Minggu, 09 Januari 2011

Sejarah Peradaban China

Peradaban Cina merupakan salah satu peradaban tertua di dunia, terdiri dari sejarah dan budaya beberapa negara yang ada sejak 6 milenia.

Ia memiliki sistem penulisan yang konsisten sejak dahulu dan masih digunakan hingga kini, termasuk penemuan-penemuan penting, seperti kertas, kompas, serbuk mesiu, dan materi-materi cetak.

Pada perang saudara terakhir di wilayah ini, perang berakhir dengan jalan buntu dan mengakibatkan adanya dua negara yang memiliki dua nama, yaitu RRC - yang lebih umum dikenal sebagai Cina dan pemerintahnya berkuasa atas wilayah daratan, Hong Kong, serta Makau;

Yang kedua adalah Republik Cina (ROC) - yang lebih umum dikenal sebagai Taiwan, dan pemerintahnya berkuasa atas Pulau Taiwan dan pulau-pulau disekelilingnya. Namun banyak negara lainnya berpendapat bahwa secara resmi daerah yang diperintah oleh Taiwan merupakan bagian dari RRC.

Peradaban Cina kuno dimulai dari muara Sungai Kuning (Hwang-Ho, sekarang bernama Huang-He). Sungai Kuning bersumber di daerah pegunungan Kwen-Lun di Tibet.

Setelah melalui daerah pegunungan Utara, sungai panjang yang membawa lumpur kuning itu membentuk dataran rendah Cina dan bermuara di Teluk Tsii-Li di Laut Kuning.

Daerah lembah Sungai Hwang-Ho subur dikarenakan lumpur kuning yang dibawa oleh sungai tersebut. Tetapi, pada musim dingin air sungai Hwang-Ho membeku dan mengakibatkan masyarakat Cina kesulitan untuk melaksanakan kehidupannya. Sedangkan saat musim semi tiba, salju mencair dan menimbulkan air bah serta menggenangi dataran yang sangat luas.

Sebagai sebuah peradaban tertua yang bertahan hingga kini, berbagai macam dinasti silih berganti pernah menancapkan kekuasaannya di daratan ini. Dinasti-dinasti yang diketahui pernah berkuasa antara lain Dinasti Shang, Dinasti Yin, Dinasti Zhou, Dinasti Qin, Dinasti Han, dan Dinasti Tang.

Dinasti Shang merupakan dinasti pertama yang berkuasa di wilayah ini. Berdasarkan cerita rakyat Cina, pada zaman dinasti Shang telah berkembang sistem kepercayaan memuja para dewa. Dewa tertinggi bernama Dewa Shang-Ti. Dinasti Shang berakhir sekitar tahun 1766 SM dan digantikan oleh dinasti Yin yang berkuasa antara tahun 1700-1027 SM.

Nama Zhongguo pertama kali digunakan dalam Kitab Hikayat (Abad 6 SM), dan digunakan untuk menamakan salah satu Dinasti Zhou yang telah silam. Karakter zhong berarti tengah atau pusat, sementara guo berarti kerajaan atau negara.

Dalam penggunaan umum bahasa Inggris, para ekspatriat menerjemahkannya sebagai Kerajaan Tengah, tapi kadang-kadang juga diterjemahkan sebagai Kerajaan Pusat.

Penamaan ini terkait dengan artinya dimana mereka percaya bahwa mereka adalah pusat dari peradaban, sementara orang-orang lainnya dalam empat daerah yang berbeda dinamakan Yi Timur, Man Selatan, Rong Barat dan Di Timur sesuai daerahnya.

Namun ada beberapa catatan lain yang menyatakan bahwa Zhongguo aslinya ditujukan untuk ibukota dari kerajaan, sebagai pembeda dari kota-kota lainnya yang dilindungi oleh kerajaan.

Penggunaan Zhongguo juga merupakan pengesahan secara politik dimana Zhongguo sering digunakan oleh negara-negara bagian yang melihat dirinya sebagai penerus sah satu-satunya dari dinasti sebelumnya; sebagai contoh dalam era Dinasi Song Barat, baik Dinasti Jin dan Dinasi Song Barat mengaku sebagai Zhongguo.

Zhongguo resmi digunakan sebagai singkatan untuk Zhonghua Renmin Minguo (Republik Rakyat Cina) setelah didirikannya pemerintahan komunis di tahun 1949.

Jumat, 07 Januari 2011

UU TIPITI Lebih Berbahaya Ketimbang UU ITE

Bila undang-undang tindak pidana di bidang teknologi informasi (UU TIPITI) terealisasi, UU tersebut dipercaya akan semakin mengancam kebebasan berekspresi dan kebebasan pers. Bahkan UU yang masih dalam draft tersebut bisa lebih berbahaya ketimbang undang-undang Informasi dan transaksi Elektronika (UU ITE).

Demikian diungkapkan, Direktur Eksekutif LBH Pers, Hendrayana kepada wartawan di kantor LBH Pers, Jl. Prof. Dr Soepomo, Menteng Dalam, Jakarta, Rabu (30/12/2009).

"RUU TIPITI cukup mengangetkan dan ini telah dirumuskan dalam draft oleh depkominfo tapi belum sharing, dari draft yang saya dapat ancaman UU TIPITI lebih tinggi dari UU ITE," kata Hendrayana.

Hendrayana mengatakan, LBH pers akan melihat apakah UU TIPITI merupakan bentuk barter dari revisi UU ITE. "Kalau barter, ini yang harus diperhartikan jangan sampai lebih menyerang dari UU ITE," katanya.

Sementara itu Aliansi Jurnalis Independen dalam keterangannya menyatakan Revisi UU ITE Jangan sampai Diikuti RUU TIPITI. AJI Indonesia menolak pengesahan RUU TIPITI yang saat ini menjadi prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2010.

"Sebab, RUU TIPITI jauh lebih represif dan lebih karet dibanding dengan UU ITE. Jangan sampai, UU ITE “dilepas”, tapi diam-diam muncul RUU TIPITI yang jauh lebih buruk. RUU TIPITI mengkriminalisasikan berlebihan terhadap pengguna internet," kata kata Nezar Patria Ketua AJI Indonesia.

Selain itu, menurut Nezar DPR dan pemerintah juga sedang menetapkan Rancangan Undang-Undang Konvergensi Media sebagai prioritas Prolegnas 2010. RUU Konvergensi Media ini menggabungkan Undang-undang ITE, Undang-Undang Penyiaran dan Undang-undang Telekomunikasi.

"Hal ini bisa menimbulkan tumpang-tindih peraturan di bidang media internet. Untuk menghindari tumpang-tindih peraturan tersebut, harus dibuat desain peraturan yang komprehensif di bidang media internet. Jangan sampai UU ITE direvisi, tapi pada saat yang bersamaan juga dibahas RUU Konvergensi Media dan RUU TIPITI,” kata Nezar.

Sebaiknya, lanjut Nezar, dibuat desain kebijakan di bidang media secara menyeluruh, sebelum mengubah peraturan dan membuat peraturan baru. Kebijakan media tersebut harus tetap berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi. Jangan sampai pengaturan internet menjadi sangat represif seperti UU ITE selama ini.

AJI Indonesia merancang masukan-masukan bagi revisi UU ITE dan RUU Konvergensi Media. Diharapkan, masukan AJI bisa mendorong peraturan mengenai internet menjadi lebih demokratis dan tetap menghormati kebebasan pers dan berekspresi. ”Namun, terhadap RUU TIPITI kami nilai RUU ini terlalu over-kriminalisasi, sebaiknya ditolak saja,” kata Margiyono, koordinator Divisi Advokasi AJI.

Biadab! Pemerkosaan Massal di Kongo

Puluhan perempuan diperkosa dalam suatu serangan terkoordinasi di Republik Demokratik Kongo pada Tahun Baru, lapor Doctors Without Borders, Kamis (6/1/2011).

Badan kemanusiaan itu mengatakan, 33 perempuan diperkosa di Fizi, Kivu Selatan, di bagian timur negara yang dilanda perang tersebut. "Para perempuan itu diikat dengan tali atau dipukuli dengan gagang pistol hingga tidak sadarkan diri sebelum diperkosa, beberapa di depan anak-anak mereka," kata Annemarie Loof, pegawai di lembaga yang biasa dikenal dengan nama Perancis-nya, Medecins Sans Frontieres (MSF), itu. "Sekitar empat pria bersenjata terlibat pada waktu itu dan rumah-rumah serta toko-toko dijarah," kata Loof dalam sebuah pernyataan.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemerkosaan sering terjadi dalam perang di Kongo. PBB menyebut Republik Demokratik Kongo sebagai "ibu kota pemerkosaan dunia," dengan 15.000 perempuan diperkosa di Kongo timur tahun 2009. Pemerkosaan biasanya terjadi di wilayah di mana kelompok-kelompok pemberontak bersenjata pindah ke daerah yang dianggap propemerintah. Namun, kenyataannya daerah itu kurang mendapat perlindungan tentara atau polisi.

Banyak korban pemerkosaan turun ke jalan-jalan, Oktober lalu, untuk menentang kekerasan seksual tersebut. "Hatiku sakit. Mengapa kalian memperkosaku?" kata seorang korban perkosaan. Banyak dari mereka meninggalkan ruang rawat inap rumah sakit demi bergabung dalam barisan unjuk rasa di Kongo timur.

Sebuah laporan PBB pada bulan September menyalahkan pasukan keamanan Kongo karena gagal mencegah gelombang pemerkosaan massal selama beberapa hari pada musim panas lalu. Laporan sebelumnya membenarkan pemerkosaan terhadap sedikitnya 303 warga sipil antara 30 Juli dan 2 Agustus di wilayah Walikale, Provinsi Kivu, Kongo utara.

"Pemerkosaan itu jelas tidak berhenti," kata MSF. "MSF sangat prihatin dengan situasi saat ini di dan sekitar Fizi," kata Loof, Kamis. "Orang-orang melarikan diri dari daerah itu karena takut serangan kekerasan lebih lanjut."

Menurut Loof, MSF menyediakan perawatan medis dan psikososial bagi 5.600 korban pemerkosaan di Kivu Utara dan Selatan pada 2009.

Inilah Data 19 Klub Peserta LPI

Melalui jalan berliku akhirnya Liga Primer Indonesia akan bergulir pada Sabtu, 8 Januari 2011. Sebanyak 19 klub sudah memastikan diri mengikuti kompetisi yang digagas oleh pengusaha Arifin Panigoro tersebut.

Dari 19 klub tersebut, tiga klub di antaranya sudah tidak asing lagi di ranah sepak bola Indonesia. PSM Makassar, Persibo Brojonegoro, dan Persema Malang memilh hengkang dari Liga Super Indonesia demi menuju klub yang lebih profesional tanpa menggantungkan dana APBD.

Lalu bagaimana dengan 16 klub lainnya? Berikut profil klub peserta LPI, seperti rilis yang diedarkan LPI:

1. Aceh United
Persebakbolaan di Kota Banda Aceh kembali hidup dengan kehadiran Aceh United sebagai salah satu peserta Liga Primer Indonesia. Banda Aceh memiliki potensi besar karena banyak tersedia bakat-bakat pemain muda dan suporter sepak bola yang aktif. Adalah Aceh United yang akan menampung bakat-bakat pemain muda Banda Aceh untuk berprestasi dan memberikan tontonan menghibur kepada para suporter.
Stadion: Harapan Bangsa, Banda Aceh (kapasitas 40.000)
Pelatih: Lionel Charbonnier (Perancis).

2. Bali De Vata
Bali tercatat pernah memiliki tim-tim yang bermain di pentas sepak bola nasional seperti pada era Liga Sepak Bola Utama (Galatama) tahun 1980-an dan Liga Divisi Utama pada tahun 2000-an. Kini Liga Primer Indonesia bertekad membawa semangat Bali dalam revolusi sepak bola nasional melalui klub Bali De Vata.
Stadion: Kapten I Wayan Dipta, Gianyar (kapasitas 25.000)
Pelatih: Willy Scheepers (Belanda)

3. Bandung FC
Bandung selalu memiliki klub-klub yang berprestasi di kancah sepak bola nasional. Setelah Persib dan Maung Bandung Raya, kini muncul Bandung FC sebagai klub sepak bola baru di Bandung, tentunya, semakin mengharumkan nama Kota Kembang ini. Kekuatan klub muda ini langsung terlihat dalam laga pramusim kompetisi dan memiliki harapan besar di arena Liga Primer Indonesia.
Stadion: Siliwangi, Bandung (kapasitas 25.000)
Pelatih: Nandar Iskandar (Indonesia)

4. Batavia Union
Mewakili Kota Jakarta, Batavia Union merupakan klub baru dengan materi pemain-pemain yang andal dan berpengalaman menggeluti liga nasional. Meski baru, klub ini telah memiliki basis suporter yang setia dan bersemangat. Klub ini juga merupakan salah satu klub yang bersinar pada laga pramusim kompetisi LPI.
Stadion: Tugu, Jakarta (kapasitas 20.000)
Pelatih: Roberto Bianchi (Brasil)

5. Bogor Raya
Klub yang dikenal dengan julukan "Laskar Kujang" ini berisikan manajemen muda yang kreatif dan penuh semangat. Klub ini juga membuat kejutan dengan mendatangkan mantan pemain River Plate, Diego Bogado, gelandang sayap asal Argentina berusia 24 tahun. Bogor Raya optimistis dapat mengubah persepakbolaan Indonesia melalui semangat generasi muda.
Stadion: Persikabo, Bogor (kapasitas 15.000) dan Pajajaran, Bogor (kapasitas 12.000)
Pelatih: John Arwandi (Indonesia)

6. Cendrawasih Papua
Cendrawasih FC lahir dari klub Kontiki FC, yang merupakan binaan para mantan pemain Persipura yang tergabung dalam Asosiasi Mantan Pemain Persipura (AMPP). Papua sendiri dikenal sebagai ladang bakat-bakat muda pemain sepak bola Indonesia dan secara konsisten melahirkan pemain-pemain bintang.
Stadion: Mandala, Jayapura (kapasitas 30.000)
Pelatih: Uwe Erkebrecher (Jerman)

7. Jakarta 1928
Jakarta 1928 merupakan salah satu klub yang unik di pentas Liga Primer Indonesia. Klub ini membawa semangat perubahan yang diusung Voetbalbond Indonesish Jakarta (VIJ), salah satu klub sepak bola yang menjadi bagian perjuangan di masa penjajahan dulu. Semangat yang sama selama ini bersemayam di klub Persija Jakarta.
Stadion: Lebak Bulus (kapasitas 25.000)
Pelatih: Bambang Nurdiansyah (Indonesia)

8. Kabau Padang
Kabau Padang lahir dari inspirasi kemandirian yang telah dibangun oleh klub sepak bola mandiri Cement Padang. Melalui persiapan yang cenderung tertutup, Kabau Padang akan menyajikan gebrakan-gebrakan di dalam arena Liga Primer Indonesia.
Stadion: Agus Salim, Padang (kapasitas 28.000)
Pelatih: Divaldo Alves (Portugal)

9. Ksatria XI Solo FC
Kota Solo memiliki sejarah panjang dan membanggakan dalam persepakbolaan Indonesia. Klub asal Kota Solo, Persis, pernah mendominasi kompetisi sepak bola Indonesia pada era 1930-an sampai 1950-an. Kemudian, di kancah Galatama, Arseto Solo juga pernah sekali juara. Namun, belakangan, nama Solo seakan tenggelam di pentas sepak bola nasional dan Jawa Tengah. Kini, Solo FC siap membawa Solo kembali berjaya di pentas nasional melalui Liga Primer Indonesia.
Stadion : Manahan, Solo (kapasitas 24.000)
Pelatih: Branko Babic (Serbia)

10. Manado United
Manado United merupakan klub sepak bola yang sudah cukup lama berdiri di Manado. Masyarakat di Manado sendiri sangat menantikan kehadiran dan selalu mendukung klub sepak bola yang dapat berprestasi dari daerahnya. Fokus Manado United adalah pengembangan pemain lokal. Diperkuat oleh mantan pemain-pemain Persma Manado, Manado United siap berprestasi pada musim kompetisi Liga Primer Indonesia.
Stadion: Klabat, Manado (kapasitas 20.000)
Pelatih: Muhammad Al-Hadad

11. Medan Bintang
Sepak bola merupakan olahraga yang sangat digandrungi masyarakat Medan. Sejumlah klub-klub sepak bola sempat mengukir prestasi di kancah nasional dan internasional. Adalah Medan Bintang, klub baru yang mendapat dukungan sejumlah elemen. Medan Bintang berambisi mengangkat dan membesarkan prestasi Kota Medan.
Stadion: Teladan, Medan (kapasitas 20.000)
Pelatih: Rene van Eck (Belanda)

12. Medan Chiefs
Medan Chiefs lahir dari semangat klub sepak bola Pro Titan yang memang sudah tidak lagi mengandalkan APBD. Pro Titan sudah lama bergelut di kancah sepak bola nasional sebagai klub yang mandiri. Semangat perjuangan klub sepak bola dari Medan tersebut akan berkembang melalui Medan Chiefs.
Stadion: Teladan, Medan (kapasitas 20.000)
Pelatih: Joerg Steinebruner (Jerman)

13. Persebaya
Persebaya memiliki sejarah panjang dalam persebakbolaan nasional Indonesia. Klub ini sempat meraih prestasi gemilang ketika klub-klub Perserikatan dan Galatama bersatu dalam Liga Indonesia (1994) dan meraih gelar juara pada tahun 1997 dan 2005. Kini Persebaya membuka lembaran baru untuk menorehkan prestasi di Liga Primer Indonesia.
Stadion: Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya (kapasitas 35.000)
Pelatih: Aji Santoso (Indonesia)

14. Persema Malang
Persema memiliki visi untuk memajukan persebakbolaan Indonesia. Berkat visi tersebutlah, Persema memilih untuk bergabung dengan Liga Primer Indonesia. Saat ini Persema telah memiliki tim yang sangat tangguh dan memiliki peluang besar di kancah Liga Primer Indonesia.
Stadion: Gajayana, Malang (kapasitas 30.000)
Pelatih: Timo Scheuneman (Jerman)

15. Persibo
Tim "Laskar Angling Dharma" ini berdiri pada 12 Maret 1949 dan merupakan juara Divisi Utama musim 2009-1010. Dengan prestasi tersebut, klub ini siap menoreh lembaran sejarah baru di Liga Primer Indonesia.
Stadion: Letjen Haji Sudirman, Bojonegoro (kapasitas 15.000)
Pelatih: Sartono Anwar

16. PS Makassar
Klub ini merupakan hasil merger dari PSM dengan Makassar City. Berbekal pengalaman di sepak bola nasional, PS Makassar adalah salah satu tim yang memiliki potensi besar di Liga Primer Indonesia.
Stadion: Gelora Andi Mattalata, Makassar (15.000)
Pelatih: Wilhelmus Wim Rijsberger (Belanda)

17. Real Mataram
Gairah sepak bola Yogyakarta kembali bersinar dengan hadirnya klub Real Mataram. Nama Real Mataram akan mewakili semangat dan kekuatan Kerajaan Mataram yang mendapat dukungan besar dari masyarakat Yogyakarta. Berbekal pemain-pemain berpengalaman, klub ini merupakan salah satu yang terkuat.
Stadion: Maguwoharjo, Yogyakarta (kapasitas 30.000)
Pelatih: Jose Basualdo (Argentina)

18. Semarang United
Klub yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah, ini sengaja disiapkan khusus untuk mengikuti Liga Primer Indonesia. Klub yang digagas oleh Novel Al Bakrie ini mendapat dukungan luas dari masyarakat sepak bola Kota Semarang. Semarang United akan menjadi salah satu klub yang paling disegani di kancah Liga Primer Indonesia.
Stadion: Jatidiri, Semarang (kapasitas 25.000)
Pelatih: Edy Paryono (Indonesia)

19. Tangerang Wolves
Semangat pendukung sepak bola di Tangerang tidak dapat diragukan lagi. Keberadaan Tangerang United di kota industri ini diharapkan dapat meningkatkan geliat dan semangat persepakbolaan lokal. Dipimpin oleh pelatih yang jeli akan bakat-bakat muda, klub ini yakin dapat memperoleh tempat tersendiri di hati para pecinta sepak bola Indonesia.
Stadion: Benteng (kapasitas 25.000) Pelatih: Paulo Camargo (Brasil) (LPI)

Kasus Joki Tananan, Kajari Bojonegoro Curhat

Kepala Kejaksaan Negeri Bojonegoro Wahyudi yang dikenai sanksi terkait penukaran narapidana Kasiem dengan Karni, Jumat (7/1/2011), mengirimkan layanan pesan singkat (SMS) kepada sejumlah kolega, termasuk kepada wartawan.

Kini Wahyudi ditarik ke Kejaksaan Agung. Wahyudi dinilai bertanggung jawab karena menandatangani surat perintah eksekusi, tetapi tidak menjalankan pengawasan melekat pada anak buahnya terkait eksekusi Kasiem. Wahyudi pun mengirim SMS kepada wartawan.

Bunyi SMS itu sesuai dengan yang terkirim (bahasa SMS sudah disesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan -Red): "Mohon maaf kepada masyarakat Bojonegoro atas berita tentang diri saya selaku Kepala Kejaksaan Negeri Bojonegoro. Akhir-akhir ini saya sudah berupaya maksimal membina sumber daya manusia di Kejari. Ternyata Allah SWT masih memberi cobaan dengan menguji imtaq saya. Selanjutnya sebagai insan Adhyaksa, demi institusi saya rela dan ikhlas untuk dimutasi jabatan menjadi Katu Instaskrim Kejaksaan Agung RI. Mohon doa restu. Wassalam."

Kejaksaan Agung telah menjatuhkan sanksi kepada jaksa dan pegawai Kejaksaan Negeri Bojonegoro. Kepala Kejari Bojonegoro Wahyudi dimutasi ke Kejaksaan Agung menjadi Kepala Seksi Pidana Khusus.

Hendro Sasmito tidak lagi menjabat secara struktural, sedangkan jaksa Tri Muwarni tidak memiliki jabatan secara fungsional sebagai jaksa. Sementara staf kejaksaan Widodo Priyono diberhentikan dengan tidak hormat dan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Resor Bojonegoro.

Seorang jaksa Arifin yang ditemui Hasnomo hingga saat ini tidak menerima sanksi dari institusinya. Menurut keterangan Hasnomo, Arifin-lah yang semula ditemui dan dimintai pendapat soal eksekusi Kasiem.

Secara terpisah, Kepolisian Resor Bojonegoro menyita sejumlah dokumen dari kejaksaan dan LP Bojonegoro. Dokumen itu, di antaranya, mutasi dan registrasi napi serta ekstra vonis dan berita acara pelaksanaan putusan pengadilan (BA8) atas kasus Kasiem.