Kamis, 01 Juli 2010

HP

HP

Terkadang kita harus mengakhiri sesuatu di tempat dimana kita memulainya. Karena sepertinya sebuah eksistensi kemanusiaan harus dipertanyakan kembali, apakah betul kita ada dan bergerak ditiap siang dan malam.
Ruang-ruang ini semakin sempit saja, karena sebanyak apapun kita membuat opini tentang ruang, maka secara tidak sadar kita sudah berubah menjadi angkuh dan membatasi ruang yang kita pahami. Lalu apalagi yang mesti dipertahankan, jika pada akhirnya kita sendiri yang menciptakan batas ruang dan waktu itu dan kemudian menjelma menjadi......
………………..

Entah kenapa hari ini bulan sudah menampakkan wajah sebelum waktunya, seolah tidak mau melewatkan peristiwa sore ini dan menyimak tiap kata yang sedikit tak rapi. Atau mungkin langit telah menarik kembali hukum yang telah dia buat?. Aku hanya termangu lalu kemudian melonggarkan urat-urat syaraf yang sedikit menegang dan sesekali telingaku terjaga mendengar pembicaraan teman-teman di sudut sana. Sangat banyak kata yang akhirnya sia-sia. Mungkin saja Anto benar tentang kata-kata yang telah habis, karena hari ini ratusan bahkan ribuan yang telah dimuntahkan.
Aku kembali menengadah ke langit, dan astaga…!
Aku melihat bulan menarik bahkan menyeret malam sambil tersenyum kepadaku. Risau, galau, itu yang muncul dalam benakku. Kenapa…kenapa dia tidak beri aku sedikit masa minimal menggelengkan kepala tanda aku belum rela. Tapi, sepertinya harap itu percuma, dia terus saja tersenyum bukan pada malam. Padaku!.
“Tidak, dia tidak tersenyum padaku, tidak hari ini!. Lalu untuk siapa dia tersenyum?, toh teman-temanku tak butuh senyumnya, lalu untuk siapa?”. Dia berhasil mengusik pikirku dan tidak hanya itu, dia bahkan mengobok-obok keyakinan yang selama ini aku senggamai.
“Kau tidak boleh datang karena semua ini telah melanggar dan menyimpang dari hukum yang telah ditetapkan”. pintaku berharap dia mau kembali mengantar malam untuk pulang dan menjemputnya tepat pada waktu yang tepat.
“Bagaimanapun kau memaksaku, tidak akan pernah kuucap salam buatmu!” teriakku dalam hati, sambil terus mengutuk bulan hari ini.
Tiba-tiba seorang teman menegur sambil menepuk bahu sebelah kananku.
“Ada apa?”
“Kenapa berhenti?”
“Kita belum selesai. Ruang ini belum boleh ditutup rapat-rapat, karena masih banyak yang kosong”. katanya meyakinkan aku.
‘Lalu, kalau ini belum selesai, untuk apa kita muntahkan semua hari ini?”, kataku sambil kembali menghadapkan wajah pada bulan yang mulai membuatku gelisah.
Ya, harus kuakui kalau kejadian ini sangat aneh dan bahkan tidak bisa kuterima, tapi…
“Apa yang harus aku lakukan?” aku dirampok, dijarah, tapi oleh siapa?. Apakah mereka? atau dia yang terus tersenyum padaku?
Belum juga kupahami arti semua yang terlukis tepat dimataku. Atau aku yang pura-pura bahkan tidak mau menerimanya?
…………………………….
“Sudah pukul 17.30 sore” gumamku sambil melihat jam yang ada di hp kesayangan yang sudah beberapa tahun ini setia menemani. Entah sudah berapa babak hidupku yang diketahuinya, tapi tak sekalipun dia mengeluh hanya saja mungkin masanya sudah hampir selesai. Tapi, tiba-tiba saja aku terperangah tak percaya…
“Apa ini!” teriakku kaget.
Hp yang selama ini setia, tiba-tiba berontak. Dia tidak mau lagi menampilkan apa yang mesti dia munculkan, tapi malah bercumbu dengan bulan. Aku lalu menengadah bermaksud untuk protes, tapi semuanya raib dijarah oleh deru mesin di jalan.
“Aku tidak mengerti, kenapa dia sangat bernafsu mengambil semua yang tersisa?” batinku menjerit.
Tapi semua temanku tetap menikmati segelas kopi yang ada di depannya dan muntahan kata-kata yang sudah tidak kumengerti. Aku seperti hilang di keramaian, dan tidak seorangpun mengerti dan enggan untuk tahu, bahkan seseorang yang semestinya tahu juga pergi tanpa menoleh lagi. Aku menjadi realitas tak bernama di tempat yang kuanggap rumahku sendiri.
Aku hanya diam sambil menyaksikan bulan yang sedikit demi sedikit menggerogoti semua yang kupunya, pun malam diam seribu kata. Tampaknya dia lebih memilih bungkam daripada berontak untuk kembali ke peraduannya.
………………………..

Hari sudah gelap dan bulan sudah sempurna menelan matahari, aku harus pulang. Sempat mataku melirik kearah teman-temanku yang masih duduk seperti tadi. Sepertinya pembicaraan mereka hari ini sudah berakhir. Mata mereka nanar ke arahku, aku bingung.kemudian kurogoh hp kesayangan di kantung sebelah kanan, hanya untuk memastikan apakah bulan masih disitu. Ternyata, dia sudah pergi dan kembali menggantung di langit. Dia memang sudah pergi tapi jejak bibirnya masih jelas di layar hpku. Kemudian aku mendekapnya erat tepat diantara bibir dan telinga, lalu berbisik…
“Mungkin sudah waktunya untuk kita pisah kawan!”
Aku lalu berdiri menghadap kearah teman-temanku dan menatap mereka dalam-dalam. Sejenak mataku awas kearah bulan, dia tersenyum manis dan kulukis juga senyum padanya dan kukirim lewat bingkai galau. Semua diam…
…………………………..

Malam sudah datang, aku harus pergi.

“SELAMAT MALAM”

Makassar, 130807
iip pasoloran

Demokrasi

D e m o k r a s i
oleh : Djoko Sulistiyo
Graduate Student
Florida State University
Tallahassee, Florida, USA

Kata Sahibul hikayat, perbedaan pendapat dan kekerasan itu sudah ada sejak umat manusia muasal bermula di dunia.
Alkisah, dua putera Adam sudah berbunuhan ketika alam baru saja tercipta. Dalam perbedaan pendapat, adakalanya pendapat sang wasis dan bijaksana yang diterima, tapi lebih sering pendapat pendekar sakti perkasalah yang menentukan dunia. Kekuatan dan kesaktian sangat sering lebih menentukan percaturan dunia dibanding kebijaksanaan dan moral yang dibawa para sufi dan pujangga.
Dalam masa kegelapan di Eropa, pendapat kaum Darwinian (The survival of the fittest), dan kaum Machiavelian (The ends Justify the the means) sangat disanjung puja oleh penguasa; dan `Power', sebagai kata kunci kemampuan untuk mempengaruhi kemauan dan tindakan orang lain (Morgenthou) adalah kesaktian yang sangat didamba baik oleh para bangsawan dan paderi gereja yang gila kuasa. Pada masa itu korban saling berjatuhan, baik karena guliotin sang algojo penguasa, maupun oleh tipu daya fitnah sang pemakan bangkai manusia, termasuk mereka yang sok merasa suci, si penguasa agama.
Pada jaman jahiliyahnya orang Eropa, aturan main politik tak ada. Yang ada adalah kekuatan dan kekuasaan. Negara adalah aku (kata sang penguasa), dan kaidah agama adalah aku (kata sang paderi), bagi penentangku, maut adalah ganjaran yang setimpal, karena Akulah the absolute power yang mendapat mandat dunia dan langit.
Ketika jaman berubah, dan tirani mulai tercampakkan, suara rakyat menggema menjadi suara tuhan. Demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) menggema menuntut keadilan. Fatwa pujangga memberi makna : kuasa dibagi menjadi tiga, sehingga sang singa tidak menjadi pemangsa makhluk lemah yang lain, dan hukum rimba tidak lagi merajalela. Pemerintah, wakil rakyat dan hakim, adalah tiga serangkai yang setara. (seru Montesqueu tentang persamaan derajat, dan persaudaraan yang sejajar antar umat manusia disambut dengan gempita oleh sang cendikia sejati Russeau dengan Trias Politica-nya).
Roda jaman terus berlaga : Pragmatisme politik dan idealisme moral selalu bergayut dalam kontradiksi, meski juga bersatu dalam essensinya. Karena politik yang kotor tak akan laku tanpa dibalut jargon kemanusiaan dan bunga-bunga petitah-petitih keadilan.
Ketika Demokrasi mulai dipertanyakan, ketika suara rakyat terbanyak dapat dibeli dengan kekuasaan dan kekayaan para borjuasi, dan ketika roda sejarah mulai menggilas tulang-tulang sang proletar dan marhaen yang tertindas; teriakan "sama rata sama rasa" mulai menggema, demokrasipun kemudian berubah dengan label sosialis dibelakangnya. Tapi kemudian makna egalitariannya juga luruh, ketika kekuasaan rakyat harus diwakilkan kepada para pelopornya, yang kemudian memperoleh privilage dan meninggalkan massanya sebagai batu pijakan untuk kediktatoran `proletar'.
Cerita tak sama ada juga di arena, meski di belahan bumi yang lain. Ketika itu ada konsep tentang negara `kadewatan' yang kata sang dalang, "tata-tentrem-gemah-ripah-loh-jinawi; negara yang tidak ada hujan tidak ada panas, tak ada pertentangan kecuali perdamaian, dibawah pimpinan ratu adil bawa leksana, sang mentari bijak penerang marcapada. Kata cerita, sayangnya, setiap kuasa yang berlebihan selalu mendatangkan bala. Ketika sang ratu terlena oleh bujukan dunia, dan ketika para ponggawa tidak mendapat bagian yang sama, serta ketika kawula alit kapiran. Kuasa sang Hyang Wnang menjelma, negara awang-uwung menjadi badar kamanungsan. Manusia ya tetap manusia; titah sawantah yang selalu menyalah. Konsep negara adiluhung yang kadewatan hanyalah suatu utopia.
Ketika aku capai membuka kalam hikayat, aku bertanya dalam hati : Mengapa Tuhan tidak menjadikan apa yang ada di dunia ini sempurna ? Mengapa dikotomi : baik-buruk selalu ada ?
Aku jadi teringat ketika Hegel berkata, bahwa dialektika ada karena perbedaan. Suatu kemajuan berlanjut karena adanya thesa dan antithesa. Dimana synthesa menjadi thesa baru dan seterusnya. Pertentangan idea adalah bumbunya kemajuan jaman.
Peter Berger menulis tentang piramida korban manusia sebagai tumbal kemajuan jaman, seperti mahabarata bercerita tentang antasena harus labuh pati untuk tumbal bharatayuda bagi pandawa di kurusetra. Tapi sayang, piramida korbannya selalu pada jenjang yang terbawah. Si kecil yang selalu terseok, terpuruk dan tertendang ketika gajah bertarung. Tanpa mereka tahu perubahan untuk apa, selagi pikir mereka terpaku untuk esok makan apa, dan bukan esok makan siapa seperti si penguasa. Dan mereka semakin tidak lagi bermakna apabila pertentangan idea telah merambah ke adu kekuatan physik antar penguasa. Mereka, si kecil, adalah sampah dan debu yang terbuang di pinggir jalanan.
Ketika pikirku mengarah ke rancunya antara isi dan kulit jargon politik, antara demokrasi sebagai idea yang indah dan pelaksanaannya yang runcah, akupun jadi teringat ketika eyangku almarhum bernasihat : Ngger, gebyar jagad-gede hanyalah maya meskipun kelihatannya nyata. Janganlah kamu mudah tertipu oleh pandangan mata wadagmu. Kulit yang berkilau tak selalu isinya mutiara kemala. Tapi tajamkanlah mata bathinmu, nuranimu yang jernih, sehingga kamu mampu menangkap petunjukNya. Yang akan menerangi langkahmu untuk `hamemayu-hayuning bawana', membuat kehidupan semakin indah bagi penghuninya. Sebagai manusia, anjurnya, kita harus mampu membedakan antara yang seloka (timah yang disepuh emas) dengan kencana (yang sesungguhnya emas). Sesuatu kemampuan yang harus dicapai dengan ilmu dan kebijaksanaan, yang dilandasi kebersihan jiwa untuk mencapainya. Suatu ilmu yang akan pudar apabila pemakainya merasa adigang, adigung, adiguna. Manusia yang selalu memakai aji mumpung sakti, kuasa, dan berguna untuk mencapai pamrih-pamrih pribadi dari kehendak nafsu rendah manusia yang tak pernah terpuaskan.
Ketika aku harus menjawab pertanyaan tentang adakah keadilan di bumi ? Jawabku, "Tak ada kesempurnaan di dunia ini, demikian juga dengan jargon demokrasi dengan segala atributnya. Janganlah kita terpaku pada jargon politik yang ada, karena ia selalu bermakna ganda : pragmatisme dan idealisme adalah bungkusan saja, isinya adalah apa yang ada di dada dan perilaku pelakunya. Sangat sering orang berkata bahwa diri, famili dan golongannya adalah contoh manusia yang paling sempurna dalam upaya menyelamatkan dunia. Mereka sering lupa dan menganggap idea orang lain berhala, dan pengikutnya adalah kafir najis yang layak darahnya untuk tertumpahkan. Mereka lupa bahwa pertengkaran yang ada sering terjadi pada tingkat cara, sarana atau kulitnya saja, tanpa mereka tahu bahwa isi dan tujuan kehidupan mereka sama. Mereka adalah orang yang lupa, yang tidak pernah menengok sejarah sebagai cermin kehidupannya.
Demokrasi adalah sarana, demikian juga ideologi dan negara. Pada tingkat cara atau sarana, perbedaan idea adalah suatu hal yang wajar, seperti layaknya penawaran dagangan di pasar, suatu yang dipercaya menjanjikan nilai lebih tentu akan banyak peminatnya. Pada tingkat cara, tidak ada absoluditas penghakkan atas kebenaran, karena benar menurut sesuatu ada mengandung sedikit ketidakbenaran yang belum terungkapkan, demikian juga dengan pendakuan hak kebenaran ke arah kebenaran yang harus diuji oleh sejarah keabsahannya. Namun satu yang kita tidak boleh lupa, semua cara yang ada selalu bermuara pada tujuan yang sama, yaitu peningkatan harkat, martabat dan derajat manusia. Perbedaan idea untuk suatu kemajuan adalah suatu yang nature yang tak mungkin terhalangi, tapi tak perlu itu dibumbui dengan kerendahan budi untuk penguasaan phisik yang hewani, sehingga setiap cara dibalut dengan topeng-topeng kepalsuan yang menyiksa.
Aku cuma berharap, apabila semua sadar bahwa semua cara bermuara pada peningkatan harkat, martabat dan derajat kemanusiaan tersebut, maka kedamaian, kesejahteraan dan keadilan di dunia akan terwujud. Tapi apabila orang hanya terpaku untuk mendaku kemutlakan cara pandang melihat kebenaran adalah miliknya sendiri, tanpa menyadari kelemahan pribadi yang selalu terperangkap relatifitas, maka pertarungan idea selalu akan berlabuh pada perkelahian phisik. Dan akupun akan terus menyaksikan, si kecil akan menjadi pupuk percuma, dari pohon-pohon yang akan selalu bertumbangan.
Ini adalah suatu keprihatinan, bila tidak dapat dikatakan peramalan untuk suatu masa yang tak terlalu jauh bagi bangsaku tercinta.

Menjadi Orang Sukses dan Berarti

Posting, Kamis 01 Juli 2010

“Don’t look to become a person of success, look instead to become a person of Value! – Jangan berkeinginan untuk menjadi orang sukses, berusahalah untuk menjadi orang yang berarti.”
Albert Einstein

Setiap tahun sebuah majalah terkenal di dunia merilis daftar orang-orang terkaya dan berpengaruh di dunia. Sering pula digelar acara penghargaan untuk mengapresiasi para pengusaha dan CEO sukses dan ternama. Tentu sangat membanggakan jika Anda mendapatkan penghargaan bergengsi kelas dunia, dihormati, dan bergelimang kemewahan harta, sebab hal-hal semacam itu menjadi dambaan sebagian besar manusia di dunia.

Tak heran jika banyak orang berlomba mencari jabatan, mengumpulkan kekayaan dan meraih kesuksesan besar. Mereka juga mengejar standar gaya hidup orang-orang berkelas, misalnya menunggangi mobil mewah, menggunakan perhiasan dan pakaian super mahal, dan gaya hidup serba wah lainnya. Sebenarnya tak ada yang salah jika ingin menjadi kaya, sukses dan bahagia, sejauh usaha yang dilakukan tidak melanggar hukum, moral spiritual, dan norma-norma lainnya.

Namun ironis jika tujuan menjadi berpengaruh, terkenal, kaya, dan hidup serba mewah itu menjadikan seseorang menghalalkan segala cara termasuk menggunakan cara-cara negatif. Akhir-akhir ini saya sedih menyaksikan berita di televisi yang menayangkan begitu banyak orang memilih cara instan untuk cepat kaya dan terkenal, dan memiliki jabatan tinggi. Memang benar uang mereka bertumpuk konon kabarnya sampai dimakan rayap, memiliki jabatan tinggi, tetapi mereka lebih terkenal sekarang ketika terseret kasus korupsi, suap, penggelapan pajak, praktek bisnis ilegal, dan lain sebagainya.

Nasib mereka kini sungguh menyedihkan dan terhina. Sebab mereka mengabaikan nilai-nilai spiritual, moralitas, dan kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam proses pencapaian kesuksesan. Patut menjadi pelajaran bagi kita semua untuk berpikir bahwa menjadi kaya raya, terkenal dan sukses belumlah cukup, dan berusaha menjadi manusia yang sukses dan berarti itu lebih penting.

“The major value in life is not what you get. The major value in life is what you become. – Nilai utama dalam hidup itu bukan apa yang Anda dapatkan melainkan seberapa baik (karakter) Anda,” kata Jim Rohn, motivator USA ternama.

Menjadi orang sukses dan berarti memberi kita banyak sekali manfaat. Beberapa diantaranya adalah memudahkan kita menciptakan tujuan hidup, fokus pada pekerjaan, pintar membuat keputusan penting, memahami prioritas hidup sehingga langkah-langkah yang ditempuh menjadi lebih terarah. Beberapa tips berikut akan membantu Anda segera menyongsong sukses sekaligus menjadi manusia yang lebih berarti.

Pertama adalah memiliki visi yang mulia, yaitu berpikir lebih jauh dan mempertimbangkan segala hal untuk senantiasa menciptakan kebaikan bagi semua orang. Visi tersebut akan mendorong Anda bekerja penuh komitmen dan dedikasi untuk meraih keberhasilan, bukan hanya menunggu belas kasihan orang lain dan menghindari diri berbuat curang. Memiliki visi mulia merupakan langkah penting untuk meraih sukses dan berarti bagi orang lain.

Kedua adalah memiliki integritas, yaitu kejujuran dalam setiap tindak tanduk dan perbuatan. Kejujuran pasti memberi kemudahan, sebab kejujuran pasti menang dalam persaingan memperebutkan kepercayaan orang lain. Nilai kejujuran sudah pasti menuntun Anda pada kemajuan dan meraih kesuksesan yang lebih berharga.

Ketiga adalah menyukai pekerjaan yang Anda lakukan, mencintai keluarga dan sesama di sekitar Anda. Kecintaan pada keluarga dan pekerjaan serta sesama akan membuat pikiran lebih positif dan berfungsi lebih baik, karena tidak ada kebencian pada siapapun. Bila kinerja Anda lebih baik, Anda tentu lebih mudah menciptakan kemajuan dan mencapai kesuksesan yang Anda dambakan.

Keempat adalah berempati kepada orang lain, yaitu usaha meringankan beban orang lain tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu. Berempati pada orang lain dapat berbentuk materi, dukungan motivasi, pikiran atau tenaga. Empati dapat menjadi semangat dalam berusaha meraih kesuksesan, sekaligus menjadikan kesuksesan Anda lebih berarti bagi orang lain.

Kelima adalah meningkatkan kekuatan iman dan rasa syukur atas segala karunia-Nya. Keduanya akan mencegah Anda dari perbuatan negatif atau upaya tercela hanya untuk mencapai target tertentu. Dengan iman dan syukur, kesuksesan sekecil apapun akan memberi nilai yang besar.

Keenam adalah mengasah bakat dan kemampuan yang dapat menunjang pekerjaan, serta terus belajar dari berbagai hal termasuk dari kesalahan terdahulu. Membuka diri dengan terus belajar akan membantu Anda terhindar dari kesulitan dan habis waktu sia-sia. Langkah ini akan membantu Anda menemukan berbagai alternatif untuk membangkitkan bisnis atau menyelesaikan pekerjaan dengan hasil terbaik.

Ketujuh adalah semangat dalam mengerjakan setiap tanggung jawab. Semangat yang Anda tunjukkan akan mengalirkan energi positif kepada orang lain. Antusiame kerja Anda akan memberikan nilai yang luar biasa terhadap apapun yang Anda lakukan.

Setelah memahami tips di atas, tidak begitu sulit bukan menjadi orang yang sukses dan berarti? Yang jelas menjadi orang sukses itu membanggakan, dan akan lebih membahagiakan jika kita juga dapat memberikan kontribusi terhadap orang lain. Dengan keteguhan, kesungguhan dari dalam diri Anda, dan cara yang positif semua hal yang Anda upayakan untuk meraih sukses dan menjadi manusia berarti pasti akan terwujud.

Teknik Relaksasi: Genggam Jari untuk Keseimbangan Emosi

Posting, Kamis 01 Juli 2010

Kalau kita perhatikan, banyak bayi yang menjadi lebih tenang ketika mereka mengisap salah satu jari-jari tangannya yang mungil. Ada teori yang mengatakan bahwa mengisap jari memberikan kenikmatan oral pada bayi. Tetapi ada pendapat lain yang berhubungan dengan jalur energi di tubuh yang memengaruhi emosi kita. Menurut teori akupunktur, mengisap jari akan menimbulkan rasa nyaman dan damai.

Juga ada pijat refleksi yang fokusnya pada jari kaki dan tangan. Pada jari kaki dan tangan ketika dipijat kadang timbul rasa nyeri dan adanya perasaan seperti butiran-butiran pasir atau bahkan benjolan kecil sebesar kacang hijau. Keadaan seperti ini menunjukkan jalur energi setempat sedang mengalami penyumbatan yang disebabkan oleh masalah kesehatan maupun keadaan mental seseorang.

Ada sebuah teknik relaksasi yang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun yang berhubungan dengan jari tangan serta aliran energi di dalam tubuh kita. Namanya teknik genggam jari atau finger hold. Teknik Genggam jari adalah cara yang sangat mudah untuk mengendalikan emosi. Emosi dan perasaan adalah seperti ombak energi yang bergerak melalui badan, pikiran dan jiwa kita. Di setiap ujung jari kita merupakan saluran masuk dan keluarnya energi atau dalam istilah ilmu Akupunktur disebut miridian (energy channel) yang berhubungan dengan organ-organ di dalam tubuh kita serta dan emosi yang berkaitan. Perasaan yang tidak seimbang, misal sedih, takut, marah yang berlebihan bisa menyumbat atau menghambat aliran energi, yang mengakibatkan rasa nyeri atau perasaan sesak serta tidak nyaman di tubuh kita. Menggenggam jari sambil menarik napas dalam-dalam dapat mengurangi dan menyembuhkan ketegangan fisik dan emosi, karena genggaman pada jari akan menghangatkan titik-titik keluar dan masuknya energi pada meredian yang terletak pada jari tangan kita, sehingga sumbatan di jalur energi menjadi lancar.

Teknik genggam jari ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita berada dalam keadaan yang sulit, merasa marah, tegang, takut atau ingin menangis tanpa sebab, jari bisa digenggam untuk membawa rasa damai, fokus dan nyaman sehingga kita bisa menghadapi keadaan dengan perasaan lebih tenang dan mampu membuat keputusan dengan kepala dingin. Teknik ini bisa juga dilakukan untuk relaksasi dengan musik yang berirama lembut, atau dilakukan sebelum tidur bagi yang mengalami masalah insomnia. Teknik ini bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja: ketika menunggu seseorang, dalam perjalanan, maupun ketika menghadapi masalah. Latihan ini dapat dikerjakan sendiri. Bagi yang sedang dalam keadaan depresi atau mengalami keterbatasan fisik (sakit keras, lumpuh, manula), serta balita yang tidak mampu mengerjakan sendiri, bisa dibantu oleh orang lain.

Hubungan Jari dan Emosi
Menurut teori Akupunktur, setiap jari merupakan jalur keluar masuknya energi dan berhubungan dengan emosi tertentu. Ada banyak titik-titik di sekitar jari tangan serta telapak tangan. Apabila sedang terjadi gangguan kesehatan di organ tertentu, maka ada beberapa titik di jari tangan yang sangat nyeri apabila dipijat. Ternyata setiap jari mempunyai hubungan yang berbeda dengan emosi kita.

Ibu jari berhubungan dengan perasaan sedih, ingin selalu menangis, dan merasa merana.
Jari telunjuk berhubungan dengan perasaan takut, panik, merasa terancam dan tidak nyaman.
Jari tengah berhubungan dengan perasaan marah, benci, dan kecewa.
Jari manis berhubungan dengan perasaan cemas dan kuatir.
Jari kelingking berhubungan dengan perasaan rendah diri dan kecil hati.

Dan apabila Anda sedang memijat-mijat jari tangan Anda dan menemukan beberapa titik yang nyeri, pijatlah dengan lembut sampai rasa nyeri berkurang. Memijat akan melancarkan energi di tempat yang terjadi sumbatan. Pijatan bisa diganti dengan genggaman yang memberi efek ketenangan dan rasa nyaman dan tidak menyebabkan rasa nyeri seperti kalau Anda memijat jari yang sedang mengalami ketidakselarasan energi. Genggaman memberi kehangatan, dan kehangatan juga dilakukan di teori akupunktur yang disebut moksibasi.

Cara melakukan Teknik Genggam Jari:
Peganglah tiap jari mulai dari ibu jari selama 2-3 menit. Anda bisa menggunakan tangan yang mana saja. Tarik napas yang dalam dan lembut. Hembuskanlah napas secara perlahan dan lepaskan dengan teratur. Ketika menarik nafas, hiruplah bersama rasa harmonis, damai, nyaman dan kesembuhan. Ketika menghembuskan napas, hembuskanlah secara perlahan sambil melepaskan perasaan dan masalah yang mengganggu pikiran dan bayangkan emosi yang mengganggu tersebut keluar dari pikiran kita dan masuk ke dalam bumi. Sekarang pikirkanlah perasaan-perasaan yang nyaman dan damai, sehingga Anda hanya fokus pada perasaan yang nyaman dan damai saja.

Sering kali ketika sedang menggenggam jari, Anda merasakan denyutan yang cukup keras di setiap jari Anda. Hal ini menunjukkan keadaan emosi yang sedang kurang seimbang sehingga jalur energi terhambat dan kurang lancar. Ketika energi yang tersumbat menjadi lebih lancar, maka denyutan di setiap jari akan melembut dan perasaan akan menjadi lebih tenang dan seimbang. Setelah denyutan menjadi lebih ringan, Anda bisa memindahkan gengaman pada jari selanjutnya secara berurutan.

Anda juga bisa melakukan teknik genggam jari untuk orang lain yang sedang membutuhkan bantuan. Teknik ini sangat membantu anak kecil yang sedang gelisah dan rewel, atau sedang sakit. Juga Anda bisa menggunakannya untuk orang yang sedang dilanda deresi atau trauma berat, serta orang sakit keras dalam keadaan kritis atau hampir meninggal.

Seorang guru di Ambon, ketika menemukan murid-muridnya bertengkar atau mengganggu di kelas, ibu guru tersebut ‘menghukum’ murid-muridnya dengan jalan duduk di lantai sambil menggenggam jari. Menurutnya, setelah sering anak didiknya melakukan teknik genggam jari, maka emosi mereka lebih tenang dan mereka jarang mengganggu di kelas lagi. Ketika saya mengadakan lokakarya relaksasi, pada sesi genggam jari ini terkadang beberapa peserta meneteskan air mata karena melepas emosi yang terpendam atau ada yang mengantuk luar biasa, dan banyak yang mengatakan perasaan mereka lebih tenang. Mengantuk adalah salah satu efek relaksasi. Sehingga bila Anda mengalami kesulitan tidur, cobalah melakukan teknik sederhana ini.

Teknik genggam jari ini mudah dilakukan memberikan rasa nyaman. Jadi, pada saat Anda menunggu seseorang, sedang ingin marah, panik, atau mengalami insomnia, tidak ada salahnya Anda mencoba teknik genggam jari yang mudah dilakukan di mana saja, kapan saja, yang memberikan rasa nyaman dan damai.

Selamat mencoba.

Mengapa NEKAT Dalam Konteks Menulis Itu Perlu

Posting, Kamis 01 Juli 2010

Keberanian dan pertimbangan merupakan dua faktor yang memengaruhi orang dalam bertindak, melakukan suatu pekerjaan, termasuk menulis artikel atau buku. Ada empat zona yang muncul sebagai akibatnya.

Pertama, zona lemas. Dalam zona ini orang kurang berani dan kurang pertimbangan untuk bertindak (menulis). Hasilnya, tidak ada tindakan (tak ada karya tulis).

Kedua, zona kritikus. Dalam zona ini ada begitu banyak hal yang dipertimbangkan, sehingga keberanian bertindak menjadi rendah. Hasilnya, produktivitas rendah karena terlalu banyak “kritikus” dalam otak yang bersangkutan. Keberanian dianiaya oleh pertimbangan. Ini situasi yang sering saya lihat di lingkungan akademis, banyak yang pandai “mengkritisi”, tetap sedikit sekali yang berkarya (meneliti dan menulis).

Ketiga, zona nekat. Dalam zona ini keberanian tinggi, namun pertimbangan kurang. Hasilnya, produktivitas tinggi dengan kemungkinan salah disana-sini. Sejumlah wartawan dalam masa percobaan bermukim di wilayah ini.

Keempat, zona keunggulan atau kearifan. Disini produktivitas tinggi dengan hasil-hasil yang memuaskan. Tidak banyak penulis yang sampai ke wilayah ini.

Nah, dalam konteks apapun, termasuk menulis, idealnya orang berkarya di zona keunggulan. Namun, untuk sampai ke sana, orang harus mulai dari zona kritikus atau zona nekat.

Ketika saya mulai menulis, saya mulai dari zona nekat. Buat saya, produktivitas dulu, baru bicara kualitas. Kalau kualitas tulisan terlalu dipersoalkan sementara produktivitas menulis masih sangat kurang, orang sulit untuk maju dan berkembang.

Bagaimana pengalaman Anda?