Saya yakin andai ada sesi tanya jawab dalam pidato di Balairung Kampus UI, Depok, Rabu (10/11), banyak hadirin yang curhat kepada Presiden AS Barack Obama. Soalnya dia mendadak jadi pemimpin idola yang kita rindukan walau cuma mampir di Jakarta 19 jam saja.
Curhat pertama begini. ”Bapak dua kali membatalkan lawatan ke sini karena bencana kebocoran minyak Teluk Meksiko dan memperjuangkan RUU jaminan kesehatan. Kenapa para pemimpin/politisi kami malah ke luar negeri saat ada bencana di Wasior, Mentawai, dan Merapi?”
Curhat nomor dua lain lagi. ”Bapak warga minoritas, tapi bisa jadi presiden. Kok bisa? Sukar dibayangkan itu terjadi di sini karena hampir semua etnis dan agama minoritas dimusuhi atau diserbu. Pemerintah berpangku tangan saja!”
Sekarang curhat nomor tiga. ”Pak, apa benar mau membantu pemberantasan korupsi? Kalau benar, tolong cepat-cepat kirim agen-agen FBI menyidik korupsi Century. Kalau bisa, kerja sama kemitraan strategis mencakup pula bantuan ahli-ahli AS mengurai banjir dan macet Jakarta!”
Pidato Obama bukan saja mengundang curhat, tetapi juga tangis. Saya dua kali diundang menyaksikan pidatonya ketika merayakan kemenangan Pilpres 2008 di Chicago, November 2008, dan dilantik sebagai presiden di Washington DC, Januari 2009.
Ratusan warga mewek, mulai dari yang menangis meraung-raung sampai yang hanya menitikkan air mata. Mereka yang menangis tak pandang bulu: tua, muda, kaya, miskin, hitam, putih, sendiri-sendiri, atau beramai-ramai. Saya bersumpah ikut sedikit terharu!
Jika berpidato, Obama memang enggak pernah curhat. Tetapi, ia reach out mendengarkan curhat rakyat. Akibatnya, rakyat merasa punya teman berbagi dan berharap hidupnya bisa lebih baik. Itu sesuai dengan slogan kampanye kemenangan Obama, ”Yes We Can” (Bersama Kita Bisa).
Mengapa Obama pandai menampung curhat? Kini saya tahu jawabannya: 50 persen karena ia orang awam yang tak sudi berpura-pura dan 50 persen karena rakyat kecewa kepada Presiden George W Bush selama delapan tahun memerintah.
Obama sebenarnya kurang pandai berpidato, makanya ia disarankan tetap memakai teleprompter. Namun, ia jujur dalam menyampaikan isi dan cara menyampaikan pidato dengan gaya profesor rendah hati. Seperti kata pepatah, the singer, not the song.
Rakyat AS tergila-gila kepada Obama karena sebal kepada George W Bush. Fenomena ini lebih kurang sama dengan yang dialami 5.000 hadirin di Balairung UI, yang tergila-gila pula kepada Obama karena merasa sebal terhadap kelakuan para pemimpin kita.
Jadi, ”Obamania” di sini cuma sekadar kompensasi politik. Kini di negaranya Obama mulai menghadapi masalah, tetapi popularitasnya tak menurun drastis, masih rata-rata 40 persen. Dan, sampai sekarang ia praktis belum tersaingi untuk jadi presiden 2012-2016.
Nah, Obama sebenarnya bukan melawat, cuma ”mampir” ke Jakarta dari India, on the way ke Korea Selatan dan Jepang. Kita boleh saja gembira karena rakyat Australia dan Guam pasti kecewa batal dikunjungi oleh ”Obama the rock star”.
Meski tak pernah menulis lagu dan menjual CD, karisma Obama tak kalah dibandingkan dengan Mick Jagger. Mereka mampu menyedot puluhan ribu penonton sekali manggung. Makanya Obama ngotot mau pidato di UI untuk reach out ke berbagai kalangan yang diwakili 5.000 undangan saja.
Tampak sekali Obama enjoy-enjoy aja. Buktinya ia bolak-balik ngomong Indonesia, menyimpang dari teks di teleprompter. Tiap kali mengucapkan bahasa kita, matanya berbinar dan senyumnya lebar memperlihatkan deretan giginya yang seperti permen Chiclets.
Setidaknya Obama menjawab curhat kita melalui tiga hal pokok: pembangunan, demokrasi, dan toleransi. Ia paham kesenjangan masih besar, demokrasi bermasalah, dan kebinekaan terancam. Tak heran ia paham tiga hal ini karena, katanya, ”Indonesia bagian dari diri saya.”
Benar, untuk ketiga soal itu kita mungkin lebih tahu. Namun, kita kok baru sadar dan prihatin tiga soal besar tersebut masih saja melilit bangsa yang sudah merdeka 65 tahun ini justru ketika diucapkan oleh seorang Obama?
Jawabannya mudah: selama ini kita kurang sadar dan prihatin karena ketiga soal itu hanya diucapkan sampai pada tingkat wacana semata-mata oleh mulut-mulut pemimpin kita. Pidato mereka kosong tanpa makna karena mereka selalu ”lain kata lain perbuatan”.
Saya yakin Obama senang bukan kepalang walau cuma mampir. Buktinya ia bilang, ”Pulang kampung nih!” Setidaknya ia juga puas melahap habis berbagai suguhan yang bukan cuma sate dan bakso, melainkan juga tongseng, somay, gado-gado, sampai sop buntut.
Lawatan Obama tak lebih dari nostalgia belaka yang bersifat simbolis saja. Mungkin sebagian dari pejabat kita yang ”sok genting”, sampai-sampai sapi-sapi dan kambing-kambing kurban di pinggir jalan enggak boleh ikut nonton Obama karena ditutupi terpal.
Saya harap Anda terhibur ikutan ngobama atau, dalam bahasa Inggris, Obama-ing. Arti nge dalam bahasa Betawi lebih kurang ”iseng saja”, misalnya nge-mal (iseng keliling mal). Untung dia hanya 19 jam di sini. Kalau enggak, banyak facebooker membuat grup ”Dukung Obama Jadi Presiden”.
Budiarto Shambazy
Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/13/02454821/ngobama
Selasa, 23 November 2010
Sabtu, 06 November 2010
Gunung Merapi dan Sejuta Misteri
Gunung Merapi dipercaya sebagai tempat keraton makhluk halus. Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh manusia juga dihuni oleh makhluk- makhluk lainnya yang mereka sebut sebagai bangsa alus atau makhluk halus.
Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang mendiami daerah itu.
Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama “Pasar Bubrah” yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. “Pasar Bubrah” tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.
Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu “Nyai Gadung Melati” yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.
Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.
Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu “Hutan Patuk Alap-alap” dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, “Hutan Gamelan dan Bingungan” serta “Hutan Pijen dadn Blumbang”. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.
Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.
Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.
Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.
Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.
Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Di sinilah tinggal sosok Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Gunung Merapi dan Mbah Marijan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Keberadaan lelaki tua Mbah Marijan dan kawan-kawannya itulah manusia lebih, mau membuka mata dan telinga batinnya untuk melihat apa yang tidak kasad mata di sekitar Gunung Merapi.
Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah.
Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang mendiami daerah itu.
Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama “Pasar Bubrah” yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. “Pasar Bubrah” tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.
Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu “Nyai Gadung Melati” yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.
Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.
Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu “Hutan Patuk Alap-alap” dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, “Hutan Gamelan dan Bingungan” serta “Hutan Pijen dadn Blumbang”. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.
Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.
Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.
Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.
Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.
Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Di sinilah tinggal sosok Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Gunung Merapi dan Mbah Marijan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Keberadaan lelaki tua Mbah Marijan dan kawan-kawannya itulah manusia lebih, mau membuka mata dan telinga batinnya untuk melihat apa yang tidak kasad mata di sekitar Gunung Merapi.
Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah.
Teori Chaos
Teori chaos menarik perhatian para ilmuwan dunia di tahun 1960-an. Salah satu paper ilmiah yang menandai "kelahiran" topik ini adalah karya dari Edward Lorenz. Meskipun demikian, nama-nama seperti B van der Pol, Duffing, dan M He'non tidak dapat dilupakan dalam proses kelahiran topik ini.
Chaos pertama kali terobservasi dalam sebuah sistem yang dikenal dengan nama sistem dinamis. Tidaklah berlebihan jika kelahiran sistem dinamis dikaitkan dengan seorang matematikawan Perancis, Henri Poincare' pada masa pergantian dari abad ke-19 ke abad ke-20.
Pada era itu, perhatian matematikawan terpusat pada pencarian solusi dari suatu sistem. Henri Poincare' adalah yang pertama kali membangun suatu metode untuk menganalisis sistem tanpa menghitung solusi secara eksplisit dan melahirkan teori modern tentang persamaan diferensial. Dari tulisan Henri Poincare', dapat disimpulkan bahwa Poincare' telah mengenal chaos.
Pada permulaan abad ke-20, yaitu masa hidup B van der Pol, Duffing, maupun E Lorenz, trend yang berkembang adalah keyakinan bahwa sebuah sistem dapat "berperilaku" sangat liar, namun suatu saat akhirnya sistem akan kembali pada kondisi kesetimbangan. Ini bertentangan sama sekali dengan chaos yang telah dilihat oleh ketiga orang tersebut. Bukan tidak mungkin ada list yang lebih panjang lagi berisi nama-nama orang yang telah melihat fenomena chaos di sistem yang mereka miliki, namun tidak berani memublikasikannya.
Edward Lorenz sendiri mendapat reaksi negatif dari rekannya ketika ia dengan penuh semangat menjelaskan fenomena itu, "Ed, alam di mana kita hidup tidak berperilaku seperti yang kau deskripsikan!" Kata seorang profesor Fisika kepada E Lorenz.
Ada seorang matematikawan bernama Stephen Smale yang sebenarnya kontra terhadap teori chaos. Tetapi ketika ia membaca paper E Lorenz, ia mulai berpikir tentang kemungkinan selain teorinya sendiri. Akhirnya, ia menciptakan Pemetaan Sepatu Kuda (Horse-shoe map) yang sampai saat ini merupakan bentuk paling sederhana dari sistem yang memuat skenario menuju chaos.
Chaos dan fraktal
Fraktal bukan chaos. Fraktal adalah suatu struktur yang memiliki substruktur yang masing-masing substruktur memiliki substruktur lagi dan seterusnya. Setiap substruktur adalah replika kecil dari struktur besar yang memuatnya.
Contoh yang paling sederhana dari fraktal adalah jika kita memegang cermin di hadapan sebuah cermin. Di dalam cermin yang dipegang ada bayangan orang yang memegang cermin. Di dalam cermin yang ada di bayangan, ada bayangan si pemegang cermin itu lagi, dan seterusnya.
Sebuah chaotic attractor terkadang juga memiliki struktur fraktal seperti itu. Keunikan dari benda-benda yang memiliki struktur fraktal adalah dimensinya. Secara umum, solusi dari sebuah sistem dinamis adalah sebuah obyek matematis yang berdimensi satu (mempunyai ukuran yang sama dengan garis). Jika solusi itu merupakan solusi yang chaotic, ia mempunyai dimensi fraktal berupa pecahan. Misalnya, berdimensi 2,3 yang berarti benda itu lebih tebal daripada bidang (yang berdimensi 2), tetapi masih lebih kecil daripada ruang (yang berdimensi 3).
Chaos dan bifurkasi
Hampir semua sistem dinamis yang terkait dengan alam ini memuat satu atau lebih parameter di dalam sistem itu. Contohnya adalah jika kita bekerja dengan hukum Newton, maka ada konstanta gravitasi yang besarnya tetap, tetapi tidak kita ketahui nilai eksaknya.
Pertanyaannya, jika ada suatu sistem yang bergantung pada parameter tertentu yang tidak diketahui besarnya, apakah dinamika dari sistem itu terpengaruh oleh perubahan nilai parameternya? Dapatkah suatu kondisi stabil berubah menjadi tidak stabil jika nilai parameternya berubah?
Bayangkanlah sistem tata surya. Ada perputaran benda-benda langit pada orbitnya masing-masing. Ada banyak sekali parameter yang terlibat dalam sistem yang mendeskripsikan sistem tata surya. Pertanyaannya adalah apakah sistem itu cukup stabil (dalam artian tidak terlalu sensitif) terhadap perubahan nilai parameternya?
Jika tidak, ketika manusia mengirimkan satelit, bisa menjadi gangguan yang terlampau besar dan memaksa sistem tata surya bergerak menuju kondisi stabil yang baru. Dapat terjadi orbit Bumi pindah ke orbit lain yang lebih besar dan berakibat turunnya suhu Bumi dan kematian besar. Inilah pertanyaan yang berusaha dijawab oleh Henri Poincare'.
Perubahan kestabilan atau perubahan yang dramatis dalam dinamika suatu sistem akibat berubahnya nilai parameter dalam sistem dinamakan bifurkasi. Bifurkasi tidak selalu terkait dengan kekompleksan. Tetapi, ada beberapa jenis bifurkasi yang senantiasa terkait dengan bertambahnya kerumitan sistem yang pada akhirnya mengakibatkan chaos.
Salah satunya adalah apa yang dikenal dengan period-doubling. Yang terjadi pada bifurkasi ini adalah sebuah gerakan periodik yang mengalami bifurkasi dan melontarkan gerakan periodik lain yang periodenya dua kali periode semula. Kemudian masing-masing gerakan periodik itu mengalami bifurkasi lagi yang sama dan seterusnya.
Masing-masing gerakan periodik yang terlontar, biasanya tidak stabil. Akibatnya, pada suatu nilai parameter tertentu ada sangat banyak gerakan periodik yang tak stabil dalam sistem. Ketika ini terjadi, dinamika sistem sudah sangat kompleks dan chaos terjadi.
Definisi chaos
Jadi apakah chaos itu? Chaos bukan fraktal, tetapi chaotic attractor mungkin mempunyai struktur fraktal. Chaos juga bukan suatu gerakan perulangan murni. Chaos juga tidak berarti gerakan tak beraturan. Dalam gerakan chaotic, misalnya pada kupu-kupu Lorenz (Lorenz butterfly), gerakannya berulang, tetapi secara tidak beraturan.
Seperti melempar dadu 100 kali. Berulang? Jelas. Yang keluar bisa satu, dua, tiga, empat, lima, atau enam. Beraturan? tidak. Tetapi, sama sekali tidak beraturan juga tidak karena angka satu keluar kira-kira sebanyak 1/6 kali banyaknya pelemparan. Peristiwa ini dinamakan proses random (acak).
Melempar dadu mengandung unsur ketidakpastian (atau ke-random-an). Yang ingin saya katakan adalah dalam proses di mana tidak ada ketidakpastian pun, keluarannya bisa tidak terprediksi, yaitu jika sistemnya chaotic.
Sistem chaotic juga mempunyai properti khusus, yaitu bergantung secara sensitif terhadap kondisi awal. Kesalahan yang kecil dalam waktu singkat akan tersebar di seluruh sistem. Jadi, dua solusi yang berbeda hanya sedikit di awal akan berbeda sangat jauh setelah beberapa saat yang relatif singkat.
Dalam mitologi Yunani chaos merupakan keadaan awal kemunculan para dewa. Konon kata chaos paling awal ditemukan pada buku Theogeny karya Hesoid, filsuf Yunani yang hidup pada 700 tahun sebelum Masehi. Chaos sendiri dalam bahasa Yunani berarti “membuka kehampaan”. Sebagai seorang sosok dewa, Chaos merupakan suatu kehampaan yang menjadi tempat kemunculan objek-objek pertama. Objek awal tersebut, dikenal sebagai anak-anak Chaos, yaitu Gaia, Tartarus, dan Eros, sebagian lain menambahkan Nyx dan Erebus.
Dalam konteks sains, khususnya fisika dan matematika, chaos berarti suatu sistem yang sangat sensitif terhadap gangguan. Artinya, gangguan sedikit saja terhadap sistem chaos ini dapat menghasilkan perubahan yang besar. Fenomena ini populer dengan sebutan efek kupu-kupu (Butterfly Effect). Dalam terminologi efek kupu-kupu, satu kepakan sayap seekor kupu-kupu yang lemah dipercaya dapat menghasilkan badai tornado di daerah yang berjarak ribuan km dari posisi kupu-kupu tersebut
Teori chaos lahir dari rasa ingin tahu manusia terhadap yang akan datang. Kita selalu menanyakan bagaimana sebuah sistem berubah dari waktu ke waktu. Di dalam teori chaos manusia menemukan bahwa bahwa terkadang sebuah perubahan tidaklah serumit sebagaimana ia terlihat. Bahkan dari sistem yang secara matematis sangat sederhana sekalipun dapat dihasilkan pola-pola yang chaotik.
Jadi, tidak seperti yang dipersepsikan banyak orang yang selalu mengaitkan chaos dengan ketidakteraturan. Bahkan, di dalam chaos sekalipun tersimpan keteraturan. Pendek kata : teori chaos sebenarnya bicara tentang keteraturan, bukan ketidak-teraturan.
Chaos pertama kali terobservasi dalam sebuah sistem yang dikenal dengan nama sistem dinamis. Tidaklah berlebihan jika kelahiran sistem dinamis dikaitkan dengan seorang matematikawan Perancis, Henri Poincare' pada masa pergantian dari abad ke-19 ke abad ke-20.
Pada era itu, perhatian matematikawan terpusat pada pencarian solusi dari suatu sistem. Henri Poincare' adalah yang pertama kali membangun suatu metode untuk menganalisis sistem tanpa menghitung solusi secara eksplisit dan melahirkan teori modern tentang persamaan diferensial. Dari tulisan Henri Poincare', dapat disimpulkan bahwa Poincare' telah mengenal chaos.
Pada permulaan abad ke-20, yaitu masa hidup B van der Pol, Duffing, maupun E Lorenz, trend yang berkembang adalah keyakinan bahwa sebuah sistem dapat "berperilaku" sangat liar, namun suatu saat akhirnya sistem akan kembali pada kondisi kesetimbangan. Ini bertentangan sama sekali dengan chaos yang telah dilihat oleh ketiga orang tersebut. Bukan tidak mungkin ada list yang lebih panjang lagi berisi nama-nama orang yang telah melihat fenomena chaos di sistem yang mereka miliki, namun tidak berani memublikasikannya.
Edward Lorenz sendiri mendapat reaksi negatif dari rekannya ketika ia dengan penuh semangat menjelaskan fenomena itu, "Ed, alam di mana kita hidup tidak berperilaku seperti yang kau deskripsikan!" Kata seorang profesor Fisika kepada E Lorenz.
Ada seorang matematikawan bernama Stephen Smale yang sebenarnya kontra terhadap teori chaos. Tetapi ketika ia membaca paper E Lorenz, ia mulai berpikir tentang kemungkinan selain teorinya sendiri. Akhirnya, ia menciptakan Pemetaan Sepatu Kuda (Horse-shoe map) yang sampai saat ini merupakan bentuk paling sederhana dari sistem yang memuat skenario menuju chaos.
Chaos dan fraktal
Fraktal bukan chaos. Fraktal adalah suatu struktur yang memiliki substruktur yang masing-masing substruktur memiliki substruktur lagi dan seterusnya. Setiap substruktur adalah replika kecil dari struktur besar yang memuatnya.
Contoh yang paling sederhana dari fraktal adalah jika kita memegang cermin di hadapan sebuah cermin. Di dalam cermin yang dipegang ada bayangan orang yang memegang cermin. Di dalam cermin yang ada di bayangan, ada bayangan si pemegang cermin itu lagi, dan seterusnya.
Sebuah chaotic attractor terkadang juga memiliki struktur fraktal seperti itu. Keunikan dari benda-benda yang memiliki struktur fraktal adalah dimensinya. Secara umum, solusi dari sebuah sistem dinamis adalah sebuah obyek matematis yang berdimensi satu (mempunyai ukuran yang sama dengan garis). Jika solusi itu merupakan solusi yang chaotic, ia mempunyai dimensi fraktal berupa pecahan. Misalnya, berdimensi 2,3 yang berarti benda itu lebih tebal daripada bidang (yang berdimensi 2), tetapi masih lebih kecil daripada ruang (yang berdimensi 3).
Chaos dan bifurkasi
Hampir semua sistem dinamis yang terkait dengan alam ini memuat satu atau lebih parameter di dalam sistem itu. Contohnya adalah jika kita bekerja dengan hukum Newton, maka ada konstanta gravitasi yang besarnya tetap, tetapi tidak kita ketahui nilai eksaknya.
Pertanyaannya, jika ada suatu sistem yang bergantung pada parameter tertentu yang tidak diketahui besarnya, apakah dinamika dari sistem itu terpengaruh oleh perubahan nilai parameternya? Dapatkah suatu kondisi stabil berubah menjadi tidak stabil jika nilai parameternya berubah?
Bayangkanlah sistem tata surya. Ada perputaran benda-benda langit pada orbitnya masing-masing. Ada banyak sekali parameter yang terlibat dalam sistem yang mendeskripsikan sistem tata surya. Pertanyaannya adalah apakah sistem itu cukup stabil (dalam artian tidak terlalu sensitif) terhadap perubahan nilai parameternya?
Jika tidak, ketika manusia mengirimkan satelit, bisa menjadi gangguan yang terlampau besar dan memaksa sistem tata surya bergerak menuju kondisi stabil yang baru. Dapat terjadi orbit Bumi pindah ke orbit lain yang lebih besar dan berakibat turunnya suhu Bumi dan kematian besar. Inilah pertanyaan yang berusaha dijawab oleh Henri Poincare'.
Perubahan kestabilan atau perubahan yang dramatis dalam dinamika suatu sistem akibat berubahnya nilai parameter dalam sistem dinamakan bifurkasi. Bifurkasi tidak selalu terkait dengan kekompleksan. Tetapi, ada beberapa jenis bifurkasi yang senantiasa terkait dengan bertambahnya kerumitan sistem yang pada akhirnya mengakibatkan chaos.
Salah satunya adalah apa yang dikenal dengan period-doubling. Yang terjadi pada bifurkasi ini adalah sebuah gerakan periodik yang mengalami bifurkasi dan melontarkan gerakan periodik lain yang periodenya dua kali periode semula. Kemudian masing-masing gerakan periodik itu mengalami bifurkasi lagi yang sama dan seterusnya.
Masing-masing gerakan periodik yang terlontar, biasanya tidak stabil. Akibatnya, pada suatu nilai parameter tertentu ada sangat banyak gerakan periodik yang tak stabil dalam sistem. Ketika ini terjadi, dinamika sistem sudah sangat kompleks dan chaos terjadi.
Definisi chaos
Jadi apakah chaos itu? Chaos bukan fraktal, tetapi chaotic attractor mungkin mempunyai struktur fraktal. Chaos juga bukan suatu gerakan perulangan murni. Chaos juga tidak berarti gerakan tak beraturan. Dalam gerakan chaotic, misalnya pada kupu-kupu Lorenz (Lorenz butterfly), gerakannya berulang, tetapi secara tidak beraturan.
Seperti melempar dadu 100 kali. Berulang? Jelas. Yang keluar bisa satu, dua, tiga, empat, lima, atau enam. Beraturan? tidak. Tetapi, sama sekali tidak beraturan juga tidak karena angka satu keluar kira-kira sebanyak 1/6 kali banyaknya pelemparan. Peristiwa ini dinamakan proses random (acak).
Melempar dadu mengandung unsur ketidakpastian (atau ke-random-an). Yang ingin saya katakan adalah dalam proses di mana tidak ada ketidakpastian pun, keluarannya bisa tidak terprediksi, yaitu jika sistemnya chaotic.
Sistem chaotic juga mempunyai properti khusus, yaitu bergantung secara sensitif terhadap kondisi awal. Kesalahan yang kecil dalam waktu singkat akan tersebar di seluruh sistem. Jadi, dua solusi yang berbeda hanya sedikit di awal akan berbeda sangat jauh setelah beberapa saat yang relatif singkat.
Dalam mitologi Yunani chaos merupakan keadaan awal kemunculan para dewa. Konon kata chaos paling awal ditemukan pada buku Theogeny karya Hesoid, filsuf Yunani yang hidup pada 700 tahun sebelum Masehi. Chaos sendiri dalam bahasa Yunani berarti “membuka kehampaan”. Sebagai seorang sosok dewa, Chaos merupakan suatu kehampaan yang menjadi tempat kemunculan objek-objek pertama. Objek awal tersebut, dikenal sebagai anak-anak Chaos, yaitu Gaia, Tartarus, dan Eros, sebagian lain menambahkan Nyx dan Erebus.
Dalam konteks sains, khususnya fisika dan matematika, chaos berarti suatu sistem yang sangat sensitif terhadap gangguan. Artinya, gangguan sedikit saja terhadap sistem chaos ini dapat menghasilkan perubahan yang besar. Fenomena ini populer dengan sebutan efek kupu-kupu (Butterfly Effect). Dalam terminologi efek kupu-kupu, satu kepakan sayap seekor kupu-kupu yang lemah dipercaya dapat menghasilkan badai tornado di daerah yang berjarak ribuan km dari posisi kupu-kupu tersebut
Teori chaos lahir dari rasa ingin tahu manusia terhadap yang akan datang. Kita selalu menanyakan bagaimana sebuah sistem berubah dari waktu ke waktu. Di dalam teori chaos manusia menemukan bahwa bahwa terkadang sebuah perubahan tidaklah serumit sebagaimana ia terlihat. Bahkan dari sistem yang secara matematis sangat sederhana sekalipun dapat dihasilkan pola-pola yang chaotik.
Jadi, tidak seperti yang dipersepsikan banyak orang yang selalu mengaitkan chaos dengan ketidakteraturan. Bahkan, di dalam chaos sekalipun tersimpan keteraturan. Pendek kata : teori chaos sebenarnya bicara tentang keteraturan, bukan ketidak-teraturan.
Minggu, 19 September 2010
7 Mitos Berbeda Dengan Fakta
Sepanjang hidup kita mendengar berbagai macam fakta yang sudah diterima orang banyak sebagai suatu kebenaran. Namun terkadang fakta-fakta tersebut sering tidak benar namun (seperti bahasan kemarin) sering diulang-ulang dalam kebudayaan kita sehingga terasa benar. Daftar ini berisi 7 buah mitos yang dipercaya sebagai suatu fakta.
Bunglon Berubah Warna Untuk Kamuflase
Mitosnya: Bunglon merubah warna kulitnya sama dengan daerah di sekelilingnya sehingga predator tidak akan dapat melihat bunglon itu. Intinya sang bunglon melakukan kamuflase untuk menyelamatkan dirinya.
Faktanya: Bunglon memang bisa merubah warna kulitnya namun hal itu lebih disebabkan karena kondisi emosi si Bunglon. Ketika Bunglon bertemu lawan jenis, ia akan berubah warna menjadi kebiruan. Jika Bunglon sedang agresif ia akan berubah warna menjadi hitam. Tidak ada hubungannya dengan kamuflase.
Kalau Rambut/Kumis Dicukur Akan Tumbuh Kembali Lebih Tebal
Mitosnya: Saat hendak bercukur atau menggunduli rambut kita sering diberitahu orang bahwa bulu kita akan tumbuh jauh lebih tebal setelah dicukur.
Faktanya: Tidak ada bukti ilmiah yang memastikan hal tersebut, hal ini lebih dikarenakan orang-tua menginginkan anaknya klimis dan bersih sehingga agar anak-anak/remaja mau digunting rambut/cukur kumis mereka menasehatkan hal seperti itu, yang akhirnya menjadi mitos yang diterima masyarakat.
Cuaca Dingin Menyebabkan Flu
Mitosnya: Cuaca dingin akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga kita mudah terkena flu. Untuk alasan yang sama juga kita menghindari udara dingin ketika sedang musim flu.
Faktanya: Khusus untuk penyakit flu, daya tahan tubuh yang menurun memang menyebabkan tubuh lebih mudah terserang penyakit. Namun cuaca apapun tidak ada korelasinya dengan daya tahan tubuh. Malahan pada cuaca panas bibit penyakit lebih aktif. Banyak orang terserang flu saat cuaca dingin karena orang menjadi sering berkumpul bersama di dalam ruangan yang mempermudah penyebaran penyakit itu.
Tembok China Adalah Satu-satunya Struktur Buatan Manusia Yang Bisa Dilihat Dari Luar Angkasa
Mitosnya: Sangking panjangnya tembok cina, bangunan ini bisa dilihat dari luar angkasa ketika para astronot mengalihkan pandangan mereka ke China.
Faktanya: Pada jarak yang sama tembok China bisa terlihat dari luar angkasa, jalan raya, kota-kota, bandar udara, dan banyak struktur lain juga bisa dilihat dari atas sana. Lihat saja sebuah hasil foto satelit.
Indonesia Dijajah 350 Tahun Oleh Belanda
Mitosnya: Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun mulai dari tahun 1592 sampai 1942 ketika Jepang datang.
Faktanya: Sampai tahun 1900 pun masih banyak daerah di Indonesia yang merdeka. Ingat perang Sisingamangaraja? (1887-1907). Intinya mungkin lebih tepat dikatankan kalau Belanda perlu 300 tahun-an untuk menaklukan seluruh Indonesia. Itupun sebenarnya masih banyak wilayah yang semi-otonom. Belanda menguasai Indonesia dengan bangsanya sendiri.
Maria Magdalena Seorang Pelacur
Mitosnya: Maria Magdalena, seorang murid Yesus merupakan seorang pelacur yang bertobat. Dalam berbagai literatur sering dikatikan menjadi kekasih Yesus, dipolulerkan ke khalayak ramai oleh Dan Brown.
Faktanya: Tidak pernah ada bukti Maria Magdalena itu seorang pelacur, baik dalam Injil, Injil Apokripha maupun catatan sejarah. Bahkan dalam Injil ia hanya disebut dua kali.
Darwin Mengatakan Bahwa Manusia Berevolusi Dari Kera
Mitosnya: Charles Darwin yang menelurkan Teori Evolusi (Inipun masih bisa diperdebatkan apa dia menjiplak atau hasil buah tangannya sendiri), mengatakan bahwa manusia berevolusi dari kera.
Faktanya: Dia tidak pernah mengatakan hal ini. Tidak ada ilmuwan pula yang akan mengatakan hal demikian. Para penolak teori evolusi yang menyebarkan hal ini untuk menjatuhkan pamor Teori Evolusi. Menurut Teori Evolusi manusia tidak berevolusi dari kera namun memiliki nenek moyang yang sama.
Bunglon Berubah Warna Untuk Kamuflase
Mitosnya: Bunglon merubah warna kulitnya sama dengan daerah di sekelilingnya sehingga predator tidak akan dapat melihat bunglon itu. Intinya sang bunglon melakukan kamuflase untuk menyelamatkan dirinya.
Faktanya: Bunglon memang bisa merubah warna kulitnya namun hal itu lebih disebabkan karena kondisi emosi si Bunglon. Ketika Bunglon bertemu lawan jenis, ia akan berubah warna menjadi kebiruan. Jika Bunglon sedang agresif ia akan berubah warna menjadi hitam. Tidak ada hubungannya dengan kamuflase.
Kalau Rambut/Kumis Dicukur Akan Tumbuh Kembali Lebih Tebal
Mitosnya: Saat hendak bercukur atau menggunduli rambut kita sering diberitahu orang bahwa bulu kita akan tumbuh jauh lebih tebal setelah dicukur.
Faktanya: Tidak ada bukti ilmiah yang memastikan hal tersebut, hal ini lebih dikarenakan orang-tua menginginkan anaknya klimis dan bersih sehingga agar anak-anak/remaja mau digunting rambut/cukur kumis mereka menasehatkan hal seperti itu, yang akhirnya menjadi mitos yang diterima masyarakat.
Cuaca Dingin Menyebabkan Flu
Mitosnya: Cuaca dingin akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga kita mudah terkena flu. Untuk alasan yang sama juga kita menghindari udara dingin ketika sedang musim flu.
Faktanya: Khusus untuk penyakit flu, daya tahan tubuh yang menurun memang menyebabkan tubuh lebih mudah terserang penyakit. Namun cuaca apapun tidak ada korelasinya dengan daya tahan tubuh. Malahan pada cuaca panas bibit penyakit lebih aktif. Banyak orang terserang flu saat cuaca dingin karena orang menjadi sering berkumpul bersama di dalam ruangan yang mempermudah penyebaran penyakit itu.
Tembok China Adalah Satu-satunya Struktur Buatan Manusia Yang Bisa Dilihat Dari Luar Angkasa
Mitosnya: Sangking panjangnya tembok cina, bangunan ini bisa dilihat dari luar angkasa ketika para astronot mengalihkan pandangan mereka ke China.
Faktanya: Pada jarak yang sama tembok China bisa terlihat dari luar angkasa, jalan raya, kota-kota, bandar udara, dan banyak struktur lain juga bisa dilihat dari atas sana. Lihat saja sebuah hasil foto satelit.
Indonesia Dijajah 350 Tahun Oleh Belanda
Mitosnya: Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun mulai dari tahun 1592 sampai 1942 ketika Jepang datang.
Faktanya: Sampai tahun 1900 pun masih banyak daerah di Indonesia yang merdeka. Ingat perang Sisingamangaraja? (1887-1907). Intinya mungkin lebih tepat dikatankan kalau Belanda perlu 300 tahun-an untuk menaklukan seluruh Indonesia. Itupun sebenarnya masih banyak wilayah yang semi-otonom. Belanda menguasai Indonesia dengan bangsanya sendiri.
Maria Magdalena Seorang Pelacur
Mitosnya: Maria Magdalena, seorang murid Yesus merupakan seorang pelacur yang bertobat. Dalam berbagai literatur sering dikatikan menjadi kekasih Yesus, dipolulerkan ke khalayak ramai oleh Dan Brown.
Faktanya: Tidak pernah ada bukti Maria Magdalena itu seorang pelacur, baik dalam Injil, Injil Apokripha maupun catatan sejarah. Bahkan dalam Injil ia hanya disebut dua kali.
Darwin Mengatakan Bahwa Manusia Berevolusi Dari Kera
Mitosnya: Charles Darwin yang menelurkan Teori Evolusi (Inipun masih bisa diperdebatkan apa dia menjiplak atau hasil buah tangannya sendiri), mengatakan bahwa manusia berevolusi dari kera.
Faktanya: Dia tidak pernah mengatakan hal ini. Tidak ada ilmuwan pula yang akan mengatakan hal demikian. Para penolak teori evolusi yang menyebarkan hal ini untuk menjatuhkan pamor Teori Evolusi. Menurut Teori Evolusi manusia tidak berevolusi dari kera namun memiliki nenek moyang yang sama.
Senin, 06 September 2010
Tradisi Mudik, Ada Spektakuleritas Makna Didalamnya
Tradisi mudik Lebaran dalam masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun sangat mengesankan, mencengangkan, sekaligus sangat merepotkan terutama bagi pemerintah dan aparat keamanan. Setiap tahun menjelang Lebaran (Idul Fitri), orang dalam jumlah jutaan manusia seakan ‘digerakkan’ oleh suatu kekuatan luar-biasa dari satu tempat—metropolis—yang dianggap sebagai tempat mancari nafkah ke suatu tempat—kampung halaman lain yang disebut sebagai tempat asal-muasalnya.
Menjelang Lebaran, masyarakat Indonesia bergerak dalam jumlah yang sangat menajubkan sehingga budayawan terkemuka Indonesia, Umar Kayam (1993), pernah mengatakan bahwa mudik Lebaran itu sebagai “menjalani suatu ritus yang tidak jelas apakah itu suatu keajaiban fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya”. Fenomena mudik Lebaran ini nyaris merupakan suatu keajaiban karena agaknya, tidak ada satu ritus lain pun di Indonesia yang dapat menandinginya dalam skala dinamika gerak massa manusia.
Ritus mudik Lebaran ini telah memindahkan massa manusia dalam jutaan orang dari suatu kota ke kota yang lain atau dari suatu kota ke daerah pedesaan (migrasi kota desa)—terutama di Jawa, Bali, dan Sumatera—dalam waktu seminggu atau dua minggu secara ulang-alik. Dalam gerak perpindahan ulang-alik ini, jutaan manusia ambil bagian dalam ritus mudik Lebaran tersebut. Tentu saja jumlah orang yang akan diangkut kendaraan (bus, kereta api, pesawat terbang, dan kapal laut) tidak sebanding sehingga bepergian dalam rangka ritus mudik Lebaran ini merupakan suatu pergulatan atau perjuangan tersendiri.
Menurut perkiraan Departemen Perhubungan, jumlah arus mudik tahun ini (2006) akan mencapai 20,82 juta orang, atau naik 11 persen dibandingkan dengan tahun lalu (2005). Dari jumlah ini, 10 juta orang akan menggunakan angkutan jalan raya, 4,37 juta memanfaatkan kereta api, 2,27 juta memakai angkutan penyeberangan (feri), 1,13 juta dengan kapal laut, dan 2,59 juta akan menumpang pesawat terbang. Tidak mudah mengatur mobilitas orang dalam jumlah demikian banyaknya, terutama pada saat puncak arus mudik Lebaran, yakni pada H-2.
Mudik Lebaran yang telah menjadi sebuah fenomena bagi masyarakat Indonesia ini telah mengerahkan dana yang sangat besar. Orang yang hidup dan bekerja di suatu kota besar akan menggerakkan sejumlah dana yang cukup signifikan ke suatu kota lain—kampung halamannya. Tentu saja, mobilitas finansial ini juga merupakan fenomena tersendiri bagi geliat ekonomi dan roda pembangunan di daerah pedesaan atau di kota lainnya.
Ritus ini telah mengumpulkan keluarga inti yang berserakan di kota-kota besar di Pulau Jawa atau di luar Pulau Jawa, di Bali atau Sumatera, yang tidak sempat reriungan dengan keluarga besar mereka sehingga ritus ini merupakan ritus untuk menegakkan kembali kesetiaan yang terhampar dan menyebar di mana-mana.
Ritus nasional
Ritus mudik Lebaran ini adalah ritus “manajerial nasional” atau proyek nasional yang melibatkan keseriusan pemerintah, lembaga (bisnis) swasta, dan masyarakat itu sendiri. Ritus mudik Lebaran ini melibatkan dana bukan hanya dalam skala keluarga pribadi, melainkan dana negara dan swasta serta fasilitas dan angkatan bersenjata negara. Bukankah ini merupakan ritus nasional karena keterlibatan fasilitas nasional yang harus dikelola?
Di negara industri maju seperti Amerika Serikat (AS) misalnya, yang mempunyai ritus Christmas day dan Thanksgiving day, dimana pada ritus tersebut mereka jadikan sebagai ajang untuk berkumpulnya seluruh keluarga inti mereka. Tetapi, apakah mudik Christmas dan Thanksgiving bagi masyarakat AS sefenomenal atau sekompak “mudik Lebaran” di Indonesia yang melibatkan orang, sumber daya, dan fasilitas negara dalam skala besar?
Dalam peristiwa berikut—Christmas dan Thanksgiving—agaknya presiden dan para menteri di AS tidak terlibat secara langsung, institusi militer mereka tidak dikerahkan untuk mendirikan posko serta disiagakan, perusahaan angkutan umum tidak dikomandoi oleh menteri Perhubungan, atau Kepolisian mereka tidak perlu disiagakan dengan sandi “Operasi Ketupat” atau “Operasi Lilin” seperti di Indonesia. Ritus mudik Christmas dan Thanksgiving merupakan arena berkumpul dalam skala keluarga inti, tidak dalam skala keluaga jaringan.
Apakah ketika negara maju seperti AS tersebut belum menjadi negara industri maju yang terpecah dalam kota-kota dan masih menjadi negara agraris, mudik Christmas dan Thanksgiving mereka seheboh ritus mudik Lebaran? Bisakah ritus mudik Christmas dan Thanksgiving menjadi sebuah fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya? Mungkin bagi masyarakat Indonesia, mudik Lebaran adalah sebuah ritus yang lebih hangat, lebih emosional, dan lebih romantis; meskipun sangat merepotkan. Tetapi, apakah fenomena ritus seperti ini masih dapat dipertahankan dalam waktu yang lama di masa-masa mendatang?
Perubahan total
Bagi kaum agamis yang menitikberatkan pandangannya dari sudut penghayatan agama, berpendapat bahwa kondisi seperti ini dapat dipertahankan apabila akar penghayatan agama dalam masyarakat masih kuat. Para sosiolog mungkin berpendapat sebaliknya, bahwa kondisi tersebut akan berubah bila kita telah berubah menjadi masyarakat kota (metropolitan), dan tidak lagi menjadi masyarakat desa (rural society)—dimana hubungan antara keluarga jaringan dan keluarga inti menjadi semakin renggang.
Bagi kaum determinis budaya, mudik Lebaran adalah fenomena budaya yang paling mendasar dan mentradisi. Apabila kita tidak dapat mempertahakan tradisi ini, maka kita akan kehilangan akar budaya. Bila suatu masyarakat kehilangan akar budayanya, maka masyarakat tersebut akan kehilangan pegangan hidup dan kehilangan segalanya.
Barangkali secara terpisah, setiap sudut pandang tersebut memiliki kekuatan argumentasinya sendiri. Tetapi, ritus mudik Lebaran ini adalah sebuah fenomena ritus yang total. Fenomena ini bukan potret terpisah dari Islam, masyarakat Indonesia, orang Jawa, orang Sumatera, kota atau desa di Indonesia; kereta api atau bus-bus yang penuh sesak, berhimpitan, dan loket-loket penjualan tiket penumpang dengan pemandangan antrian panjang yang membosankan. Kondisi ini mengesankan tiadanya penghargaan atas hakikat manusia dan seolah-olah memperlakukan manusia ibarat binatang ternak (kambing congek) dalam suatu pengangkutan menuju penjagalan atau tempat pemotongan hewan.
Maka, membayangkan suatu perkembangan di masa mendatang dalam konteks fenomena ritus mudik Lebaran, seyogianya membayangkan perubahan ritus tersebut secara total. Membayangkan perubahan tersebut mungkin sebaiknya optimis. Yakni membayangkan suatu tatanan masyarakat berbudaya, dimana toleransi beragama berjalan dengan damai di sebuah negeri yang mengakui pluralisme dan heterogenitas struktural.
Akhirnya, membayangkan suatu perubahan budaya yang mentradisi adalah membayangkan suatu masyarakat yang hidup dalam tatanan yang berkeadilan sosial dan sejahtera. Hidup dalam pemerintahan yang bersih dan jujur, yang senantiasa memperjuangkan kepentingan dan nasib rakyatnya dan tidak mementingkan diri sendiri atau kelompok. Kemudian membayangkan vitalitas budaya bangsanya.
Menjelang Lebaran, masyarakat Indonesia bergerak dalam jumlah yang sangat menajubkan sehingga budayawan terkemuka Indonesia, Umar Kayam (1993), pernah mengatakan bahwa mudik Lebaran itu sebagai “menjalani suatu ritus yang tidak jelas apakah itu suatu keajaiban fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya”. Fenomena mudik Lebaran ini nyaris merupakan suatu keajaiban karena agaknya, tidak ada satu ritus lain pun di Indonesia yang dapat menandinginya dalam skala dinamika gerak massa manusia.
Ritus mudik Lebaran ini telah memindahkan massa manusia dalam jutaan orang dari suatu kota ke kota yang lain atau dari suatu kota ke daerah pedesaan (migrasi kota desa)—terutama di Jawa, Bali, dan Sumatera—dalam waktu seminggu atau dua minggu secara ulang-alik. Dalam gerak perpindahan ulang-alik ini, jutaan manusia ambil bagian dalam ritus mudik Lebaran tersebut. Tentu saja jumlah orang yang akan diangkut kendaraan (bus, kereta api, pesawat terbang, dan kapal laut) tidak sebanding sehingga bepergian dalam rangka ritus mudik Lebaran ini merupakan suatu pergulatan atau perjuangan tersendiri.
Menurut perkiraan Departemen Perhubungan, jumlah arus mudik tahun ini (2006) akan mencapai 20,82 juta orang, atau naik 11 persen dibandingkan dengan tahun lalu (2005). Dari jumlah ini, 10 juta orang akan menggunakan angkutan jalan raya, 4,37 juta memanfaatkan kereta api, 2,27 juta memakai angkutan penyeberangan (feri), 1,13 juta dengan kapal laut, dan 2,59 juta akan menumpang pesawat terbang. Tidak mudah mengatur mobilitas orang dalam jumlah demikian banyaknya, terutama pada saat puncak arus mudik Lebaran, yakni pada H-2.
Mudik Lebaran yang telah menjadi sebuah fenomena bagi masyarakat Indonesia ini telah mengerahkan dana yang sangat besar. Orang yang hidup dan bekerja di suatu kota besar akan menggerakkan sejumlah dana yang cukup signifikan ke suatu kota lain—kampung halamannya. Tentu saja, mobilitas finansial ini juga merupakan fenomena tersendiri bagi geliat ekonomi dan roda pembangunan di daerah pedesaan atau di kota lainnya.
Ritus ini telah mengumpulkan keluarga inti yang berserakan di kota-kota besar di Pulau Jawa atau di luar Pulau Jawa, di Bali atau Sumatera, yang tidak sempat reriungan dengan keluarga besar mereka sehingga ritus ini merupakan ritus untuk menegakkan kembali kesetiaan yang terhampar dan menyebar di mana-mana.
Ritus nasional
Ritus mudik Lebaran ini adalah ritus “manajerial nasional” atau proyek nasional yang melibatkan keseriusan pemerintah, lembaga (bisnis) swasta, dan masyarakat itu sendiri. Ritus mudik Lebaran ini melibatkan dana bukan hanya dalam skala keluarga pribadi, melainkan dana negara dan swasta serta fasilitas dan angkatan bersenjata negara. Bukankah ini merupakan ritus nasional karena keterlibatan fasilitas nasional yang harus dikelola?
Di negara industri maju seperti Amerika Serikat (AS) misalnya, yang mempunyai ritus Christmas day dan Thanksgiving day, dimana pada ritus tersebut mereka jadikan sebagai ajang untuk berkumpulnya seluruh keluarga inti mereka. Tetapi, apakah mudik Christmas dan Thanksgiving bagi masyarakat AS sefenomenal atau sekompak “mudik Lebaran” di Indonesia yang melibatkan orang, sumber daya, dan fasilitas negara dalam skala besar?
Dalam peristiwa berikut—Christmas dan Thanksgiving—agaknya presiden dan para menteri di AS tidak terlibat secara langsung, institusi militer mereka tidak dikerahkan untuk mendirikan posko serta disiagakan, perusahaan angkutan umum tidak dikomandoi oleh menteri Perhubungan, atau Kepolisian mereka tidak perlu disiagakan dengan sandi “Operasi Ketupat” atau “Operasi Lilin” seperti di Indonesia. Ritus mudik Christmas dan Thanksgiving merupakan arena berkumpul dalam skala keluarga inti, tidak dalam skala keluaga jaringan.
Apakah ketika negara maju seperti AS tersebut belum menjadi negara industri maju yang terpecah dalam kota-kota dan masih menjadi negara agraris, mudik Christmas dan Thanksgiving mereka seheboh ritus mudik Lebaran? Bisakah ritus mudik Christmas dan Thanksgiving menjadi sebuah fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya? Mungkin bagi masyarakat Indonesia, mudik Lebaran adalah sebuah ritus yang lebih hangat, lebih emosional, dan lebih romantis; meskipun sangat merepotkan. Tetapi, apakah fenomena ritus seperti ini masih dapat dipertahankan dalam waktu yang lama di masa-masa mendatang?
Perubahan total
Bagi kaum agamis yang menitikberatkan pandangannya dari sudut penghayatan agama, berpendapat bahwa kondisi seperti ini dapat dipertahankan apabila akar penghayatan agama dalam masyarakat masih kuat. Para sosiolog mungkin berpendapat sebaliknya, bahwa kondisi tersebut akan berubah bila kita telah berubah menjadi masyarakat kota (metropolitan), dan tidak lagi menjadi masyarakat desa (rural society)—dimana hubungan antara keluarga jaringan dan keluarga inti menjadi semakin renggang.
Bagi kaum determinis budaya, mudik Lebaran adalah fenomena budaya yang paling mendasar dan mentradisi. Apabila kita tidak dapat mempertahakan tradisi ini, maka kita akan kehilangan akar budaya. Bila suatu masyarakat kehilangan akar budayanya, maka masyarakat tersebut akan kehilangan pegangan hidup dan kehilangan segalanya.
Barangkali secara terpisah, setiap sudut pandang tersebut memiliki kekuatan argumentasinya sendiri. Tetapi, ritus mudik Lebaran ini adalah sebuah fenomena ritus yang total. Fenomena ini bukan potret terpisah dari Islam, masyarakat Indonesia, orang Jawa, orang Sumatera, kota atau desa di Indonesia; kereta api atau bus-bus yang penuh sesak, berhimpitan, dan loket-loket penjualan tiket penumpang dengan pemandangan antrian panjang yang membosankan. Kondisi ini mengesankan tiadanya penghargaan atas hakikat manusia dan seolah-olah memperlakukan manusia ibarat binatang ternak (kambing congek) dalam suatu pengangkutan menuju penjagalan atau tempat pemotongan hewan.
Maka, membayangkan suatu perkembangan di masa mendatang dalam konteks fenomena ritus mudik Lebaran, seyogianya membayangkan perubahan ritus tersebut secara total. Membayangkan perubahan tersebut mungkin sebaiknya optimis. Yakni membayangkan suatu tatanan masyarakat berbudaya, dimana toleransi beragama berjalan dengan damai di sebuah negeri yang mengakui pluralisme dan heterogenitas struktural.
Akhirnya, membayangkan suatu perubahan budaya yang mentradisi adalah membayangkan suatu masyarakat yang hidup dalam tatanan yang berkeadilan sosial dan sejahtera. Hidup dalam pemerintahan yang bersih dan jujur, yang senantiasa memperjuangkan kepentingan dan nasib rakyatnya dan tidak mementingkan diri sendiri atau kelompok. Kemudian membayangkan vitalitas budaya bangsanya.
Langganan:
Postingan (Atom)