tahun 1967 hingga saat ini telah berlangsung selama 44 tahun. Selama ini, imbuh Masinton, kegiatan bisnis dan ekonomi Freeport di Papua, telah mencetak keuntungan finansial yang sangat besar bagi perusahaan asing tersebut, namun belum memberikan manfaat optimal, tidak adil, tidak transparan dan bermasalahnya pengelolaan sumberdaya mineral itu bagi Indonesia, masyarakat Papua, dan masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan.
"Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Pendapatan utama Freeport adalah dari operasi tambangnya di Indonesia. Bahkan penghasilan Freeport mencapai Rp 70 triliun setiap tahunnya, angka yang sangat fantastis," Masinton menegaskan.

Selasa, 01 November 2011

Camila Vallejo, Mahasiswi Cantik Pimpin Jutaan Demonstran Chile

Muda, cantik, berani. Tiga kata itulah yang tampaknya pantas untuk menggambarkan Camila Vallejo, gadis berusia 23 tahun anggota partai komunis Chile yang juga mengetuai ikatan mahasiswa Universidad de Chile.

Sudah enam bulan ini Vallejo memimpin jutaan mahasiswa dalam sebuah protes terbesar sejak 20 tahun terakhir di Chile, menuntut Presiden Sebastián Pinera yang berhaluan konservatif mundur.
"Selama bertahun-tahun, anak-anak muda Chile telah dicekoki pemerintahan neo liberal yang lebih menekankan konsumerisme dan kepemilikan pribadi. Tak ada empati untuk orang lain," kata dia.

"Pergerakan ini membantu kami para pemuda Chile mencapai pemerintahan negara yang bermartabat, kebalikan dari pemerintahan yang sekarang," kata Vallejo, seperti dimuat CBS News. Gadis kelahiran 28 April memang dikenal vokal menggugat semrawutnya dunia pendidikan di Chile yang dinilainya sangat tidak berpihak pada rakyat kebanyakan.

Vallejo dikenal tak terlalu banyak bicara tentang dirinya, namun dengan kharismanya, ia mampu menggalang lebih banyak massa untuk mendukung gerakannya. Dalam hitungan bulan, gadis yang dijuluki 'Komandan Camila' oleh para pendukungnya ini memiliki 300 ribu pendukung di akun Twitternya, seperti dimuat Guardian.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan September lalu menunjukkan mahasiswi jurusan Geografi ini mendapatkan dukungan 89 persen rakyat Chile atas keberaniannya, sebagaimana dilansir dari Sydney Morning Herald. Pengalaman berkali-kali ditembaki meriam air dan gas air mata oleh polisi saat berdemonstrasi tak membuatnya gentar.

Berkembangnya dukungan untuk Vallejo berbanding lurus dengan berkembangnya ancaman keselamatannya. Setelah berkali-kali menerima ancaman pembunuhan, Vallejo kini berada di bawah pengawasan kepolisian.

Menanggapi tudingan miring yang menyebutkan ia mendapat banyak dukungan hanya karena kecantikannya, gadis bertindik hidung ini cuma tertawa. "Banyak yang bilang saya sok karena kulit saya putih dan mata saya hijau. Absurd sekali! Orang tua saya juga bukan orang kaya, karena mereka juga pekerja," ujarnya.

Ia berkata bahwa ia bertindak karena melihat banyaknya ketidakpuasan di masyarakat. "Anak muda selalu yang pertama kali membuat perubahan. Kami tidak terikat komitmen keluarga, sehingga lebih bebas. Kami yang mengambil langkah awal, namun kami tak sendiri karena generasi di atas kami juga mendukung kami," tandasnya.

Camila Vallejo menyihir publik Amerika Latin. Kecantikan, kepintarannya berbicara serta keberaniannya memimpin demonstrasi mahasiswa di Chile membuatnya menjadi pahlawan baru.

"Sejak masa Subcomandante Marcos dari Zapatista belum pernah lagi Amerika Latin terpesona dengan seorang pemimpin perlawanan," tulis the Guardian, koran dari Inggris.

Bercelana jeans dan berbaju kaos, Camila memimpin ratusan ribu rakyat Chile menuntut perbaikan sistem pendidikan. Camila pun turut menjadi sasaran gas air mata yang dimuntahkan polisi.

Komandan Camila, begitu panggilannya, adalah Presiden Ikatan Mahasiswa Universidad de Chile, universitas paling berpengaruh di negeri tetangga Argentina itu. Selama seabad lebih sejarah universitas ini, Camila perempuan kedua menduduki posisi ini.
"Selama bertahun-tahun, anak muda Chile telah menjadi korban model neoliberal yang mengagungkan konsumerisme dan pencapaian personal; semua tentang saya, saya, saya. Tak ada banyak empati untuk yang lain," kata Camila.

Alasan Menjadi Pemimpin Demontran

Dari sekadar mahasiswi di awal usia 20-an, Camila Vallejo menjelma menjadi tokoh oposisi paling berpengaruh di Chile. Aksinya memimpin demonstrasi jutaan rakyat Chile membuat pejabat di Kementerian Kebudayaan dan Kepolisian dipecat dari posisi masing-masing.
"Sejak masa Subcomandante Marcos dari Zapatista, belum pernah lagi Amerika Latin terpesona dengan seorang pemimpin perlawanan," tulis The Guardian, koran Inggris. Kali ini, pemimpin perlawanan itu tak menggunakan topeng, cangklong, dan senjata, melainkan cincin di hidung.
Komandan Camila, begitu panggilannya, adalah Presiden Ikatan Mahasiswa Universidad de Chile, universitas paling berpengaruh di negeri tetangga Argentina itu. Selama seabad lebih sejarah universitas ini, Camila adalah perempuan kedua menduduki posisi itu.
Terlahir dari pasangan orang tua yang aktif di Partai Komunis, Camila tak butuh lama untuk turut aktif dalam kegiatan politik. Dia terdaftar sebagai kader Pemuda Komunis Chile. Awal tahun ini, Camila memimpin ikatan mahasiswa di negeri yang terkenal kuat dengan tradisi gerakan kiri, setelah lama diperintah diktator militer Augusto Pinochet itu.
"Selama bertahun-tahun, anak muda Chile telah menjadi korban model neoliberal yang mengagungkan konsumerisme dan pencapaian personal. Semua tentang saya, saya, saya. Tak ada banyak empati untuk yang lain," kata Camila di kantornya yang dihiasi foto ukuran besar Karl Marx.
Dari awalnya demonstrasi kecil di dekat kampus, aksi-aksi mahasiswa Universidad de Chile bersama sejumlah mahasiswa universitas lain menggelembung menjadi aksi massa nasional. Dari sekadar isu sederhana meminta pendidikan gratis, demonstrasi kemudian membesar hingga ke tuntutan mundur Presiden Sebastian Pinera. Jadilah ini aksi terbesar di Chile sejak era Pinochet.
Meski dikenal dengan tradisi kiri yang kuat, sistem pendidikan Chile lebih dikuasai oleh sektor swasta yang diwarisi dari era Pinochet. Daily Beast menulis, gelar sarjana adalah milik elite. Banyak pelajar putus sekolah, mencapai 52 persen, sedangkan utang, biayanya harus ditanggung selama satu dekade. Dan Pinera, presiden sekarang yang datang dari kubu kanan, menjadi sasaran empuk dari keputusasaan rakyat Chile hari ini.
Awalnya respons pemerintah dan tentu saja aparatnya, polisi, sangat keras. Kepala kepolisian Chile kemudian dipecat, bahkan seorang pejabat di Kementerian Kebudayaan yang menulis di Twitter "Bunuh perempuan itu dan musnahkan jasadnya" dipecat pula dari posisinya.
Mahasiswa pun diundang oleh Kementerian Pendidikan untuk berdialog mengenai tuntutannya. Namun, aksi massa terus dilakukan, sejak Mei hingga Oktober 2011, sudah lebih dari 30 aksi besar-besaran yang diikuti ratusan ribu orang. Presiden pun akhirnya mengundang Camila bernegosiasi.

Hanya dalam beberapa bulan, Camila menjadi cerita kepahlawanan baru di Amerika Latin, memiliki 300.000 follower di Twitter dan puluhan ribu penggemar di Facebook Page. Di Internet, Camila juga menjadi sensasi sendiri. Di Korea Selatan, penggemarnya membuat akun Twitter khusus mengenai dia. Popularitas bahkan melebihi sang Presiden sendiri.
Wajah cantiknya mempesona rakyat, sampai musisi di Amerika Latin pun memperbincangkannya. Seorang penyanyi ternama Argentina Kevin Johansen sampai menulis di Twitter, "Camila adalah milik saya."
"Kami semua cinta padanya," kata Wakil Presiden Bolivia, Álvaro García Linera. Saat pertemuan pemimpin muda Bolivia, Garcia pun meminta pemuda Bolivia meniru aksi Camila di Chile. "Ada seorang pemimpin muda dan cantik, yang memimpin anak muda dalam perlawanan," kata Garcia.

Camila sendiri sadar dengan kecantikannya. "Dia dapat menjadi pelengkap, mereka datang mendengarkan saya, karena penampakan saya. Namun, lalu saya menjelaskan ide-ide saya. Sebuah gerakan sebagai sebuah sejarah tak bisa dirangkum hanya dalam istilah-istilah permukaan," katanya.
Dan Presiden Chile sudah menawarkan Camila dan kawan-kawannya peningkatan jumlah beasiswa dan anggaran pendidikan. Namun, ternyata bukan ini yang dicari Camila. “Tindakan ini bagus, namun bukan perubahan struktural," kata Camila sambil menghisap sebatang rokok. "Kami ingin mengubah model pembangunan."