Pendiri Facebook Mark Zuckerberg ternyata menyimpan ketakutan terhadap penguntit yang marak di jejaring sosial. Ia khawatir keselamatan dirinya dan keluarga.
Mark Zuckerberg meminta penahanan terhadap Pradeep Manukonda (31), ia mengajukan dokumen hukum. Zuckerberg mengklaim Manukonda telah menguntit pendiri jejaring sosial tersebut.
“Ia mengikuti, mengganggu dan menghubungi Zuckerberg dengan bahasa yang mengancam keselamatan pribadi, pacar dan adik perempuannya,” tulis dokumen tersebut.
Petugas hukum, seperti dilansir TMZ menyebutkan Manukonda sudah beberapa kali muncul di kantor pusat Facebook di Palo Alto untuk menghubungi Zuckerberg. Ia meminta miliuner berusia 26 itu sejumlah uang untuk mendukung keuangan keluarga.
Polisi sebelumnya sudah memberi peringatan lisan kepada Manukonda, namun Zuckerberg mengklaim pria tersebut menghubunginya terus menerus dengan surat. Bahkan Zuckerberg menerima rangkaian bunga beserta surat yang ditulis tangan pada 28 Januari.
“Tolong bantu saya karena saya siap mati untuk Anda. Tolong mengerti penderitaan saya,” tulis Pradeep di halaman Facebook Mark Zuckerberg.
Rabu, 09 Februari 2011
Alamat IP Habis, Benarkah ini Kiamat Bagi Internet?
Isu akan habisnya IPv4 sudah bergaung di kalangan pelaku internet beberapa tahun terakhir ini. Berbagai kalkulasi dilakukan, dan hingga pertengahan tahun lalu, habisnya freepool IPv4 di IANA (Internet Assigned Numbers Authority) diperkirakan pada sekitar pertengahan tahun 2011 ini.
Alokasi IP Address di dunia diatur oleh IANA, dan di bawahnya ada pembagian lima wilayah berdasarkan geografi. Indonesia bernaung di bawah Asia Pacific Network Information Centre (APNIC) yang berpusat di Australia.
1 Februari 2011, IANA mengabulkan permintaan APNIC dan memberikan 2 blok /8 terakhirnya. Dan, inilah saat habisnya freepool IPv4 di IANA. Memang, masih ada 5 blok /8 lagi yang disimpan IANA, tetapi blok tersebut segera dibagikan secara merata ke setiap wilayah: Asia Pasifik, Amerika Utara, Amerika Latin, Afrika, dan Eropa. Lima blok terakhir ini juga akan dialokasikan ke pengguna dengan tata cara yang jauh lebih ketat dari sebelumnya dan jumlah maksimal yang jauh lebih kecil.
"Ini adalah sejarah besar dalam perkembangan internet di dunia meskipun telah diantisipasi jauh hari sebelumnya," ucap Raúl Echeberría, Direktur Number Resource Organization (NRO), yang merupakan perwakilan resmi lembaga pengelola IP Address di tiap wilayah. "Masa depan internet adalah IPv6. Semua komponen yang terkait harus melakukan langkah nyata untuk segera menggunakan IPv6," ujarnya.
Habisnya IPv4 ini memang merupakan pukulan yang cukup berat untuk sebagian besar negara di kawasan Asia Pasifik. "Kawasan ini merupakan wilayah dengan populasi terbesar di dunia dan memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat. Hampir semua negara sedang mengembangkan infrastruktur internetnya dengan pesat." kilah Geoff Huston, Chief Scientist APNIC.
Kendala yang dihadapi
Ada beberapa kendala yang akan dihadapi dengan habisnya freepool IPv4 ini.
Pertama, penyedia infrastruktur dan jaringan akan sulit untuk memberikan alokasi IP publik ke pelanggan baru. Terpaksa dilakukan penggunaan IP private dengan proses penerjemahan alamat. Secara umum memang pelanggan bisa mengakses internet, tetapi ada beberapa aplikasi khusus yang menuntut adanya koneksi langsung menjadi tidak bekerja. Membuat ISP baru akan menjadi hal yang hampir mustahil dilakukan jika tidak tersedia alokasi IPv4 yang baru.
Kedua, di sisi penyedia server, adanya penambahan IP publik adalah syarat mutlak untuk menambahkan server. Server konten yang bertujuan untuk diakses banyak pengunjung dari internet membutuhkan IP publik. Tidak tersedianya IP publik secara langsung akan menghambat perkembangan industri konten.
Lakukan sekarang
Bagi penyedia konten, pemilik jaringan yang besar, kampus, bank, dan berbagai institusi yang memiliki jaringan serta konten internet, masih ada sedikit waktu untuk segera meminta alokasi IPv4 sekaligus langsung menjalankan IPv6.
Ada banyak keuntungan apabila kita memiliki IPv4 sendiri. Kita bisa berlangganan ke lebih dari satu ISP dan melakukan load balance serta sekaligus fail over untuk beberapa tautan upstream tersebut. Kita juga lebih fleksibel untuk berpindah ISP karena tidak perlu mengubah alamat IP karena alamat IP yang kita gunakan memang dialokasikan secara permanen ke kita, tidak tergantung pada pinjaman IP dari ISP.
Untuk penyedia konten seperti perbankan, memiliki IP sendiri juga lebih baik dari sisi keamanan. Jika dilakukan whois pada alamat IP tersebut, data yang tercantum adalah identitas institusi kita sendiri, bukan ISP tempat kita berlangganan.
Institusi yang ingin mendapatkan alokasi IPv4 bisa menghubungi Indonesia Network Information Center (IDNIC) di web www.idnic.net atau e-mail hostmaster@idnic.net
Migrasi ke IPv6
Di masa depan, IPv6 adalah jawaban pasti atas masalah habisnya IPv4 ini. IPv6 menjanjikan jumlah yang jauh lebih banyak. Jika IPv4 hanya berjumlah 4,3 milyar IP, IPv6 berjumlah 4 triliun triliun triliun triliun IP. Sungguh perbedaan jumlah yang sangat signifikan. Selain itu, IPv6 juga menjanjikan protokol keamanan yang lebih baik karena protokol keamanannya bersifat bawaan, tidak seperti IPv4 yang bersifat opsional.
Semua pihak yang terkait dengan penggunaan jaringan dan IP Address diharapkan saat ini juga mulai melakukan migrasi ke IPv6. Dalam beberapa waktu mendatang, IPv4 dan IPv6 berjalan bersamaan (dual-stack) hingga satu saat nanti kita bisa sepenuhnya menikmati penggunaan IPv6.
Penulis: Valens Riyadi, Kabid National Internet Registry Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
Alokasi IP Address di dunia diatur oleh IANA, dan di bawahnya ada pembagian lima wilayah berdasarkan geografi. Indonesia bernaung di bawah Asia Pacific Network Information Centre (APNIC) yang berpusat di Australia.
1 Februari 2011, IANA mengabulkan permintaan APNIC dan memberikan 2 blok /8 terakhirnya. Dan, inilah saat habisnya freepool IPv4 di IANA. Memang, masih ada 5 blok /8 lagi yang disimpan IANA, tetapi blok tersebut segera dibagikan secara merata ke setiap wilayah: Asia Pasifik, Amerika Utara, Amerika Latin, Afrika, dan Eropa. Lima blok terakhir ini juga akan dialokasikan ke pengguna dengan tata cara yang jauh lebih ketat dari sebelumnya dan jumlah maksimal yang jauh lebih kecil.
"Ini adalah sejarah besar dalam perkembangan internet di dunia meskipun telah diantisipasi jauh hari sebelumnya," ucap Raúl Echeberría, Direktur Number Resource Organization (NRO), yang merupakan perwakilan resmi lembaga pengelola IP Address di tiap wilayah. "Masa depan internet adalah IPv6. Semua komponen yang terkait harus melakukan langkah nyata untuk segera menggunakan IPv6," ujarnya.
Habisnya IPv4 ini memang merupakan pukulan yang cukup berat untuk sebagian besar negara di kawasan Asia Pasifik. "Kawasan ini merupakan wilayah dengan populasi terbesar di dunia dan memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat. Hampir semua negara sedang mengembangkan infrastruktur internetnya dengan pesat." kilah Geoff Huston, Chief Scientist APNIC.
Kendala yang dihadapi
Ada beberapa kendala yang akan dihadapi dengan habisnya freepool IPv4 ini.
Pertama, penyedia infrastruktur dan jaringan akan sulit untuk memberikan alokasi IP publik ke pelanggan baru. Terpaksa dilakukan penggunaan IP private dengan proses penerjemahan alamat. Secara umum memang pelanggan bisa mengakses internet, tetapi ada beberapa aplikasi khusus yang menuntut adanya koneksi langsung menjadi tidak bekerja. Membuat ISP baru akan menjadi hal yang hampir mustahil dilakukan jika tidak tersedia alokasi IPv4 yang baru.
Kedua, di sisi penyedia server, adanya penambahan IP publik adalah syarat mutlak untuk menambahkan server. Server konten yang bertujuan untuk diakses banyak pengunjung dari internet membutuhkan IP publik. Tidak tersedianya IP publik secara langsung akan menghambat perkembangan industri konten.
Lakukan sekarang
Bagi penyedia konten, pemilik jaringan yang besar, kampus, bank, dan berbagai institusi yang memiliki jaringan serta konten internet, masih ada sedikit waktu untuk segera meminta alokasi IPv4 sekaligus langsung menjalankan IPv6.
Ada banyak keuntungan apabila kita memiliki IPv4 sendiri. Kita bisa berlangganan ke lebih dari satu ISP dan melakukan load balance serta sekaligus fail over untuk beberapa tautan upstream tersebut. Kita juga lebih fleksibel untuk berpindah ISP karena tidak perlu mengubah alamat IP karena alamat IP yang kita gunakan memang dialokasikan secara permanen ke kita, tidak tergantung pada pinjaman IP dari ISP.
Untuk penyedia konten seperti perbankan, memiliki IP sendiri juga lebih baik dari sisi keamanan. Jika dilakukan whois pada alamat IP tersebut, data yang tercantum adalah identitas institusi kita sendiri, bukan ISP tempat kita berlangganan.
Institusi yang ingin mendapatkan alokasi IPv4 bisa menghubungi Indonesia Network Information Center (IDNIC) di web www.idnic.net atau e-mail hostmaster@idnic.net
Migrasi ke IPv6
Di masa depan, IPv6 adalah jawaban pasti atas masalah habisnya IPv4 ini. IPv6 menjanjikan jumlah yang jauh lebih banyak. Jika IPv4 hanya berjumlah 4,3 milyar IP, IPv6 berjumlah 4 triliun triliun triliun triliun IP. Sungguh perbedaan jumlah yang sangat signifikan. Selain itu, IPv6 juga menjanjikan protokol keamanan yang lebih baik karena protokol keamanannya bersifat bawaan, tidak seperti IPv4 yang bersifat opsional.
Semua pihak yang terkait dengan penggunaan jaringan dan IP Address diharapkan saat ini juga mulai melakukan migrasi ke IPv6. Dalam beberapa waktu mendatang, IPv4 dan IPv6 berjalan bersamaan (dual-stack) hingga satu saat nanti kita bisa sepenuhnya menikmati penggunaan IPv6.
Penulis: Valens Riyadi, Kabid National Internet Registry Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
Inilah 10 Pemuda Terkaya Karena Internet
Siapa yang menjadi kaya raya sebelum berumur 30 tahun. Era teknologi membuat banyak pemuda pintar mendadak populer dan sangat kaya. Boleh dibilang menjadi kaya karena internet, atau anak muda yang kaya karena adanya teknologi internet.
Siapa saja yang berhasil mendapatkan posisi tertinggi. Data dari Complex mengumpulkan 10 anak muda mampu berhasil sebelum berumur 30 tahun.
1. Aodhan Cullen, 27 tahun, Statcounter, perkiraan 18 juta dollar.
Dia banyak amal dengan membuat website statisik untuk mencatat pengunjung. Memiliki 1.5 juta member.
2. Matt Mullenweg, 26 tahun, WordPress, 40 juta dollar
Matt keluar dari Gig di Cnet, membuat situs untuk blogger dan paling ramai sedunia.
3.Sean Belnick, 23 tahun, Bizchair, 42 juta dollar.
Apa yang dikerjakan ketika berumur 14 tahun. Dia adalah anak muda yang memiliki toko furniture di internet. Tidak itu saja, dia bekerja di kamar untuk mengatur 100 karyawannya.
4. Jack Nickell, 30 tahun, Threadless, 50 juta dollar
10 tahun lalu dia membuat komunitas untuk jualbeli Threadless. Sekarang sudah sangat terkenal.
5. Alexander Levin, 26 tahun, Imageshack, 56 juta dollar (perkiraan)
Yang ini memang beramal, membuat situs untuk penyimpan gambar.
6. Angelo Sotira, 28 tahun, Devianart, 75 juta dollar
Dia membuat situs Devianart, setidaknya ada 11 juta member. Membuat situs komunitas seni.
7. Naveen Selvadurai, 28 tahun, Foursquare, 80 juta dollar (proyeksi)
Menjadi arstiek musik Sony, lalu membuat Foursquare. Kurang dari 1 tahun usernya 275 ribu orang. Aplikasi yang dibuat paling populer di iPhone dan Android.
8. Blake Ross, 25 tahun, Mozilla, 150 juta dollar
Tahun 2004 dia membuat program Firefox. Dalam 1 tahun setidaknya sudah 100 juta lebih softwarenya didownload, tentu gratis. Bayangkan ketika itu dia baru berumur 19 tahun.
9. Dustin Moskovitz, 26 tahun, Facebook, 1.4 milyar dollar
Salah satu pendiri kerajaan si Facebook. Memiliki 6% saham.
10. Mark Zuckerberg, 26 tahun, Facebook, 4.9 milyar dollar
Tentu saja ini bosnya Facebook. Situs yang dimiliki mendapatkan 500 juta user sekarang. Menjadi situs jejaring sosial terbesar di Dunia. Bla bla bla, dia nomor 35 pada daftar Forbes sebagai orang paling kaya. Lebih tinggi dari CEO QApple boo. Amalnya juga besar, dia mendonasi $100 juta untuk sekolah publik.
Siapa saja yang berhasil mendapatkan posisi tertinggi. Data dari Complex mengumpulkan 10 anak muda mampu berhasil sebelum berumur 30 tahun.
1. Aodhan Cullen, 27 tahun, Statcounter, perkiraan 18 juta dollar.
Dia banyak amal dengan membuat website statisik untuk mencatat pengunjung. Memiliki 1.5 juta member.
2. Matt Mullenweg, 26 tahun, WordPress, 40 juta dollar
Matt keluar dari Gig di Cnet, membuat situs untuk blogger dan paling ramai sedunia.
3.Sean Belnick, 23 tahun, Bizchair, 42 juta dollar.
Apa yang dikerjakan ketika berumur 14 tahun. Dia adalah anak muda yang memiliki toko furniture di internet. Tidak itu saja, dia bekerja di kamar untuk mengatur 100 karyawannya.
4. Jack Nickell, 30 tahun, Threadless, 50 juta dollar
10 tahun lalu dia membuat komunitas untuk jualbeli Threadless. Sekarang sudah sangat terkenal.
5. Alexander Levin, 26 tahun, Imageshack, 56 juta dollar (perkiraan)
Yang ini memang beramal, membuat situs untuk penyimpan gambar.
6. Angelo Sotira, 28 tahun, Devianart, 75 juta dollar
Dia membuat situs Devianart, setidaknya ada 11 juta member. Membuat situs komunitas seni.
7. Naveen Selvadurai, 28 tahun, Foursquare, 80 juta dollar (proyeksi)
Menjadi arstiek musik Sony, lalu membuat Foursquare. Kurang dari 1 tahun usernya 275 ribu orang. Aplikasi yang dibuat paling populer di iPhone dan Android.
8. Blake Ross, 25 tahun, Mozilla, 150 juta dollar
Tahun 2004 dia membuat program Firefox. Dalam 1 tahun setidaknya sudah 100 juta lebih softwarenya didownload, tentu gratis. Bayangkan ketika itu dia baru berumur 19 tahun.
9. Dustin Moskovitz, 26 tahun, Facebook, 1.4 milyar dollar
Salah satu pendiri kerajaan si Facebook. Memiliki 6% saham.
10. Mark Zuckerberg, 26 tahun, Facebook, 4.9 milyar dollar
Tentu saja ini bosnya Facebook. Situs yang dimiliki mendapatkan 500 juta user sekarang. Menjadi situs jejaring sosial terbesar di Dunia. Bla bla bla, dia nomor 35 pada daftar Forbes sebagai orang paling kaya. Lebih tinggi dari CEO QApple boo. Amalnya juga besar, dia mendonasi $100 juta untuk sekolah publik.
Kasus SARA atau Kepentingan Memanfaatkan Reviktimisasi?
Masih segar dalam ingatan kita kasus Situbondo, kasus Poso, kasus Ambon yang dipersepsikan mengangkat muatan SARA beberapa tahun silam. Lalu tahun 2010 ada lagi kasus penusukan pendeta di Bekasi dan dilanjutkan dengan awal 2011 dengan kasus pembunuhan jamaah Ahmadiyah di Pandeglang Banten dan pengrusakan tempat ibadah di Temanggung Jawa Tengah.
Tindakan-tindakan yang dilakukan secara sporadis oleh kelompok tertentu yang tercatat dalam sejarah 'Indonesia –negara beragama dan cinta damai' ini sungguh memilukan hati. Kalau kejadian-kejadian seperti itu kita sebut sebuah keisengan, nampaknya kurang tepat.
Lalu bagaimana dengan alasan kondisi ekonomi sebagian masyarakat yang corat-marit, apa iya? Bagaimana dengan negara lain yang belum merasakan kemajuan seperti yang dirasakan di Indonesia?
Secara sepihak pendapat bermunculan mengatakan bahwa semua itu terjadi karena adanya sekelompok orang tertentu yang menghina, menghujat, menghakimi keyakinan lain dan mengumandangkan kebenaran keyakinannya diletakkan di level yang paling tinggi – alias satu-satunya keyakinan yang benar. Namun itupun masih debatable (bisa diperdebatkan)
Nampaknya dibutuhkan kajian yang lebih dalam tentang masalah-masalah sosial yang super sensitif seperti ini. Dimulai dengan berusaha menggunakan kaca mata lain, saya berpendapat masih banyak faktor-faktor yang harusnya dimasukkan menjadi pertimbangan dalam menyusun cetak biru program kerukunan masyarakat (tidak terbatas masalah kerukunan umat beragama) di Indonesia.
Pertama, peran unsur ulama yang menjadi gerbang pengajaran keyakinan menjadi semakin penting dan kritis. Penyampaian dogma yang kabur apalagi berseberangan dengan nilai-nilai kemanusiaan harus mendapat sorotan dari pemerintah, karena ruang syiar/ruang ibadah adalah ruang belajar dan menerima pengajaran dengan segala kepolosan dari setiap diri kita.
Kedua, Kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lamanya proses dalam menangani banyak kasus yang terjadi. Dalam hal ini proses penanganan kasus-kasus di Indonesia tidak sebanding dengan kesabaran masyarakat Indonesia pada umumnya.
Kita mengenal masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang tidak senang dengan proses pencapaian, tetapi lebih senang dengan proses hasil yang cepat. Dalam sisi lain hal itu pula yang membuat mengapa korupsi terjadi di semua lini dan tersebar dimana-mana, semata-mata keinginan untuk cepat kaya.
Ketiga, masyarakat nampaknya berkurang kepercayaannya terhadap legitimasi dan supremasi (wibawa) pemerintah. Hal ini sangat berbahaya sebab inilah yang menjadikan masyarakat tidak menghargai hukum dan pemerintahnya sendiri.
Akibatnya akan terjadi standar keadilan yang tercipta di masing-masing individu. Berdasarkan itu pula seseorang memprovokasi sekelompok orang bertindak main hakim sendiri terhadap keadilan yang tidak sesuai dengan pikirannya.
Bagi orang-orang semacam ini, masalah SARA adalah ruang yang paling mudah untuk dijadikan sebagai ajang expresi diri membuktikan kebenarannya sendiri. Celakanya orang-orang semacam ini sering mengatas-namakan agama agar proses expresi dirinya berjalan lebih mudah.
Didorong oleh kepentingan lain yang tersembunyi, hasutan atau semacam provokasi membuat kekacauan ternyata sebegitu mudah masuk ke hati sebagian masyarakat Indonesia terutama terhadap manusia-manusia yang tidak ditanamkan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebab hanya orang yang mengaku beragama namun kehilangan nilai agamalah yang yang meneriakkan nama Allah sembari dia membunuh dan menghujamkan pisau dan menghilangkan nyawa orang lain.
Secara khusus dari dua kasus (Ahmadiyah dan Temanggung) saat ini kita melihat telah terjadi lagi kasus dimana oknum-oknum tertentu berhasil menghasut dan membuat tirani mayoritas menindas minoritas.
Sementara dalam kedua kasus ini, dapat pula kita saksikan bahwa aparat bertindak reaktif (bukan tindakan preventif yang seharusnya). Kembali lagi reviktimisasi dimana minoritas kembali lagi dikorbankan untuk tujuan-tujuan lain yang ad ada otak para sutradaranya.
Melihat berbagai fenomena ini, supremasi hukum harus lebih ditegakkan lagi lebih serius. Otak berbagai skenario dan para pelaku peristiwa itu harus digulung sesuai dengan hukum yang berlaku dan dilakukan dengan cepat.
Selain itu ketegasan pemerintah (terutama aparat) semakin dituntut jika pemerintah tidak ingin rakyatnya melakukan demokrasi tanpa batas atau kebablasan. Upaya-upaya aparat yang terkesan kuratif dan tidak antisipatif maupun preventif, apalagi pembiaran terhadap kejadian semacam ini bukan lagi saatnya.
Sebab disadari atau tidak, stabilitas dan ketahanan Nasional Indonesia mulai dirongrong dari dalam – oleh masyarakatnya sendiri dari berbagai sisi sehingga kapasitas kita terkuras habis untuk mengurus masalah internal dan tidak mengotimalkan waktu untuk menciptakan kemajuan-kemajuan yang bisa meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
Perangkat-perangkat hukum yang mengawalnya sudah cukup banyak untuk digunakan sebagai dasar bertindak lebih tegas. Ayo pemerintahku, kamu BISA menangani sebagian masyarakat yang sedang sakit!
Demikian, semoga bermanfaat. Salam damai bagi Indonesiaku
Lintong
Jl Rejosari IV no 5 Semarang
lintongs@gmail.com
02474088887
*penulis adalah Penulis buku Bread for Friends dan Pengamat nilai-nilai sosial.
Tindakan-tindakan yang dilakukan secara sporadis oleh kelompok tertentu yang tercatat dalam sejarah 'Indonesia –negara beragama dan cinta damai' ini sungguh memilukan hati. Kalau kejadian-kejadian seperti itu kita sebut sebuah keisengan, nampaknya kurang tepat.
Lalu bagaimana dengan alasan kondisi ekonomi sebagian masyarakat yang corat-marit, apa iya? Bagaimana dengan negara lain yang belum merasakan kemajuan seperti yang dirasakan di Indonesia?
Secara sepihak pendapat bermunculan mengatakan bahwa semua itu terjadi karena adanya sekelompok orang tertentu yang menghina, menghujat, menghakimi keyakinan lain dan mengumandangkan kebenaran keyakinannya diletakkan di level yang paling tinggi – alias satu-satunya keyakinan yang benar. Namun itupun masih debatable (bisa diperdebatkan)
Nampaknya dibutuhkan kajian yang lebih dalam tentang masalah-masalah sosial yang super sensitif seperti ini. Dimulai dengan berusaha menggunakan kaca mata lain, saya berpendapat masih banyak faktor-faktor yang harusnya dimasukkan menjadi pertimbangan dalam menyusun cetak biru program kerukunan masyarakat (tidak terbatas masalah kerukunan umat beragama) di Indonesia.
Pertama, peran unsur ulama yang menjadi gerbang pengajaran keyakinan menjadi semakin penting dan kritis. Penyampaian dogma yang kabur apalagi berseberangan dengan nilai-nilai kemanusiaan harus mendapat sorotan dari pemerintah, karena ruang syiar/ruang ibadah adalah ruang belajar dan menerima pengajaran dengan segala kepolosan dari setiap diri kita.
Kedua, Kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lamanya proses dalam menangani banyak kasus yang terjadi. Dalam hal ini proses penanganan kasus-kasus di Indonesia tidak sebanding dengan kesabaran masyarakat Indonesia pada umumnya.
Kita mengenal masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang tidak senang dengan proses pencapaian, tetapi lebih senang dengan proses hasil yang cepat. Dalam sisi lain hal itu pula yang membuat mengapa korupsi terjadi di semua lini dan tersebar dimana-mana, semata-mata keinginan untuk cepat kaya.
Ketiga, masyarakat nampaknya berkurang kepercayaannya terhadap legitimasi dan supremasi (wibawa) pemerintah. Hal ini sangat berbahaya sebab inilah yang menjadikan masyarakat tidak menghargai hukum dan pemerintahnya sendiri.
Akibatnya akan terjadi standar keadilan yang tercipta di masing-masing individu. Berdasarkan itu pula seseorang memprovokasi sekelompok orang bertindak main hakim sendiri terhadap keadilan yang tidak sesuai dengan pikirannya.
Bagi orang-orang semacam ini, masalah SARA adalah ruang yang paling mudah untuk dijadikan sebagai ajang expresi diri membuktikan kebenarannya sendiri. Celakanya orang-orang semacam ini sering mengatas-namakan agama agar proses expresi dirinya berjalan lebih mudah.
Didorong oleh kepentingan lain yang tersembunyi, hasutan atau semacam provokasi membuat kekacauan ternyata sebegitu mudah masuk ke hati sebagian masyarakat Indonesia terutama terhadap manusia-manusia yang tidak ditanamkan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebab hanya orang yang mengaku beragama namun kehilangan nilai agamalah yang yang meneriakkan nama Allah sembari dia membunuh dan menghujamkan pisau dan menghilangkan nyawa orang lain.
Secara khusus dari dua kasus (Ahmadiyah dan Temanggung) saat ini kita melihat telah terjadi lagi kasus dimana oknum-oknum tertentu berhasil menghasut dan membuat tirani mayoritas menindas minoritas.
Sementara dalam kedua kasus ini, dapat pula kita saksikan bahwa aparat bertindak reaktif (bukan tindakan preventif yang seharusnya). Kembali lagi reviktimisasi dimana minoritas kembali lagi dikorbankan untuk tujuan-tujuan lain yang ad ada otak para sutradaranya.
Melihat berbagai fenomena ini, supremasi hukum harus lebih ditegakkan lagi lebih serius. Otak berbagai skenario dan para pelaku peristiwa itu harus digulung sesuai dengan hukum yang berlaku dan dilakukan dengan cepat.
Selain itu ketegasan pemerintah (terutama aparat) semakin dituntut jika pemerintah tidak ingin rakyatnya melakukan demokrasi tanpa batas atau kebablasan. Upaya-upaya aparat yang terkesan kuratif dan tidak antisipatif maupun preventif, apalagi pembiaran terhadap kejadian semacam ini bukan lagi saatnya.
Sebab disadari atau tidak, stabilitas dan ketahanan Nasional Indonesia mulai dirongrong dari dalam – oleh masyarakatnya sendiri dari berbagai sisi sehingga kapasitas kita terkuras habis untuk mengurus masalah internal dan tidak mengotimalkan waktu untuk menciptakan kemajuan-kemajuan yang bisa meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
Perangkat-perangkat hukum yang mengawalnya sudah cukup banyak untuk digunakan sebagai dasar bertindak lebih tegas. Ayo pemerintahku, kamu BISA menangani sebagian masyarakat yang sedang sakit!
Demikian, semoga bermanfaat. Salam damai bagi Indonesiaku
Lintong
Jl Rejosari IV no 5 Semarang
lintongs@gmail.com
02474088887
*penulis adalah Penulis buku Bread for Friends dan Pengamat nilai-nilai sosial.
Kamis, 03 Februari 2011
Amerika Dibalik Kudeta Mesir
Situs pembocor dokumen, WikiLeaks kembali mengeluarkan sebuah kawat diplomatik milik pemerintah Amerika Serikat pada hari Selasa (1/2). Dalam dokumen ini terungkap pemerintah Amerika Serikat telah merancang ‘skenario’ bila Presiden Mesir Hosni Mubarak jatuh.
Skenario yang dimaksud, menyiapkan Kepala Intelijen Mesir, Omar Suleiman mengambil alih kekuasaan jika terjadi sesuatu dengan Mubarak. Pada Sabtu lalu, skenario ini terbukti, Mubarak menunjuk Suleiman sebagai wakil presiden. Dia menjadi tokoh paling kuat menggantikan Mubarak.
Suleiman menjadi kepala intelijen Mesir pada 1993. Sebelumnya, dia mengikuti pelatihan di Amerika, di U.S Special Warfare School di Fort Bragg. Lewat pelatihan inilah di memiliki hubungan dekat dengan badan intelijen Amerika Serikat, CIA. Dia semakin dikenal ketika mengambil peran penting dalam proses perdamaian Hamas dan Fatah.
Kabar Suleiman menjadi calon terkuat pengganti Mubarak agak mengejutkan. Sebab selama beberapa tahun terakhir, para analis politik memperkirakan Gamal Mubarak, anak Hosni Mubarak akan menggantikannya. Namun kabar ini tidak mengejutkan bagi pemerintah Amerika Serikat.
Dalam satu kawat diplomatik tanggal 15 Juni 2005, Timothy Pounds, Direktur Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat untuk Syria, Lebanon, Mesir dan Afrika Utara menulis: "Semua setuju kandidat yang pas untuk wakil presiden adalah Jenderal Oman Soliman, Direktur Intelijen Mesir (EGIS)." (Departemen Luar Negeri AS salah menulis ejaan Suleiman)
Setahun kemudian, kawat diplomatik bertanggal 14 Mei 2006 semakin jelas, pemerintah Amerika Serikat erat bekerjasama dengan Suleiman. Suleiman menjadi pemain kunci dalam menyingkirkan Hamas di Palestina.
"Kerjasama Intelijen dengan Omar Soliman, yang akan ke Washington pekan depan adalah satu bentuk kerjasama yang paling sukses," tulis kawat diplomatik tersebut.
Kawat diplomatik tersebut ditulis oleh Francis J. Ricciardone, Jr. (Duta Besar Amerika Serikat untuk Mesir) yang memberikan info tersebut kepada Robert Zoellick (Deputi Menteri Luar Negeri) yang saat itu berkunjug ke Kairo.
Suatu waktu, Suleiman juga mengatakan kepada Duta Besar Amerika Serikat, "Mesir adalah rekan Amerika", "Mesir akan terus membantu pemerintah Amerika Serikat untuk isu-isu kawasan Timur Tengah, seperti Lebanon dan Irak. Termasuk masalah utama: konflik Israel-Palestina.
Dalam kawat diplomatik yang dikirim beberapa tahun kemudian, Duta Besar Amerika untuk Mesir, Ricciardone menulis rezim diktator di Mesir menderita "paranoia" atau kecemasan bila melihat masa depan politik Mesir. "Masalah suksesi presiden yang paling besar," tulis Ricciardone.
Dalam laporannya ke Washington itu, Ricciardone meragukan kemampuan Gamal Mubarak untuk menggantikan ayahnya, karena dia gagal menyelesaikan tugas militernya. Ricciardone lagi-lagi memilih Suleiman sebagai pengganti Mubarak yang tepat.
"Dalam dua tahun terakhir, Soliman telah keluar dari bayang-bayang, dia juga bersedia difoto ketika bertemu pemimpin negara lain. Dia menjadi figur yang dibangun sebagai transisi bagi Gamal," tulis Ricciardone.
Satu alasan Washington mendukung Suleiman, karena dia menentang Muslim Brotherhood. Dalam satu tulisan di blog situs Al Jazeera, Clayton Swisher, bekas direktur program Washington-based Middle East Institute, yang pernah bertemu dengan Suleiman menulis: "Dia bicara blak-blakan sampai biskuit yang aku makan jatuh. Dia tidak punya pandangan bagus terhadap Islam di dunia politik. Dia juga tidak ragu-ragu mengatakan akan menggunakan kekuatan keamanan agar Muslim Brotherhood tidak masuk ke politik."
Swisher menyimpulkan, penunjukkan Suleiman oleh Presiden Mubarak adalah pesan bagi Israel dan Amerika Serikat. Penunjukkannya juga pesan bagi partai Islam: Jangan coba-coba.
Skenario yang dimaksud, menyiapkan Kepala Intelijen Mesir, Omar Suleiman mengambil alih kekuasaan jika terjadi sesuatu dengan Mubarak. Pada Sabtu lalu, skenario ini terbukti, Mubarak menunjuk Suleiman sebagai wakil presiden. Dia menjadi tokoh paling kuat menggantikan Mubarak.
Suleiman menjadi kepala intelijen Mesir pada 1993. Sebelumnya, dia mengikuti pelatihan di Amerika, di U.S Special Warfare School di Fort Bragg. Lewat pelatihan inilah di memiliki hubungan dekat dengan badan intelijen Amerika Serikat, CIA. Dia semakin dikenal ketika mengambil peran penting dalam proses perdamaian Hamas dan Fatah.
Kabar Suleiman menjadi calon terkuat pengganti Mubarak agak mengejutkan. Sebab selama beberapa tahun terakhir, para analis politik memperkirakan Gamal Mubarak, anak Hosni Mubarak akan menggantikannya. Namun kabar ini tidak mengejutkan bagi pemerintah Amerika Serikat.
Dalam satu kawat diplomatik tanggal 15 Juni 2005, Timothy Pounds, Direktur Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat untuk Syria, Lebanon, Mesir dan Afrika Utara menulis: "Semua setuju kandidat yang pas untuk wakil presiden adalah Jenderal Oman Soliman, Direktur Intelijen Mesir (EGIS)." (Departemen Luar Negeri AS salah menulis ejaan Suleiman)
Setahun kemudian, kawat diplomatik bertanggal 14 Mei 2006 semakin jelas, pemerintah Amerika Serikat erat bekerjasama dengan Suleiman. Suleiman menjadi pemain kunci dalam menyingkirkan Hamas di Palestina.
"Kerjasama Intelijen dengan Omar Soliman, yang akan ke Washington pekan depan adalah satu bentuk kerjasama yang paling sukses," tulis kawat diplomatik tersebut.
Kawat diplomatik tersebut ditulis oleh Francis J. Ricciardone, Jr. (Duta Besar Amerika Serikat untuk Mesir) yang memberikan info tersebut kepada Robert Zoellick (Deputi Menteri Luar Negeri) yang saat itu berkunjug ke Kairo.
Suatu waktu, Suleiman juga mengatakan kepada Duta Besar Amerika Serikat, "Mesir adalah rekan Amerika", "Mesir akan terus membantu pemerintah Amerika Serikat untuk isu-isu kawasan Timur Tengah, seperti Lebanon dan Irak. Termasuk masalah utama: konflik Israel-Palestina.
Dalam kawat diplomatik yang dikirim beberapa tahun kemudian, Duta Besar Amerika untuk Mesir, Ricciardone menulis rezim diktator di Mesir menderita "paranoia" atau kecemasan bila melihat masa depan politik Mesir. "Masalah suksesi presiden yang paling besar," tulis Ricciardone.
Dalam laporannya ke Washington itu, Ricciardone meragukan kemampuan Gamal Mubarak untuk menggantikan ayahnya, karena dia gagal menyelesaikan tugas militernya. Ricciardone lagi-lagi memilih Suleiman sebagai pengganti Mubarak yang tepat.
"Dalam dua tahun terakhir, Soliman telah keluar dari bayang-bayang, dia juga bersedia difoto ketika bertemu pemimpin negara lain. Dia menjadi figur yang dibangun sebagai transisi bagi Gamal," tulis Ricciardone.
Satu alasan Washington mendukung Suleiman, karena dia menentang Muslim Brotherhood. Dalam satu tulisan di blog situs Al Jazeera, Clayton Swisher, bekas direktur program Washington-based Middle East Institute, yang pernah bertemu dengan Suleiman menulis: "Dia bicara blak-blakan sampai biskuit yang aku makan jatuh. Dia tidak punya pandangan bagus terhadap Islam di dunia politik. Dia juga tidak ragu-ragu mengatakan akan menggunakan kekuatan keamanan agar Muslim Brotherhood tidak masuk ke politik."
Swisher menyimpulkan, penunjukkan Suleiman oleh Presiden Mubarak adalah pesan bagi Israel dan Amerika Serikat. Penunjukkannya juga pesan bagi partai Islam: Jangan coba-coba.
Langganan:
Postingan (Atom)