INILAH.COM, Makassar - Meski kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ditunda, namun aksi unjukrasa di Makassar masih terus berlanjut, Sabtu (31/3/2012) malam.
Seolah tak berpengaruh keputusan DPR, aksi unjukrasa yang tergabung dalam Wahana Kerja Mahasiswa Makassar (WKMM), di bawah jembatan flyover Jalan A.P. Pettarani, kali ini bukan menuntut penolakan kenaikan harga BBM melainkan menolak keputusan DPR yang hanya menunda kenaikan BBM.
"Kami menolak hasil rapat paripurna DPR RI, utamanya pasal 7 ayat 6 a, karena kami menganggap itu adalah ayat pembodohan, karena biar bagaimanapun BBM tetap akan naik," kata Sukandar Ridwan dalam orasinya.
Sambil berorasi, seperti biasa mereka membakar ban bekas, dan menutup setengah badan jalan di bawah flyover. Sebelum aksi dari WKMM, sekitar pukul 17.00 sore tadi, dua universitas yakni Universitas Indonesia Timur (UIT) dan Universitas Sawerigading melakukan aksi di tempat yang sama.
Sekitar 50-an menutup seluruh jalan dua jalur di bawah jembatan layang ini. Tak pelak lagi arus lalu lintas menjadi tersendat. Ironisnya, meski unjukrasa masih dilakukan, tak terlihat aparat dari kepolisian mengamankan aksi mereka.
Aksi mahasiswa UIT dan Universitas Sawerigading berlangsung sekitar dua jam lamanya. Mereka baru membuka jalan setyelah 20-an pasukan TNI dari Kodam melakukan negosiasi dengan mahasiswa agar membuka separuh badan jalan. [gus]
Selasa, 03 April 2012
Cara Ahmadinejad Naikkan Harga BBM Iran
Rencana pemerintah Indonesia menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) merupakan rencana kebijakan yang saat ini tengah diberlakukan pemerintah Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Mahmoud Ahmadinejad
Kenaikan BBM Iran menjadi ajang pacu menuju hidup mandiri rakyat dan masa depan cadangan minyak Iran serta keselamatan tanah air Iran yang menjadikan sumber daya alam yang tak terbarukan itu sebagai salah satu urat nadi kelangsungan bangsanya.
Kebijakan Ahmadinejad menaikkan harga BBM yang dinilai sukses itu tersebut diulas dalam diskusi bertema Politik Ekonomi Republik Islam Iran yang didaulat Direktur Iranian Corner Universitas Hasanuddin (Unhas) Supa Atha'na di Kantor Tribun Timur, Jl Cenderawasih, Makassar, Senin (2/4).
Hadir dua narasumber yang sudah menelan tahun malang melintang di negeri Iran ini, Mantan Duta Besar RI untuk Iran Prof Basri Hasanuddin dan Jurnalis senior IRIB World Service Iran Purkon Hidaya. Hadir pula Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Masika Wahyuddin Djunus, Dosen Fakultas Perikanan Universitas Hasanuddin (Unhas) DR Khusnul Yakin.
Selanjutnya, Kordinator Forum Kajian Kota Muhammad Firul Hak, Pendiri Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPM), Pembantu Dekan I Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar DR Abdul Rahim Razak, Kordinator Gerakan Perempuan Indonesia Sulsel Reni Susanti MH, Direktur Sekolah Filsafat Makassar Hajar.
Sejumlah perwakilan dari Jurnal Al Qurba, Iranian Corner Unhas, anggota Ahlul Bait Indonesia, dan anggota Komunitas Mafatihul Jinan.
"Meskipun Iran eksportir minyak terbesar ketiga dunia, tapi ternyata Iran juga dulu tetap impor BBM, seperti bensin. Kebijakan impor minyak Iran tidak terlepas dari kondisi kilang-kilang minyaknya yang rusak akibat diserang negara barat. Tapi Iran kemudian bisa melewati itu dengan pengawalan pemerintah yang begitu ketat,"kata Purkon.
"Ahamadinejad memberlakukan Blt dengan metode ketat. Pemerintah Iran memberlakukan smart card bagi pengguna BBM. Subsidi BBM dicabut tapi tidak pukul rata.Warga Iran memakai kartu mereka di pompa bensin. Untuk memperoleh smart card, Iran melakukan pendataan secara nasional. Warga menerima Blt melalui rekening smart card tersebut. Pembelian bensin pun terukur melalui kartu tersebut. Sehingga kebijakan pemimpin Iran tersebut mampu menyelamatkan rakyatnya," Purkon menambahkan.
Menurut Purkon, kebijakan pemimpin Iran Ahmadinejad menaikkan BBM juga menuai kecamanny rakyatnya. Bahkan sempat, pemimpin yang dikenal super low profile dan pemberani itu hanya disenangi masyarakat kalangan bawah. Namun, kebijakan tersebut semakin menguatkan negeri republik Islam tersebut.
"Di daerah Akhwas, Iran, selama Ahmadinejad memimpin, tahun 2011 itu terjadi kenaikan BBM, tetapi untuk produk lokal relatif tidak terjadi. Masyarakat Iran benar-benar terukur dan mandiri atas kebijakan tersebut," jelas Purkon.
Prof Basri mengatakan, kebijakan Ahmadinejad tersebut merupakan langkah berani untuk menciptakan kemandirian bangsanya. Iran senantiasa menolak dikte negara adikuasa Amerika Serikat. Iran ingin menyelamatkan energinya yang selama ini memiliki nilai bargaining yang tinggi di mata dunia.
"Iran itu merupakan kekuatan kawasan Timur Tengah. Negara Iran itu paling strategis di dunia. Iran menguasai selat Hormouz di mana 60 kebutuhan minyak dunia itu lewat di situ. Kalau ini dutup maka negara barat terancam. Di sisi lain, kebijakan minyak Ahmadinejad terhadap rakyat itu demi cadangan minyak Iran," kata Prof Basri.
Kenaikan BBM Iran menjadi ajang pacu menuju hidup mandiri rakyat dan masa depan cadangan minyak Iran serta keselamatan tanah air Iran yang menjadikan sumber daya alam yang tak terbarukan itu sebagai salah satu urat nadi kelangsungan bangsanya.
Kebijakan Ahmadinejad menaikkan harga BBM yang dinilai sukses itu tersebut diulas dalam diskusi bertema Politik Ekonomi Republik Islam Iran yang didaulat Direktur Iranian Corner Universitas Hasanuddin (Unhas) Supa Atha'na di Kantor Tribun Timur, Jl Cenderawasih, Makassar, Senin (2/4).
Hadir dua narasumber yang sudah menelan tahun malang melintang di negeri Iran ini, Mantan Duta Besar RI untuk Iran Prof Basri Hasanuddin dan Jurnalis senior IRIB World Service Iran Purkon Hidaya. Hadir pula Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Masika Wahyuddin Djunus, Dosen Fakultas Perikanan Universitas Hasanuddin (Unhas) DR Khusnul Yakin.
Selanjutnya, Kordinator Forum Kajian Kota Muhammad Firul Hak, Pendiri Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPM), Pembantu Dekan I Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar DR Abdul Rahim Razak, Kordinator Gerakan Perempuan Indonesia Sulsel Reni Susanti MH, Direktur Sekolah Filsafat Makassar Hajar.
Sejumlah perwakilan dari Jurnal Al Qurba, Iranian Corner Unhas, anggota Ahlul Bait Indonesia, dan anggota Komunitas Mafatihul Jinan.
"Meskipun Iran eksportir minyak terbesar ketiga dunia, tapi ternyata Iran juga dulu tetap impor BBM, seperti bensin. Kebijakan impor minyak Iran tidak terlepas dari kondisi kilang-kilang minyaknya yang rusak akibat diserang negara barat. Tapi Iran kemudian bisa melewati itu dengan pengawalan pemerintah yang begitu ketat,"kata Purkon.
"Ahamadinejad memberlakukan Blt dengan metode ketat. Pemerintah Iran memberlakukan smart card bagi pengguna BBM. Subsidi BBM dicabut tapi tidak pukul rata.Warga Iran memakai kartu mereka di pompa bensin. Untuk memperoleh smart card, Iran melakukan pendataan secara nasional. Warga menerima Blt melalui rekening smart card tersebut. Pembelian bensin pun terukur melalui kartu tersebut. Sehingga kebijakan pemimpin Iran tersebut mampu menyelamatkan rakyatnya," Purkon menambahkan.
Menurut Purkon, kebijakan pemimpin Iran Ahmadinejad menaikkan BBM juga menuai kecamanny rakyatnya. Bahkan sempat, pemimpin yang dikenal super low profile dan pemberani itu hanya disenangi masyarakat kalangan bawah. Namun, kebijakan tersebut semakin menguatkan negeri republik Islam tersebut.
"Di daerah Akhwas, Iran, selama Ahmadinejad memimpin, tahun 2011 itu terjadi kenaikan BBM, tetapi untuk produk lokal relatif tidak terjadi. Masyarakat Iran benar-benar terukur dan mandiri atas kebijakan tersebut," jelas Purkon.
Prof Basri mengatakan, kebijakan Ahmadinejad tersebut merupakan langkah berani untuk menciptakan kemandirian bangsanya. Iran senantiasa menolak dikte negara adikuasa Amerika Serikat. Iran ingin menyelamatkan energinya yang selama ini memiliki nilai bargaining yang tinggi di mata dunia.
"Iran itu merupakan kekuatan kawasan Timur Tengah. Negara Iran itu paling strategis di dunia. Iran menguasai selat Hormouz di mana 60 kebutuhan minyak dunia itu lewat di situ. Kalau ini dutup maka negara barat terancam. Di sisi lain, kebijakan minyak Ahmadinejad terhadap rakyat itu demi cadangan minyak Iran," kata Prof Basri.
Kamis, 02 Februari 2012
Gemuruh Aspirasi Buruh
Aksi pemblokiran jalan tol oleh buruh Bekasi merefleksikan bahwa persoalan klasik di Indonesia tak kunjung tuntas, kejadian sengketa buruh dan pengusaha sebenarnya bukan isu baru di Tanah Air, hanya lokasinya saja yang berbeda-beda.
Pada kasus di Bekasi, para buruh menuntut adanya perbaikan Upah minimum Kota (UMK). Tidak hanya itu, menurut Koordinator Serikat Buruh Bergerak Obon Tabroni, mereka juga meminta jaminan hidup layak, seperti kipas angin, air minum dan alat komunikasi. Bagi sebagian kalangan tuntutan itu adalah hal yang sangat sepele. Namun, bagi para buruh itu adalah barang "wah" yang tidak mereka miliki.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sistem pengupahan belumlah adil. Banyak pengusaha yang mementingkan ekspansi ketimbang menghargai para buruh.
Hal itu diakui oleh Sekretaris Umum Apindo Suryadi Sasmita. "Lulusan S1 terima upah minimum provinsi (UMP) sama dengan orang yang membersihkan toilet. Orang kerja baru dan kerja lama gajinya sama saja. Sistem yang baik adalah dapat gaji atau bonus sesuai kemampuan dan kontribusi," cerita dia.
Belajar dari Pengalaman
Untungnya, tragedi buruh Bekasi berhasil ditutup dengan happy ending dan tidak terjadi chaos. Pekerja dan pengusaha sepakat adanya perbaikan UMK, yakni untuk golongan I sebesar Rp1,491 juta. Kelompok II sebesar Rp1,715 juta dan kelompok III sebesar Rp1,849 juta.
Bak mati satu tumbuh seribu, persoalan di Bekasi sudah selesai, pekerja di Tangerang pun bergejolak. Ribuan buruh dari berbagai aliansi kompak menuntut disamakannya antara UMK Tangerang dengan DKI Jakarta. Seharusnya peristiwa buruh Bekasi bisa menjadi pengalaman mahal, sehingga tidak terjadi gejolak sama yang meresahkan banyak pihak.
Solusi utamanya terletak pada revisi Undang-Undang nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Perlu adanya perbaikan struktur gaji dan sistem pengupahan yang selama ini belum adil.
Selain merivisi payung hukum, solusi pamungkas lainnya adalah pengusaha selayaknya mendengarkan dan berdialog mengenai aspirasi pekerja. Perlu adanya perundingan yang menghasilkan win-win solution, baik pengusaha dan pekerja.
Lucunya, persoalan bernafaskan para kapital juga bergema dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) pada akhir pekan lalu. Sebuah pertemuan tingkat dunia yang digelar di Davos, Swiss, itu pun didominasi cercaan terhadap kapitalisme (pada kesempatan itu dibahas kapitalisme liberal Barat).
Bahwa sistem yang menganut pro kapitalis dinilai sudah tidak relevan lagi dengan kondisi zaman. Bahkan, konsep kapitalis dinilai menindas dan mecampakkan kaum marginal.
Sudah saatnya kalangan kapitalis mendengarkan dan memperhatikan para pekerjanya. Khususnya perosalan gaji yang sangat sensitif.
Seandainya dua pendekatan itu dilakukan, gelombang unjuk rasa di Bekasi maupun Tangerang, mungkin bisa dihindari.
Sialnya, gemuruh emosi pekerja sudah tidak terbendung. Bukti nyata tidak didengarkannya aspirasi buruh adalah kaburnya investor Korea yang sudah berminat menanamkan modal di Indonesia. Mereka memilih Thailand, dengan pertimbangan bisnis mereka akan aman karena minimnya isu buruh. Kalau sudah begini, siapa yang dirugikan?
Rani Hardjanti
Pada kasus di Bekasi, para buruh menuntut adanya perbaikan Upah minimum Kota (UMK). Tidak hanya itu, menurut Koordinator Serikat Buruh Bergerak Obon Tabroni, mereka juga meminta jaminan hidup layak, seperti kipas angin, air minum dan alat komunikasi. Bagi sebagian kalangan tuntutan itu adalah hal yang sangat sepele. Namun, bagi para buruh itu adalah barang "wah" yang tidak mereka miliki.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sistem pengupahan belumlah adil. Banyak pengusaha yang mementingkan ekspansi ketimbang menghargai para buruh.
Hal itu diakui oleh Sekretaris Umum Apindo Suryadi Sasmita. "Lulusan S1 terima upah minimum provinsi (UMP) sama dengan orang yang membersihkan toilet. Orang kerja baru dan kerja lama gajinya sama saja. Sistem yang baik adalah dapat gaji atau bonus sesuai kemampuan dan kontribusi," cerita dia.
Belajar dari Pengalaman
Untungnya, tragedi buruh Bekasi berhasil ditutup dengan happy ending dan tidak terjadi chaos. Pekerja dan pengusaha sepakat adanya perbaikan UMK, yakni untuk golongan I sebesar Rp1,491 juta. Kelompok II sebesar Rp1,715 juta dan kelompok III sebesar Rp1,849 juta.
Bak mati satu tumbuh seribu, persoalan di Bekasi sudah selesai, pekerja di Tangerang pun bergejolak. Ribuan buruh dari berbagai aliansi kompak menuntut disamakannya antara UMK Tangerang dengan DKI Jakarta. Seharusnya peristiwa buruh Bekasi bisa menjadi pengalaman mahal, sehingga tidak terjadi gejolak sama yang meresahkan banyak pihak.
Solusi utamanya terletak pada revisi Undang-Undang nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Perlu adanya perbaikan struktur gaji dan sistem pengupahan yang selama ini belum adil.
Selain merivisi payung hukum, solusi pamungkas lainnya adalah pengusaha selayaknya mendengarkan dan berdialog mengenai aspirasi pekerja. Perlu adanya perundingan yang menghasilkan win-win solution, baik pengusaha dan pekerja.
Lucunya, persoalan bernafaskan para kapital juga bergema dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) pada akhir pekan lalu. Sebuah pertemuan tingkat dunia yang digelar di Davos, Swiss, itu pun didominasi cercaan terhadap kapitalisme (pada kesempatan itu dibahas kapitalisme liberal Barat).
Bahwa sistem yang menganut pro kapitalis dinilai sudah tidak relevan lagi dengan kondisi zaman. Bahkan, konsep kapitalis dinilai menindas dan mecampakkan kaum marginal.
Sudah saatnya kalangan kapitalis mendengarkan dan memperhatikan para pekerjanya. Khususnya perosalan gaji yang sangat sensitif.
Seandainya dua pendekatan itu dilakukan, gelombang unjuk rasa di Bekasi maupun Tangerang, mungkin bisa dihindari.
Sialnya, gemuruh emosi pekerja sudah tidak terbendung. Bukti nyata tidak didengarkannya aspirasi buruh adalah kaburnya investor Korea yang sudah berminat menanamkan modal di Indonesia. Mereka memilih Thailand, dengan pertimbangan bisnis mereka akan aman karena minimnya isu buruh. Kalau sudah begini, siapa yang dirugikan?
Rani Hardjanti
Paradoks, Rangsang Ledakan Konflik
Beberapa waktu yang lalu, Indonesia menjadi sorotan dunia internasional. Kali ini bukan karena prestasinya meraih peringkat investasi (investment grade) dari Fitch’s Rating Ltd. dan Moody’s Investor Service. Akan tetapi karena ada kejadian heroik yang dilakoni anak-anak Sekolah Dasar (SD). Mereka yang menggantung asa dan karenanya, bertaruh nyawa menyeberangi (penulis istilahkan) “jembatan pendidikan” yang oleh media ternama dari Inggris, Dailymail disebut bak sepotong adegan film anyar Indiana Jones.
Aksi nekat anak-anak SD di di Sang Hiang, Lebak, Banten yang meniti jembatan isa terjangan banjir tersebut, tentunya menampar wajah pejabat publik. Dimana akhir-akhir ini baik eksekutif terlebih lagi legislatif menjadi bulan-bulanan akibat laku paradoksnya terhadap realitas kehidupan rakyat.
Lihatlah, hanya berjarak 77 kilometer dari lokasi “jembatan pendidikan” Indiana Jones, berdiri megah gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang hari-hari ini penghuninya menuai badai cercaan akibat dugaan mark up anggaran yang dilakukan untuk memenuhi sejumlah proyek bagi fasilitas wakil rakyat yang kinerjanya nyaris tak dirasakan itu.
Publik terperanjat ketika tahu, untuk toilet berukuran 3x2 meter persegi, kocek negara dirogoh hingga dua miliar rupiah. Pun dengan anggaran kalender yang mencapai 1,3 miliar rupiah. Lain pula soal renovasi ruang rapat badan anggaran yang angkanya lebih fantastis. 20 miliar rupiah. Kursinya, kursi impor berharga 24 juta rupiah per unit.
Masih ada ironi lain dari DPR. Kali ini soal parfum pengharum ruang seharga 1,59 miliar rupiah, kemudian mesin fotocopy dan satu Toyota Camry seharga 6,5 miliar rupiah, dua unit Welcome Screen di gerbang DPR seharga 4 miliar rupiah dan bahkan untuk gorden pun angkanya betul-betul membengkak. Dihargai 6 juta rupiah per meter. Jika tidak ada niat picik kongkalikong mark up anggaran, tidak mungkin dana yang dihabiskan sebesar itu. Maka wajar jika erosi kepercayaan kepada lembaga perwakilan rakyat itu kian meruncing.
Ternyata bukan hanya lembaga legislatif menggerogoti anggaran negara. Lembaga eksekutif pun tak mau kalah ikut renovasi. Ya, mungkin memang sedang musim renovasi. Bayangkan saja, untuk anggaran peningkatan sarana dan prasarana aparatur (meliputi beberapa istana negara) yang dihandle oleh Sekretarian Negara, telah dianggarkan 80,4 miliar rupiah di dalam APBN 2012 ini.
Tiga kenyataan di atas, yaitu kisah “jembatan pendidikan”, renovasi gedung DPR dan sejumlah anggarannya yang irasional dalam kalkulasi moral kita, serta renovasi beberapa istana negara hingga menghabiskan lebih dari 80 miliar rupiah, merupakan potret buram wajah republik yang saban hari digelayuti paradoks. Wajah yang terbelah. Lalu lantak berkeping menjadi puing-puing.
Pejabat Predator
Penulis jadi teringat petuah Arnold Toynbee di dalam bukunya yang diterjemahkan, “Sejarah Umat Manusia”. Sejarawan kenamaan asal Inggris tersebut mengatakan bahwa kemajuan kehidupan pada dasarnya akan menghantar pelaku-pelakunya bersifat seperti parasit. Hanya bisa hidup dengan mengerogoti induk/inangnya. Lebih lanjut, kata Toynbee, pada titik ekstriimnya sifat parasitik tadi bahkan sering berubah menjadi predatoris. Memangsa, mengorbankan siapa saja demi mencapai hasratnya.
Ibarat parasit, para politikus dan pejabat negara menggerogoti anggaran yang seharusnya diperuntukkan bagi rakyat tersebut. Mereka hanya mampu hidup dengan korupsi. Alhasil, rakyat pun jadi korban. Anggaran yang seharusnya diperuntukkan bagi kepentingan bersama, untuk membangun prasarana pendidikan, infrastruktur pertanian, dan sarana publik, semua terkuras ke kas-kas koruptor. Dikanalisasi untuk kepentingan individu atau kelompok. Parahnya, sudah korupsi, mereka tak juga berkinerja.
Lebih parah lagi ketika sifat predatorisnya yang berlaku. Tak segan menghabisi orang lain. Seperti mafia (atau memang sudah menjadi mafia), mereka memiliki jaringan yang rapi dan terorganisir. Pada titik ini, pimpinan puncak dalam satu lembaga atau organisasi seharusnya memiliki kecakapan mereduksi praktek-praktek kotor bawahannya.
Tapi apa daya jika ternyata pemimpin yang diharapkan tak bisa berbuat banyak. Kepemimpinan lemah. Tersandera oleh berbagai kepentingan. Atau barangkali memiliki belang yang sama sehingga enggan sama-sama teridentifikasi sebagai pemimpin predatoris.
Maka jangan salahkan rakyat, jika frustasi menyaksikan tontonan yang dilakonkan para pejabat. Ledakan anarkisme, konflik horizontal dan berbagai bentuk letupan-letupan sosial hanyalah efek samping dari kerusakan terstruktur yang mendera bangsa kita. Jika begini, lalu mau apa?
Jusman Dalle
Analis Ekonomi-Politik FE Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar
Aksi nekat anak-anak SD di di Sang Hiang, Lebak, Banten yang meniti jembatan isa terjangan banjir tersebut, tentunya menampar wajah pejabat publik. Dimana akhir-akhir ini baik eksekutif terlebih lagi legislatif menjadi bulan-bulanan akibat laku paradoksnya terhadap realitas kehidupan rakyat.
Lihatlah, hanya berjarak 77 kilometer dari lokasi “jembatan pendidikan” Indiana Jones, berdiri megah gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang hari-hari ini penghuninya menuai badai cercaan akibat dugaan mark up anggaran yang dilakukan untuk memenuhi sejumlah proyek bagi fasilitas wakil rakyat yang kinerjanya nyaris tak dirasakan itu.
Publik terperanjat ketika tahu, untuk toilet berukuran 3x2 meter persegi, kocek negara dirogoh hingga dua miliar rupiah. Pun dengan anggaran kalender yang mencapai 1,3 miliar rupiah. Lain pula soal renovasi ruang rapat badan anggaran yang angkanya lebih fantastis. 20 miliar rupiah. Kursinya, kursi impor berharga 24 juta rupiah per unit.
Masih ada ironi lain dari DPR. Kali ini soal parfum pengharum ruang seharga 1,59 miliar rupiah, kemudian mesin fotocopy dan satu Toyota Camry seharga 6,5 miliar rupiah, dua unit Welcome Screen di gerbang DPR seharga 4 miliar rupiah dan bahkan untuk gorden pun angkanya betul-betul membengkak. Dihargai 6 juta rupiah per meter. Jika tidak ada niat picik kongkalikong mark up anggaran, tidak mungkin dana yang dihabiskan sebesar itu. Maka wajar jika erosi kepercayaan kepada lembaga perwakilan rakyat itu kian meruncing.
Ternyata bukan hanya lembaga legislatif menggerogoti anggaran negara. Lembaga eksekutif pun tak mau kalah ikut renovasi. Ya, mungkin memang sedang musim renovasi. Bayangkan saja, untuk anggaran peningkatan sarana dan prasarana aparatur (meliputi beberapa istana negara) yang dihandle oleh Sekretarian Negara, telah dianggarkan 80,4 miliar rupiah di dalam APBN 2012 ini.
Tiga kenyataan di atas, yaitu kisah “jembatan pendidikan”, renovasi gedung DPR dan sejumlah anggarannya yang irasional dalam kalkulasi moral kita, serta renovasi beberapa istana negara hingga menghabiskan lebih dari 80 miliar rupiah, merupakan potret buram wajah republik yang saban hari digelayuti paradoks. Wajah yang terbelah. Lalu lantak berkeping menjadi puing-puing.
Pejabat Predator
Penulis jadi teringat petuah Arnold Toynbee di dalam bukunya yang diterjemahkan, “Sejarah Umat Manusia”. Sejarawan kenamaan asal Inggris tersebut mengatakan bahwa kemajuan kehidupan pada dasarnya akan menghantar pelaku-pelakunya bersifat seperti parasit. Hanya bisa hidup dengan mengerogoti induk/inangnya. Lebih lanjut, kata Toynbee, pada titik ekstriimnya sifat parasitik tadi bahkan sering berubah menjadi predatoris. Memangsa, mengorbankan siapa saja demi mencapai hasratnya.
Ibarat parasit, para politikus dan pejabat negara menggerogoti anggaran yang seharusnya diperuntukkan bagi rakyat tersebut. Mereka hanya mampu hidup dengan korupsi. Alhasil, rakyat pun jadi korban. Anggaran yang seharusnya diperuntukkan bagi kepentingan bersama, untuk membangun prasarana pendidikan, infrastruktur pertanian, dan sarana publik, semua terkuras ke kas-kas koruptor. Dikanalisasi untuk kepentingan individu atau kelompok. Parahnya, sudah korupsi, mereka tak juga berkinerja.
Lebih parah lagi ketika sifat predatorisnya yang berlaku. Tak segan menghabisi orang lain. Seperti mafia (atau memang sudah menjadi mafia), mereka memiliki jaringan yang rapi dan terorganisir. Pada titik ini, pimpinan puncak dalam satu lembaga atau organisasi seharusnya memiliki kecakapan mereduksi praktek-praktek kotor bawahannya.
Tapi apa daya jika ternyata pemimpin yang diharapkan tak bisa berbuat banyak. Kepemimpinan lemah. Tersandera oleh berbagai kepentingan. Atau barangkali memiliki belang yang sama sehingga enggan sama-sama teridentifikasi sebagai pemimpin predatoris.
Maka jangan salahkan rakyat, jika frustasi menyaksikan tontonan yang dilakonkan para pejabat. Ledakan anarkisme, konflik horizontal dan berbagai bentuk letupan-letupan sosial hanyalah efek samping dari kerusakan terstruktur yang mendera bangsa kita. Jika begini, lalu mau apa?
Jusman Dalle
Analis Ekonomi-Politik FE Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar
Jumat, 06 Januari 2012
Warga Mesuji; Kami Pernah Makmur Sebelum Perusahaan Mencaplok Tanah Kami!
Warga Sritanjung, Kabupaten Mesuji, Lampung mengaku pernah makmur dan berhasil menjadikan 10 sarjana sebelum PT Barat Selatan Makmur Invesindo (BSMI) masuk dan menguasai areal perkebunan mereka. "Kami dulu makmur bahkan anak-anak kami berpendidikan sampai sarjana sebelum perusahaan itu masuk ke sini dan menguasainya pada tahun 1994," kata Ajar E, tokoh warga Sritanjung, Mesuji, Lampung, Jumat.
Menurut warga, perusahaan milik warga negeri jiran itu, menjajah hak-hak warga, karena mengambil lahan dan memanfaatkan lahan perkebunan namun tidak pernah mengganti rugi atas lahan yang digunakan tersebut.
Warga lainnya, Koko, mengaku memiliki lahan keluarga seluar 100 hektare, selama 17 tahun dia dan keluarga terikat perusahaan mengelola lahan itu dan seluruh hasil perkebunan diserahkan pada perusahaan dengan pendapatan sangat minim.
"Kami dipekerjakan dalam sebulan hanya 10 hari dengan upah kerja per hari Rp31 ribu dan upah itu di luar transportasi kami ke luar-masuk areal perkebunan," kata Koko. Warga mengaku jengah dengan tindakan kesewenang-wenangan perusahaan terhadap petani. Kejengahan itu terakumulasi dan puncaknya meledak pada 10 November 2011.
Masih pengakuan warga, mereka memanen sawit di kebun miliknya sendiri yang diklaim oleh perusahaan. Namun ketika itu salah satu motor warga ditarik paksa dengan menggunakan truk bahkan satu diantara rekan mereka hilang.
"Kami beramai-ramai mendatangi kantor kepolisian bermaksud mengambil motor dan menanyakan di mana keberadaan saudara kami, tapi belum saja kami sampai dan bertanya, anggota kepolisian membrondongi kami dengan peluru tajam," ujarnya.
Dalam insiden itu, satu warga tewas. Warga pun semakin memanas dan akhirnya membakar perusahaan. Di sana pun, warga masih dihujani peluru.
Insiden pelanggaran HAM itu bermula dari satu konflik agraria, yakni PT BSMI dan PT Lampung Interpertiwi (LIP) yang menguasai lahan tanpa melalui proses ganti rugi.
Dari 10 ribu hektare lahan inti PT BSMI yang digantirugi kepada warga hanya 5.000 hektare sisanya dianggap recognisi. emikian halnya dengan PT LIP dari 6.628 hektare yang diganti hanya 3.314 ha.
Kelebihan areal PT BSMI dan PT LIP tanpa proses pembebasan seluas 2.455 ha dan lahan cadangan plasma PT BSMI yang dikuasai tanpa proses pembebasan juga seluas 7 ribu hektare. Kini, warga berharap pemerintah mengambil HGU perusahaan itu dan mengganti pengelola perkebunan itu dengan perusahaan lain.
Menurut warga, perusahaan milik warga negeri jiran itu, menjajah hak-hak warga, karena mengambil lahan dan memanfaatkan lahan perkebunan namun tidak pernah mengganti rugi atas lahan yang digunakan tersebut.
Warga lainnya, Koko, mengaku memiliki lahan keluarga seluar 100 hektare, selama 17 tahun dia dan keluarga terikat perusahaan mengelola lahan itu dan seluruh hasil perkebunan diserahkan pada perusahaan dengan pendapatan sangat minim.
"Kami dipekerjakan dalam sebulan hanya 10 hari dengan upah kerja per hari Rp31 ribu dan upah itu di luar transportasi kami ke luar-masuk areal perkebunan," kata Koko. Warga mengaku jengah dengan tindakan kesewenang-wenangan perusahaan terhadap petani. Kejengahan itu terakumulasi dan puncaknya meledak pada 10 November 2011.
Masih pengakuan warga, mereka memanen sawit di kebun miliknya sendiri yang diklaim oleh perusahaan. Namun ketika itu salah satu motor warga ditarik paksa dengan menggunakan truk bahkan satu diantara rekan mereka hilang.
"Kami beramai-ramai mendatangi kantor kepolisian bermaksud mengambil motor dan menanyakan di mana keberadaan saudara kami, tapi belum saja kami sampai dan bertanya, anggota kepolisian membrondongi kami dengan peluru tajam," ujarnya.
Dalam insiden itu, satu warga tewas. Warga pun semakin memanas dan akhirnya membakar perusahaan. Di sana pun, warga masih dihujani peluru.
Insiden pelanggaran HAM itu bermula dari satu konflik agraria, yakni PT BSMI dan PT Lampung Interpertiwi (LIP) yang menguasai lahan tanpa melalui proses ganti rugi.
Dari 10 ribu hektare lahan inti PT BSMI yang digantirugi kepada warga hanya 5.000 hektare sisanya dianggap recognisi. emikian halnya dengan PT LIP dari 6.628 hektare yang diganti hanya 3.314 ha.
Kelebihan areal PT BSMI dan PT LIP tanpa proses pembebasan seluas 2.455 ha dan lahan cadangan plasma PT BSMI yang dikuasai tanpa proses pembebasan juga seluas 7 ribu hektare. Kini, warga berharap pemerintah mengambil HGU perusahaan itu dan mengganti pengelola perkebunan itu dengan perusahaan lain.
Antara Anak, Sandal, Pisang, dan Tali Gantung ; Keadilan Makin Jauh
Vonis hakim Pengadilan Negeri Palu, Sulawesi Tengah yang menyatakan AAL (15) bersalah mencuri sandal milik Briptu Ahmad Rusdi, yang dijatuhkan pada Rabu 4 Januari 2012 malam, membuat Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), M Ikhsan geleng kepala.
Menurut dia, meski AAL tak jadi dibui dan dikembalikan ke pembinaan keluarga, putusan tersebut tetap tak bisa diterima. Sebab, ada sejumlah keanehan dalam perkara ini. "Pertama, dalam proses persidangan dan pemeriksaan barang bukti dan saksi-saksi, juga hasil investigasi, tidak terbukti AAL bersalah. Ia tak mencuri, tapi memungut sandal di pinggir jalan," kata Ikhsan, Kamis 5 Januari 2012.
Sandal yang ia pungut bukan milik Briptu Ahmad. Yang diambil sandal Eiger, yang diaku dan jadi barang bukti, sandal merek Ando. "Harusnya AAL divonis bebas," tambah dia.
Ikhsan menambahkan, putusan bersalah juga akan mempengaruhi masa depan AAL. "Seumur hidup ia akan menanggung beban psikologis sebagai pencuri sandal. Ini berbahaya bagi perkembangan anak," kata dia.
KPAI pun melaporkan hakim yang memvonis AL ke Komisi Yudisial. Juga ke Kejaksaan, Mahkamah Agung, dan Kementerian Hukum dan HAM untuk mengadukan masalah ini. Sementara, pengacara AAL, Elvis Kanuvu langsung menyatakan banding.
Sedikit berbeda, Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD menyatakan, vonis kasus pencurian sandal terhadap terdakwa AAL sudah tepat. Menurut Mahfud, tindakan ini merupakan contoh penegakan hukum tanpa pandang bulu.
"Secara hukum formal saya kira pihak kejaksaan dan pengadilan itu benar. Kan memang ada satu tindakan," kata Mahfud MD di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 5 Januari 2012. "Kalau penegakan hukum tidak dijalankan nanti diprotes lagi, ada pelanggaran hukum tapi tidak diproses.”
Meski begitu, Mahfud mengatakan secara substansi memang tidak setiap kesalahan yang secara formal bersalah, lalu dianggap salah secara substansi. Dia menilai langkah hukum yang diambil oleh kejaksaan dan pengadilan terhadap kasus ini tidak berlebihan dan prosesnya wajar. "Dinyatakan bersalah tapi tidak dihukum, dikembalikan ke orang tuanya. Saya nilai tidak berlebihan terhadap AAL, biar nanti pengadilan yang menentukan hukumannya. Pengadilan sudah memutuskan," ujar dia.
Menurut Mahfud, apabila langkah hukum tidak dijalankan oleh penegak hukum, maka kejadian serupa akan kembali terulang."Coba kalau ada orang melakukan kesalahan lalu berlindung dengan mengatakan ini pelakunya anak kecil, nanti juga susah. Akan banyak orang melakukan itu karena anak-anak," tuturnya.
Terhadap respon masyarakat yang berpendapat pemidanaan terhadap AAL berlebihan, Mahfud juga tak menyalahkan. "Masyarakat yang protes dengan mengumpulkan sandal saya nilai benar juga. Itu kan protes atas tindakan sewenang-wenang oknum polisi. Jadi sudah benar juga," ungkapnya.
Bagaimana dengan Briptu Ahmad Rusdi Harahap, korban pencurian yang melakukan penganiayaan terhadap AAL?
Jangankan sampai ke pengadilan, oknum anggota polisi ini tak diproses pidana. Ia baru dijatuhi sanksi sidang disiplin yang di gelar di Markas Komando Brimob Polda Sulteng, Kamis 5 Januari 2012.
Sanksi dibenarkan tim reaksi cepat dari Kementerian Sosial, Devi Tiomana, yang mendampingi AAL dan keluarganya saat sidang disiplin digelar. Ia menjelaskan, sidang digelar di Ruang Rupatama yang dipimpin oleh ketua majelis hakim, Komisaris Polisi Indra Budiawan.
Dalam sidang yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut, Briptu Ahmad Rusdi dinyatakan terbukti bersalah karena melakukan penganiayaan terhadap AAL. Ia dinyatakan melanggar etik karena tidak mampu mengayomi masyarakat sebagaimana tanggungjawab tugasnya. "Makanya, majelis hakim menjatuhkan sanksi sebanyak empat item, yakni teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat, mutasi, serta kurungan di ruangan khusus selama 21 hari," kata Devy saat dihubungi dari Makassar.
Kasus pisang Cilacap
Belum tuntas kasus AAL, seorang remaja di Cilacap, Jawa Tengah dikabarkan harus mendekam di tahanan gara-gara dituduh mencuri pisang. Menurut keluarganya, Kt mengalami keterbelakangan mental. Ia hanya lulus SD kelas tiga, sering mengamuk, dan tingkah lakunya aneh. Bahkan kaca di bagian muka rumahnya yang sederhana itu pecah gara-gara ulahnya. Soal usia, kakak Kt, Tgh mengatakan, adiknya lahir pada 19 Januari 1993. Umurnya menurut dia baru 17 tahun.
Kasus ini berawal pada 11 November 2011. Kt diajak rekannya, T ke kebun pisang milik Mungalim di Kecamatan Kesugihan. Di sana mereka mengambil sejumlah tandan pisang. Warga yang memergokinya lantas menghalau mereka.
Aksi itu pun dilaporkan ke polisi, yang langsung datang dan menangkap mereka. Sehari kemudian 12 November 2011, mereka ditahan. Pemilik pisang, Mungalim telah membuat surat pernyataan di atas materai, bahwa ia memaafkan Kt terkait kondisi kejiwaannya. Namun, proses hukum terus dilanjutkan.
Saat ditemui, ibu Kt, Ksm (54) menceritakan, ia dan keluarganya kaget saat menerima surat penangkapan dari polisi. "Anak saya hanya ikut-ikutan, dia anak bodoh dan mengalami kelainan mental. Di rumah saja sikapnya aneh, sering ngamuk, marah-marah," kata dia, sambil menangis.
Dia menceritakan, karena keterbelakangan mental, putranya itu hanya sekolah sampai kelas 3 Sekolah Dasar. "Setelah itu nggak naik-naik," kata dia. Ksm berpendapat, anaknya tak mungkin melakukan pencurian secara sadar. "Tolonglah, anak saya nggak tahu apa-apa, hanya ikut-ikutan," kata dia, berurai air mata.
Namun, polisi tak sependapat dengan klaim pihak tersangka. Kepala Bagian Divisi Humas Polri, Boy Rafli Amar mengatakan, Kt berusia 21 tahun, sementara rekannya, 25 tahun. Polri juga membantah ada tersangka yang menderita keterbelakangan mental. Kedua tersangka itu dinyatakan normal. "Kedua tersangka kondisi normal dan tidak mengalami cacat mental sebagaimana telah diberitakan juga oleh media," ujar Boy. “Hanya saja salah satu tersangka memiliki bibir sumbing sehingga tidak jelas dalam berbicara."
Selain itu, penahanan dilakukan karena para korban yang pisangnya dicuri oleh kedua tersangka tidak pernah mengajukan surat pencabutan laporan mereka. "Tetapi korban mengajukan surat permohonan keringanan hukuman dari Kepala Dusun dan pihak keluarga tersangka."
Mereka juga tidak terbukti dari keluarga miskin. "Pelaku ke sana menggunakan sepeda motor, kalau miskin kan jalan atau naik becak. Ekonominya bagus karena menggunakan sepeda motor. Ini yang perlu diluruskan," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution
Kasus pencurian itu terjadi pada 11 November 2011 yang lalu. Menurut Polri, kedua tersangka ini mencuri 15 tandan pisang milik Wardoyo Mungalin dan Simun warga Kecamatan Kesugihan.
Polisi berhasil menyita barang bukti berupa: pisang 15 tandan, satu buah golok, dua unit sepeda motor, dan dua unit keranjang.
Dihubungi VIVAnews.com, pengacara tersangka, Wiwin Taswin mengatakan, pihaknya akan mengusahakan pemeriksaan ahli jiwa pada tersangka Kt. "Nanti kami akan upayakan pemeriksaan ahli jiwa, untuk mengetahui apakah ada gangguan jiwa," kata dia.
Soal umur, pengacara melihat ada keganjilan di sisi polisi. "Dalam surat penahanan dan penangkapan, tertulis tanggal lahir dua tersangka sama, 21 Desember 1990, ini yang janggal," kata dia.
Wiwin mengaku sudah mengunjungi rutan untuk berkomunikasi dengan pihak tersangka. Untuk mengetahui kronologi peristiwa.
Polisi membantah tersangka dari keluarga miskin, menurut Anda? "Dari yang saya lihat, rumahnya sederhana, tak begitu bagus."
Gantung diri di Sijunjung
Ini masih misterius: benarkah dua tahanan di bawah umur tewas gantung diri? Jika benar, apa yang membuat kakak beradik itu nekat menghabisi nyawanya.
Rabu sore, 28 Desember 2011. G yang berumur 17 tahun dan adiknya Fs yang berumur 14 tahun ditemukan dalam kondisi tewas tergantung di kamar mandi ruang tahanan. Mereka diduga bunuh diri.
Tapi pihak keluarga merasa ada kejanggalan dalam kematian dua kakak beradik ini. Kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang yang mewakili keluarga menduga, keduanya tewas akibat sebab lain. "Dari fakta yang kami terima dari pihak keluarga dua hari lalu, kuat dugaan ada sebab lain," kata Koordinator Divisi Pembaruan Hukum LBH Padang, Roni Saputra, Kamis 5 Desember 2012.
Menurut laporan yang diterima LBH dari keluarga korban, jenazah mereka diterima pihak keluarga pada 28 Desember 2011 pukul 21.00 WIB. Pihak keluarga dan kuasa hukum mereka menduga, kakak beradik tersebut tewas sekitar satu jam sebelum mereka menerima jenazah.
"Kesimpulan ini muncul karena darah segar masih mengalir saat jenazah diterima pihak keluarga, tapi kami belum bisa menyimpulkan ini akibat penganiayaan, hanya saja faktanya begitu," tambah Ron.
LBH akan mengambil langkah-langkah hukum terkait. Roni mengaku bahwa LBH telah menyurati Komnas HAM Sumbar, mendesak agar lembaga tersebut segera menangani kasus ini. Pihaknya juga akan melakukan investigasi terkait tewasnya korban. "Kami juga telah menyurati Rumah Sakit M Djamil terkait hasil otopsi terhadap jenazah korban," katanya.
Hingga kini, menurutnya, pihak keluaga belum menerima hasil otopsi dari jenazah korban. Pihak kuasa hukum juga kecewa karena polisi telah mengumumkan tewasnya korban akibat bunuh diri.
G dan Fs ditahan di Polres Sijunjung terkait kasus pidana. G dikaitkan dengan kasus pencurian motor sedangkan F diduga melakukan tindak pidana pencurian kotak amal.
Dimintai konfirmasi, Kabid Humas Polda Sumatera Barat AKBP D Sugiarto mengatakan, hasil otopsi rumah sakit menyatakan, korban gantung diri. "Ini hasil otopsi rumah sakit yang menentukan penyebab kematian korban, bukan kami yang menyatakan itu (gantung diri)," kata AKBP D. Sugiarto, Kamis, 5 Januari 2012.
Menurut Sugiarto, kepolisian terbuka untuk berbagai kemungkinan dalam menindaklanjuti kasus tersebut. Pihaknya tidak akan menghalang-halangi serangkaian upaya hukum yang dilakukan pihak keluarga untuk mencari kebenaran.
"Zaman sekarang sudah tidak ada yang bisa ditutup-tutupi, itu hak keluarga (untuk mencari kebenaran)," tambahnya.
Ia juga membantah pemberitaan yang menyebut pemeriksaan kasus ini dihentikan. "Sampai sekarang masih ditindaklanjuti, kalau ada pelanggaran atau pidana yang dilakukan anggota, akan diteruskan," ujara Sugiarto.
Menurut dia, meski AAL tak jadi dibui dan dikembalikan ke pembinaan keluarga, putusan tersebut tetap tak bisa diterima. Sebab, ada sejumlah keanehan dalam perkara ini. "Pertama, dalam proses persidangan dan pemeriksaan barang bukti dan saksi-saksi, juga hasil investigasi, tidak terbukti AAL bersalah. Ia tak mencuri, tapi memungut sandal di pinggir jalan," kata Ikhsan, Kamis 5 Januari 2012.
Sandal yang ia pungut bukan milik Briptu Ahmad. Yang diambil sandal Eiger, yang diaku dan jadi barang bukti, sandal merek Ando. "Harusnya AAL divonis bebas," tambah dia.
Ikhsan menambahkan, putusan bersalah juga akan mempengaruhi masa depan AAL. "Seumur hidup ia akan menanggung beban psikologis sebagai pencuri sandal. Ini berbahaya bagi perkembangan anak," kata dia.
KPAI pun melaporkan hakim yang memvonis AL ke Komisi Yudisial. Juga ke Kejaksaan, Mahkamah Agung, dan Kementerian Hukum dan HAM untuk mengadukan masalah ini. Sementara, pengacara AAL, Elvis Kanuvu langsung menyatakan banding.
Sedikit berbeda, Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD menyatakan, vonis kasus pencurian sandal terhadap terdakwa AAL sudah tepat. Menurut Mahfud, tindakan ini merupakan contoh penegakan hukum tanpa pandang bulu.
"Secara hukum formal saya kira pihak kejaksaan dan pengadilan itu benar. Kan memang ada satu tindakan," kata Mahfud MD di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 5 Januari 2012. "Kalau penegakan hukum tidak dijalankan nanti diprotes lagi, ada pelanggaran hukum tapi tidak diproses.”
Meski begitu, Mahfud mengatakan secara substansi memang tidak setiap kesalahan yang secara formal bersalah, lalu dianggap salah secara substansi. Dia menilai langkah hukum yang diambil oleh kejaksaan dan pengadilan terhadap kasus ini tidak berlebihan dan prosesnya wajar. "Dinyatakan bersalah tapi tidak dihukum, dikembalikan ke orang tuanya. Saya nilai tidak berlebihan terhadap AAL, biar nanti pengadilan yang menentukan hukumannya. Pengadilan sudah memutuskan," ujar dia.
Menurut Mahfud, apabila langkah hukum tidak dijalankan oleh penegak hukum, maka kejadian serupa akan kembali terulang."Coba kalau ada orang melakukan kesalahan lalu berlindung dengan mengatakan ini pelakunya anak kecil, nanti juga susah. Akan banyak orang melakukan itu karena anak-anak," tuturnya.
Terhadap respon masyarakat yang berpendapat pemidanaan terhadap AAL berlebihan, Mahfud juga tak menyalahkan. "Masyarakat yang protes dengan mengumpulkan sandal saya nilai benar juga. Itu kan protes atas tindakan sewenang-wenang oknum polisi. Jadi sudah benar juga," ungkapnya.
Bagaimana dengan Briptu Ahmad Rusdi Harahap, korban pencurian yang melakukan penganiayaan terhadap AAL?
Jangankan sampai ke pengadilan, oknum anggota polisi ini tak diproses pidana. Ia baru dijatuhi sanksi sidang disiplin yang di gelar di Markas Komando Brimob Polda Sulteng, Kamis 5 Januari 2012.
Sanksi dibenarkan tim reaksi cepat dari Kementerian Sosial, Devi Tiomana, yang mendampingi AAL dan keluarganya saat sidang disiplin digelar. Ia menjelaskan, sidang digelar di Ruang Rupatama yang dipimpin oleh ketua majelis hakim, Komisaris Polisi Indra Budiawan.
Dalam sidang yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut, Briptu Ahmad Rusdi dinyatakan terbukti bersalah karena melakukan penganiayaan terhadap AAL. Ia dinyatakan melanggar etik karena tidak mampu mengayomi masyarakat sebagaimana tanggungjawab tugasnya. "Makanya, majelis hakim menjatuhkan sanksi sebanyak empat item, yakni teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat, mutasi, serta kurungan di ruangan khusus selama 21 hari," kata Devy saat dihubungi dari Makassar.
Kasus pisang Cilacap
Belum tuntas kasus AAL, seorang remaja di Cilacap, Jawa Tengah dikabarkan harus mendekam di tahanan gara-gara dituduh mencuri pisang. Menurut keluarganya, Kt mengalami keterbelakangan mental. Ia hanya lulus SD kelas tiga, sering mengamuk, dan tingkah lakunya aneh. Bahkan kaca di bagian muka rumahnya yang sederhana itu pecah gara-gara ulahnya. Soal usia, kakak Kt, Tgh mengatakan, adiknya lahir pada 19 Januari 1993. Umurnya menurut dia baru 17 tahun.
Kasus ini berawal pada 11 November 2011. Kt diajak rekannya, T ke kebun pisang milik Mungalim di Kecamatan Kesugihan. Di sana mereka mengambil sejumlah tandan pisang. Warga yang memergokinya lantas menghalau mereka.
Aksi itu pun dilaporkan ke polisi, yang langsung datang dan menangkap mereka. Sehari kemudian 12 November 2011, mereka ditahan. Pemilik pisang, Mungalim telah membuat surat pernyataan di atas materai, bahwa ia memaafkan Kt terkait kondisi kejiwaannya. Namun, proses hukum terus dilanjutkan.
Saat ditemui, ibu Kt, Ksm (54) menceritakan, ia dan keluarganya kaget saat menerima surat penangkapan dari polisi. "Anak saya hanya ikut-ikutan, dia anak bodoh dan mengalami kelainan mental. Di rumah saja sikapnya aneh, sering ngamuk, marah-marah," kata dia, sambil menangis.
Dia menceritakan, karena keterbelakangan mental, putranya itu hanya sekolah sampai kelas 3 Sekolah Dasar. "Setelah itu nggak naik-naik," kata dia. Ksm berpendapat, anaknya tak mungkin melakukan pencurian secara sadar. "Tolonglah, anak saya nggak tahu apa-apa, hanya ikut-ikutan," kata dia, berurai air mata.
Namun, polisi tak sependapat dengan klaim pihak tersangka. Kepala Bagian Divisi Humas Polri, Boy Rafli Amar mengatakan, Kt berusia 21 tahun, sementara rekannya, 25 tahun. Polri juga membantah ada tersangka yang menderita keterbelakangan mental. Kedua tersangka itu dinyatakan normal. "Kedua tersangka kondisi normal dan tidak mengalami cacat mental sebagaimana telah diberitakan juga oleh media," ujar Boy. “Hanya saja salah satu tersangka memiliki bibir sumbing sehingga tidak jelas dalam berbicara."
Selain itu, penahanan dilakukan karena para korban yang pisangnya dicuri oleh kedua tersangka tidak pernah mengajukan surat pencabutan laporan mereka. "Tetapi korban mengajukan surat permohonan keringanan hukuman dari Kepala Dusun dan pihak keluarga tersangka."
Mereka juga tidak terbukti dari keluarga miskin. "Pelaku ke sana menggunakan sepeda motor, kalau miskin kan jalan atau naik becak. Ekonominya bagus karena menggunakan sepeda motor. Ini yang perlu diluruskan," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution
Kasus pencurian itu terjadi pada 11 November 2011 yang lalu. Menurut Polri, kedua tersangka ini mencuri 15 tandan pisang milik Wardoyo Mungalin dan Simun warga Kecamatan Kesugihan.
Polisi berhasil menyita barang bukti berupa: pisang 15 tandan, satu buah golok, dua unit sepeda motor, dan dua unit keranjang.
Dihubungi VIVAnews.com, pengacara tersangka, Wiwin Taswin mengatakan, pihaknya akan mengusahakan pemeriksaan ahli jiwa pada tersangka Kt. "Nanti kami akan upayakan pemeriksaan ahli jiwa, untuk mengetahui apakah ada gangguan jiwa," kata dia.
Soal umur, pengacara melihat ada keganjilan di sisi polisi. "Dalam surat penahanan dan penangkapan, tertulis tanggal lahir dua tersangka sama, 21 Desember 1990, ini yang janggal," kata dia.
Wiwin mengaku sudah mengunjungi rutan untuk berkomunikasi dengan pihak tersangka. Untuk mengetahui kronologi peristiwa.
Polisi membantah tersangka dari keluarga miskin, menurut Anda? "Dari yang saya lihat, rumahnya sederhana, tak begitu bagus."
Gantung diri di Sijunjung
Ini masih misterius: benarkah dua tahanan di bawah umur tewas gantung diri? Jika benar, apa yang membuat kakak beradik itu nekat menghabisi nyawanya.
Rabu sore, 28 Desember 2011. G yang berumur 17 tahun dan adiknya Fs yang berumur 14 tahun ditemukan dalam kondisi tewas tergantung di kamar mandi ruang tahanan. Mereka diduga bunuh diri.
Tapi pihak keluarga merasa ada kejanggalan dalam kematian dua kakak beradik ini. Kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang yang mewakili keluarga menduga, keduanya tewas akibat sebab lain. "Dari fakta yang kami terima dari pihak keluarga dua hari lalu, kuat dugaan ada sebab lain," kata Koordinator Divisi Pembaruan Hukum LBH Padang, Roni Saputra, Kamis 5 Desember 2012.
Menurut laporan yang diterima LBH dari keluarga korban, jenazah mereka diterima pihak keluarga pada 28 Desember 2011 pukul 21.00 WIB. Pihak keluarga dan kuasa hukum mereka menduga, kakak beradik tersebut tewas sekitar satu jam sebelum mereka menerima jenazah.
"Kesimpulan ini muncul karena darah segar masih mengalir saat jenazah diterima pihak keluarga, tapi kami belum bisa menyimpulkan ini akibat penganiayaan, hanya saja faktanya begitu," tambah Ron.
LBH akan mengambil langkah-langkah hukum terkait. Roni mengaku bahwa LBH telah menyurati Komnas HAM Sumbar, mendesak agar lembaga tersebut segera menangani kasus ini. Pihaknya juga akan melakukan investigasi terkait tewasnya korban. "Kami juga telah menyurati Rumah Sakit M Djamil terkait hasil otopsi terhadap jenazah korban," katanya.
Hingga kini, menurutnya, pihak keluaga belum menerima hasil otopsi dari jenazah korban. Pihak kuasa hukum juga kecewa karena polisi telah mengumumkan tewasnya korban akibat bunuh diri.
G dan Fs ditahan di Polres Sijunjung terkait kasus pidana. G dikaitkan dengan kasus pencurian motor sedangkan F diduga melakukan tindak pidana pencurian kotak amal.
Dimintai konfirmasi, Kabid Humas Polda Sumatera Barat AKBP D Sugiarto mengatakan, hasil otopsi rumah sakit menyatakan, korban gantung diri. "Ini hasil otopsi rumah sakit yang menentukan penyebab kematian korban, bukan kami yang menyatakan itu (gantung diri)," kata AKBP D. Sugiarto, Kamis, 5 Januari 2012.
Menurut Sugiarto, kepolisian terbuka untuk berbagai kemungkinan dalam menindaklanjuti kasus tersebut. Pihaknya tidak akan menghalang-halangi serangkaian upaya hukum yang dilakukan pihak keluarga untuk mencari kebenaran.
"Zaman sekarang sudah tidak ada yang bisa ditutup-tutupi, itu hak keluarga (untuk mencari kebenaran)," tambahnya.
Ia juga membantah pemberitaan yang menyebut pemeriksaan kasus ini dihentikan. "Sampai sekarang masih ditindaklanjuti, kalau ada pelanggaran atau pidana yang dilakukan anggota, akan diteruskan," ujara Sugiarto.
Senin, 26 Desember 2011
WKMM: Copot Kapolda NTB, Periksa Bupati Bima!
citizen reporter
Zulfikar Amri, Ketua Umum Wahana Kerja Mahasiswa Makassar (WKMM)
melaporkan dari Makassar
PENGURUS Wahana Kerja Mahasiswa Makassar (WKMM) menyatakan sikap atas bentrok berdarah pihak kepolisian dengan warga di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) saat warga menolak pertambangan PT. Sumber Mineral Nusantara di Sape, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, yakni dua orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.
Atas insiden tersebut, Wahana Kerja Mahasiswa Makassar (WKMM) menuntut Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk mencopot Kapolda NTB beserta seluruh jajaran yang terlibat, dan memeriksa pejabat Bupati Bima sekaitan izin tambang PT. Sumber Mineral Nusantara.
Sulfikar Amri, Ketua Umum WKMM mengatakan membunuh adalah kejahatan kemanusiaan, tak ada pembenaran walau dengan alasan ketertiban sosial dan pelayanan umum, tindakan aparat kepolisian yang mengarahkan tembakan kepada pengunjuk rasa sewenang-wenang dan mengkhianati perjuangan rakyat untuk mendapatkan hak berdemokrasi dan berkesejahteraan, sebagai polisi sipil, seharusnya mereka melindungi masyarakat, jika kepolisian hari ini tidak bermental polisi kolonial, mestinya mereka memiliki nurani kemanusiaan, polisi harusnya pro-sipil.
Azman Muchlis, Sekretaris Umum WKMM mengatakan, polisi yang terlibat penembakan harus dicopot dan diadili, jangan berdalih "kita tunggu prosedur hukum sidang kode etik" lalu akhirnya kasus HAM ini dipeti-eskan, ini berbahaya, kasus mesuji, kasus freeport, kasus lonsum bulukumba, kasus banggai, selalu akarnya adalah pertambangan dan perkebunan.
"Seharusnya polisi sebagai aparat penegak hukum lebih mengetahui etika hukum yang berlaku, warga menduduki pelabuhan sape tentu ada pemicunya, akar permasalahan adalah keberadaan penambang, ini malah menembaki pendemo, sepertinya derajat kemanusiaan lebih murah dibanding pergerakan ekonomi di pelabuhan tersebut, periksa dulu penambang itu, periksa bupatinya, dengarkan aspirasi rakyat, janganlah aparat keamanan membela kepentingan perusahaan, ini fakta bahwa pemerintah sangat pro-korporatisme, inilah neo-imperialisme, rakyat harus berhadapan dengan melawan para pemodal, dan perusahaan tidak perlu berhadapan langsung dengan rakyat, tapi diwakili oleh bedil aparat keamanan, lalu masih adakah kedaulatan rakyat? inilah yang membuat rakyat tidak berdaulat lagi, bangsa ini membentuk rakyat frustatif, bangsa pemarah, anarkistik, karena saluran aspirasi buntu"
Sementara itu, Herman Syam Asmara Putra, Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO-WKMM) menegaskan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus menghentikan keberpihakan kepada investor, nasionalisme tergadai oleh kepentingan asing, pejabat jangan jadi agen asing di negeri sendiri, kepolisian juga sebaiknya jangan mau diperalat, yang secara membabi-buta membantai rakyat, inilah siklus kekerasan di negeri kita, produk kebijakan terhadap investor lokal dan asing yang merugikan rakyat itu juga bentuk kekerasan terhadap rakyat, rakyat melawan disebut anarkis, padahal mereka melawan karena dimiskinkan, ekosistem rusak, akar budaya terhempas angka-angka investasi, jadi sumbernya adalah kebijakan ekonomi nasional yang tidak pro-rakyat
Sukandar Ridwan, Wakil Ketua Umum WKMM menghimbau kepada elemen mahasiswa makassar untuk terus mengawal kasus Bima, "kasus seperti ini membosankan, parade kekerasan aparat harus dihentikan, mahasiswa harus mengawal kasus ini sampai tuntas, presiden harus bertanggung jawab" pungkasnya.
Zulfikar Amri, Ketua Umum Wahana Kerja Mahasiswa Makassar (WKMM)
melaporkan dari Makassar
PENGURUS Wahana Kerja Mahasiswa Makassar (WKMM) menyatakan sikap atas bentrok berdarah pihak kepolisian dengan warga di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) saat warga menolak pertambangan PT. Sumber Mineral Nusantara di Sape, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, yakni dua orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.
Atas insiden tersebut, Wahana Kerja Mahasiswa Makassar (WKMM) menuntut Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk mencopot Kapolda NTB beserta seluruh jajaran yang terlibat, dan memeriksa pejabat Bupati Bima sekaitan izin tambang PT. Sumber Mineral Nusantara.
Sulfikar Amri, Ketua Umum WKMM mengatakan membunuh adalah kejahatan kemanusiaan, tak ada pembenaran walau dengan alasan ketertiban sosial dan pelayanan umum, tindakan aparat kepolisian yang mengarahkan tembakan kepada pengunjuk rasa sewenang-wenang dan mengkhianati perjuangan rakyat untuk mendapatkan hak berdemokrasi dan berkesejahteraan, sebagai polisi sipil, seharusnya mereka melindungi masyarakat, jika kepolisian hari ini tidak bermental polisi kolonial, mestinya mereka memiliki nurani kemanusiaan, polisi harusnya pro-sipil.
Azman Muchlis, Sekretaris Umum WKMM mengatakan, polisi yang terlibat penembakan harus dicopot dan diadili, jangan berdalih "kita tunggu prosedur hukum sidang kode etik" lalu akhirnya kasus HAM ini dipeti-eskan, ini berbahaya, kasus mesuji, kasus freeport, kasus lonsum bulukumba, kasus banggai, selalu akarnya adalah pertambangan dan perkebunan.
"Seharusnya polisi sebagai aparat penegak hukum lebih mengetahui etika hukum yang berlaku, warga menduduki pelabuhan sape tentu ada pemicunya, akar permasalahan adalah keberadaan penambang, ini malah menembaki pendemo, sepertinya derajat kemanusiaan lebih murah dibanding pergerakan ekonomi di pelabuhan tersebut, periksa dulu penambang itu, periksa bupatinya, dengarkan aspirasi rakyat, janganlah aparat keamanan membela kepentingan perusahaan, ini fakta bahwa pemerintah sangat pro-korporatisme, inilah neo-imperialisme, rakyat harus berhadapan dengan melawan para pemodal, dan perusahaan tidak perlu berhadapan langsung dengan rakyat, tapi diwakili oleh bedil aparat keamanan, lalu masih adakah kedaulatan rakyat? inilah yang membuat rakyat tidak berdaulat lagi, bangsa ini membentuk rakyat frustatif, bangsa pemarah, anarkistik, karena saluran aspirasi buntu"
Sementara itu, Herman Syam Asmara Putra, Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO-WKMM) menegaskan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus menghentikan keberpihakan kepada investor, nasionalisme tergadai oleh kepentingan asing, pejabat jangan jadi agen asing di negeri sendiri, kepolisian juga sebaiknya jangan mau diperalat, yang secara membabi-buta membantai rakyat, inilah siklus kekerasan di negeri kita, produk kebijakan terhadap investor lokal dan asing yang merugikan rakyat itu juga bentuk kekerasan terhadap rakyat, rakyat melawan disebut anarkis, padahal mereka melawan karena dimiskinkan, ekosistem rusak, akar budaya terhempas angka-angka investasi, jadi sumbernya adalah kebijakan ekonomi nasional yang tidak pro-rakyat
Sukandar Ridwan, Wakil Ketua Umum WKMM menghimbau kepada elemen mahasiswa makassar untuk terus mengawal kasus Bima, "kasus seperti ini membosankan, parade kekerasan aparat harus dihentikan, mahasiswa harus mengawal kasus ini sampai tuntas, presiden harus bertanggung jawab" pungkasnya.
Minggu, 25 Desember 2011
Bentrok Bima; Perlukah Polisi Bawa Senapan Serbu Saat Hadapi Pendemo?
Bentrok antara polisi dan warga yang melakukan unjuk rasa sering terjadi. Di Bima, setidaknya dua orang tewas terkena tembakan aparat. Standar pengamanan unjuk rasa yang membolehkan polisi menyandang dan menggunakan senjata api pun dipertanyakan.
"Ini semua harus dievaluasi. Apakah saat menghadapi rakyat harus membawa senapan serbu?" ujar Penasihat Indonesia Police Watch, Johnson Panjaitan kepada detikcom, Minggu (25/12/2011).
IPW menyoroti tindakan kekerasan yang dilakukan polisi pada masyarakat. Selain di Bima, polisi juga melakukan kekerasan saat mengamankan unjuk rasa rakyat yang menuntut hak tanah miliknya di berbagai daerah. Johnson pun menyindir Polri sudah menjadi petugas keamanan pertambangan.
"Apa perlu kita kumpulkan uang seperti Freeport bayar uang keamanan Polri agar Polri memihak dan mau mengamankan rakyat," sindirnya.
Evaluasi penggunaan senjata harus segera dilakukan. Dengan senjata api berpeluru tajam, penanganan konflik akan selalu berujung represif. Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar menjelaskan evaluasi penggunaan senjata api pernah dilakukan kepolisian London. Saat itu komandan polisi London melihat anak buahnya sudah berlaku sedemikian represif. Maka para komandan pun menarik dan menyimpan semua senjata api polisi itu.
"Jadi polisi itu belajar menyelesaikan unjuk rasa dengan dialog. Bukan dengan kekerasan dan menggunakan senjata api," terang Bambang saat dihubungi terpisah.
Ketum Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengecam keras tindakan brutal aparat keamanan yang penembakan terhadap pengunjuk rasa di Bima, Nusa Tenggara Barat.
"Tindakan tersebut mencerminkan tirani dan arogansi kekuasaan, dari negara dan aparat negara yang tidak melindungi rakyatnya," kata Din dalam siaran pers tertulisnya pada Minggu (25/11/2011).
Lanjutnya, bentrok di Bima berpangkal pada kebijaksanaan pemerintah yang tidak bijak, tidak berpihak kepada rakyat dan hanya membela kepentingan pengusaha.
"Seyogyanya aspirasi rakyat diperhatikan dan dipertimbangkan melalui dialog-dialog intensif dan persuasif," tegasnya.
Tindakan aparat keamanan, kata dia, yang melakukan penembakan hingga menewaskan dua orang warga sipil merupakan pelanggaran HAM berat yang harus diproses melalui jalur hukum secara berkeadilan.
"Kami meminta Presiden SBY untuk tidak tinggal diam dan mendesak Kapolri untuk bertaggung jawab," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya dua orang yakni Arief Rachman (18) dan Syaiful (17) tewas dan 22 orang terluka dalam bentrokan warga dengan aparat keamanan di Bima. Bentrok tersebut berawal dari enggannya warga untuk meninggalkan Pelabuhan Penyebrangan ASDP Sape yang sudah diduduki sejak Senin 19 Desember lalu.
Polisi yang berjumlah sekira 300 personel awalnya melakukan upaya persuasif untuk meminta warga yang menolak pertambang di milik PT Sumber Mineral Nusantara untuk membuarakan diri.
Diduga upaya tersebut mengalami jalan buntu, petugas yang berasal dari Brimob Kabupaten Dompu, Kabupaten Sumba, Kabupaten Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan Gegana dari Brimob Matara langsung melakukan upaya pembubaran paksa.
Alhasil bentrok antar warga dengan polisi tidak terhindarkan. Dalam tuntutannya, massa meminta agar Bupati Bima Ferry Zulkarnaen untuk mencabut izin pertambangan seusai degan SK 188 tentang izin pertambangan. Namun Ferry mengaku tidak bisa mencabut izin tersebut dan hanya bisa dilakukan penghentian eksplorasi selama setahun.
Upaya persuasif yang dilakukan aparat kepolisian dan pemerintah Bima, NTB tidak berbuah hasil. Hingga akhirnya pada Senin 19 Desember lalu warga menutup Pelabuhan Sape.
Alhasil aktivitas di pelabuhan selama hampir sepekan lumpuh. Sejumah kendaraan yang ada di dalam kapal penyeberangan tidak bisa keluar dari pelabuhan akibat pendudukan pelabuhan oleh massa.
"Ini semua harus dievaluasi. Apakah saat menghadapi rakyat harus membawa senapan serbu?" ujar Penasihat Indonesia Police Watch, Johnson Panjaitan kepada detikcom, Minggu (25/12/2011).
IPW menyoroti tindakan kekerasan yang dilakukan polisi pada masyarakat. Selain di Bima, polisi juga melakukan kekerasan saat mengamankan unjuk rasa rakyat yang menuntut hak tanah miliknya di berbagai daerah. Johnson pun menyindir Polri sudah menjadi petugas keamanan pertambangan.
"Apa perlu kita kumpulkan uang seperti Freeport bayar uang keamanan Polri agar Polri memihak dan mau mengamankan rakyat," sindirnya.
Evaluasi penggunaan senjata harus segera dilakukan. Dengan senjata api berpeluru tajam, penanganan konflik akan selalu berujung represif. Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar menjelaskan evaluasi penggunaan senjata api pernah dilakukan kepolisian London. Saat itu komandan polisi London melihat anak buahnya sudah berlaku sedemikian represif. Maka para komandan pun menarik dan menyimpan semua senjata api polisi itu.
"Jadi polisi itu belajar menyelesaikan unjuk rasa dengan dialog. Bukan dengan kekerasan dan menggunakan senjata api," terang Bambang saat dihubungi terpisah.
Ketum Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengecam keras tindakan brutal aparat keamanan yang penembakan terhadap pengunjuk rasa di Bima, Nusa Tenggara Barat.
"Tindakan tersebut mencerminkan tirani dan arogansi kekuasaan, dari negara dan aparat negara yang tidak melindungi rakyatnya," kata Din dalam siaran pers tertulisnya pada Minggu (25/11/2011).
Lanjutnya, bentrok di Bima berpangkal pada kebijaksanaan pemerintah yang tidak bijak, tidak berpihak kepada rakyat dan hanya membela kepentingan pengusaha.
"Seyogyanya aspirasi rakyat diperhatikan dan dipertimbangkan melalui dialog-dialog intensif dan persuasif," tegasnya.
Tindakan aparat keamanan, kata dia, yang melakukan penembakan hingga menewaskan dua orang warga sipil merupakan pelanggaran HAM berat yang harus diproses melalui jalur hukum secara berkeadilan.
"Kami meminta Presiden SBY untuk tidak tinggal diam dan mendesak Kapolri untuk bertaggung jawab," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya dua orang yakni Arief Rachman (18) dan Syaiful (17) tewas dan 22 orang terluka dalam bentrokan warga dengan aparat keamanan di Bima. Bentrok tersebut berawal dari enggannya warga untuk meninggalkan Pelabuhan Penyebrangan ASDP Sape yang sudah diduduki sejak Senin 19 Desember lalu.
Polisi yang berjumlah sekira 300 personel awalnya melakukan upaya persuasif untuk meminta warga yang menolak pertambang di milik PT Sumber Mineral Nusantara untuk membuarakan diri.
Diduga upaya tersebut mengalami jalan buntu, petugas yang berasal dari Brimob Kabupaten Dompu, Kabupaten Sumba, Kabupaten Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan Gegana dari Brimob Matara langsung melakukan upaya pembubaran paksa.
Alhasil bentrok antar warga dengan polisi tidak terhindarkan. Dalam tuntutannya, massa meminta agar Bupati Bima Ferry Zulkarnaen untuk mencabut izin pertambangan seusai degan SK 188 tentang izin pertambangan. Namun Ferry mengaku tidak bisa mencabut izin tersebut dan hanya bisa dilakukan penghentian eksplorasi selama setahun.
Upaya persuasif yang dilakukan aparat kepolisian dan pemerintah Bima, NTB tidak berbuah hasil. Hingga akhirnya pada Senin 19 Desember lalu warga menutup Pelabuhan Sape.
Alhasil aktivitas di pelabuhan selama hampir sepekan lumpuh. Sejumah kendaraan yang ada di dalam kapal penyeberangan tidak bisa keluar dari pelabuhan akibat pendudukan pelabuhan oleh massa.
Jumat, 23 Desember 2011
Tata Surya Miliki Dua Planet Baru Seukuran Bumi
Misi Kepler dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA) memastikan telah menemukan dua planet seukuran Bumi yang mengorbiti sebuah bintang seperti Matahari dalam sistem tata surya kita, demikian NASA seperti dikutip Reuters, Kamis (22/12)
NASA menyebut penemuan ini adalah tonggak bersejarah dalam misi pencarian planet-planet serupa Bumi.
Kedua planet yang dinamai Kepler-20e dan Kepler-20f ini adalah planet-planet terkecil di luar sistem tata surya yang dikonfirmasi mengelilingi sebuah bintang seperti Matahari, demikian NASA.
Kedua planet baru ini terlalu dekat ke bintang mereka untuk bisa disebut berada di zona layak ditempati kehidupan (habitable zone) di mana ada air likuid pada permukaan planet.
"Penemuan ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa planet-planet seukuran Bumi ada di sekitar bintang-bintang lain (di luar Matahari) dan bahwa kita mampu mendeteksinya," kata Francois Fressin dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts.
Kedua planet baru ini diyakini sebagai planet berbatu. Kepler-20e agak lebih kecil dibandingkan Venus, dengan radius 0,87 kali dari jari-jari Bumi.
Kepler-20f sedikit lebih besar dibandingkan Bumi dengan jari-jari 1,03 kali jari-jari Bumi. Kedua planet ini berada di sistem beranggotakan lima planet yang dinamai dengan Kepler-20, sedangkan jaraknya adalah 1.000 tahun cahaya dalam konstelasi Lyra.
Kepler-20e mengorbiti bintangnya setiap 6,1 hari, sementara Kepler-20f mengorbit setiap 19,6 hari.Kepler-20f, yang bersuhu 800 derajat Fahrenheit, mirip dengan rata-rata hari planet Merkurius.
Suhu di permukaan Kepler-20e yang mencapai lebih dari 1.400 derajat Fahrenheit, bisa melelehkan kaca.
Teleskop ruang angkasa Kepler mendeteksi planet-planet dan calon planet dengan mengukur kekuatan cahaya lebih dari 150.000 bintang ketika planet-planet melintas di depan bintang-bintangnya.
NASA menyebut penemuan ini adalah tonggak bersejarah dalam misi pencarian planet-planet serupa Bumi.
Kedua planet yang dinamai Kepler-20e dan Kepler-20f ini adalah planet-planet terkecil di luar sistem tata surya yang dikonfirmasi mengelilingi sebuah bintang seperti Matahari, demikian NASA.
Kedua planet baru ini terlalu dekat ke bintang mereka untuk bisa disebut berada di zona layak ditempati kehidupan (habitable zone) di mana ada air likuid pada permukaan planet.
"Penemuan ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa planet-planet seukuran Bumi ada di sekitar bintang-bintang lain (di luar Matahari) dan bahwa kita mampu mendeteksinya," kata Francois Fressin dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts.
Kedua planet baru ini diyakini sebagai planet berbatu. Kepler-20e agak lebih kecil dibandingkan Venus, dengan radius 0,87 kali dari jari-jari Bumi.
Kepler-20f sedikit lebih besar dibandingkan Bumi dengan jari-jari 1,03 kali jari-jari Bumi. Kedua planet ini berada di sistem beranggotakan lima planet yang dinamai dengan Kepler-20, sedangkan jaraknya adalah 1.000 tahun cahaya dalam konstelasi Lyra.
Kepler-20e mengorbiti bintangnya setiap 6,1 hari, sementara Kepler-20f mengorbit setiap 19,6 hari.Kepler-20f, yang bersuhu 800 derajat Fahrenheit, mirip dengan rata-rata hari planet Merkurius.
Suhu di permukaan Kepler-20e yang mencapai lebih dari 1.400 derajat Fahrenheit, bisa melelehkan kaca.
Teleskop ruang angkasa Kepler mendeteksi planet-planet dan calon planet dengan mengukur kekuatan cahaya lebih dari 150.000 bintang ketika planet-planet melintas di depan bintang-bintangnya.
Nazar Sebarkan Bukti Peran Anas-Angie
Terdakwa perkara suap dalam proyek Wisma Atlet, Muhammad Nazaruddin, menyebarkan bukti peran Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh dalam kasus proyek pembangunan Stadion Hambalang dan Wisma Atlet SEA Games XXVI.
Ia, misalnya, menunjukkan sejumlah salinan kuitansi yang disebutnya sebagai bukti keterlibatan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. "Proyek Wisma Atlet satu kesatuan dengan Hambalang, dan yang menyeting adalah Anas Urbaningrum," katanya setelah majelis hakim menutup sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi DKI Jakarta, Rabu, 21 Desember 2011.
Sebelumnya, majelis hakim yang dipimpin oleh Dhamawati Ningsih memutuskan menolak eksepsi Nazar, dan melanjutkan sidang pada 4 Januari nanti dengan agenda pemeriksaan saksi.
Menurut Nazar, semua pertemuan yang membahas anggaran dan pelaksanaan proyek Hambalang serta Wisma Atlet, termasuk siapa yang harus ditemui, diatur oleh Anas. Maka, ia mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi segera memeriksanya. "Supaya KPK tak terlihat terintimidasi."
Di hadapan pers, Nazar menunjukkan sejumlah salinan kuitansi yang totalnya mencapai sekitar US$ 7 juta yang, menurut dia, merupakan biaya pemenangan Anas dalam Kongres II Demokrat di Bandung, akhir Mei 2010. Menurut dia, dana itu berasal dari pemenang tender proyek Hambalang, PT Adhi Karya (Persero), sebesar Rp 100 miliar. Nazar juga memperlihatkan salinan surat BPKB mobil atas nama PT Anugerah Nusantara yang dipergunakan oleh Anas.
Ia pun menyinggung peran Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng. Nazar berpendapat, Menterilah yang jadi penentu proyek senilai di atas Rp 50 miliar, seperti Hambalang dan Wisma Atlet.
Mengenai keterlibatan Angelina, salah seorang petinggi Demokrat, Nazar menuturkan bahwa Angelina yang bercerita menerima duit Rp 9 miliar dari proyek Wisma Atlet dalam pertemuan sejumlah petinggi Fraksi Demokrat di DPR. Angie--sapaan Angelina--bahkan selalu berkata tak mau dikorbankan dalam kasus ini. "Saya tak pernah menuduh Angie terlibat," katanya.
Pengacara Anas, Patra M. Zein, mengabaikan tudingan Nazar itu. "Kami sudah sampai pada tahap masuk kuping kanan, keluar kuping kanan," katanya kemarin. Adhi Karya juga membantah tuduhan Nazar.
Adapun Angie tak menjawab ketika dihubungi kemarin. Tapi ia telah berkali-kali menampik ketika disebut terlibat. Ketua Demokrat Bidang Hukum Benny K. Harman tak mau mengomentari kemungkinan Angie jadi tersangka. "Yang menentukan penegak hukum," ucapnya.
Ia, misalnya, menunjukkan sejumlah salinan kuitansi yang disebutnya sebagai bukti keterlibatan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. "Proyek Wisma Atlet satu kesatuan dengan Hambalang, dan yang menyeting adalah Anas Urbaningrum," katanya setelah majelis hakim menutup sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi DKI Jakarta, Rabu, 21 Desember 2011.
Sebelumnya, majelis hakim yang dipimpin oleh Dhamawati Ningsih memutuskan menolak eksepsi Nazar, dan melanjutkan sidang pada 4 Januari nanti dengan agenda pemeriksaan saksi.
Menurut Nazar, semua pertemuan yang membahas anggaran dan pelaksanaan proyek Hambalang serta Wisma Atlet, termasuk siapa yang harus ditemui, diatur oleh Anas. Maka, ia mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi segera memeriksanya. "Supaya KPK tak terlihat terintimidasi."
Di hadapan pers, Nazar menunjukkan sejumlah salinan kuitansi yang totalnya mencapai sekitar US$ 7 juta yang, menurut dia, merupakan biaya pemenangan Anas dalam Kongres II Demokrat di Bandung, akhir Mei 2010. Menurut dia, dana itu berasal dari pemenang tender proyek Hambalang, PT Adhi Karya (Persero), sebesar Rp 100 miliar. Nazar juga memperlihatkan salinan surat BPKB mobil atas nama PT Anugerah Nusantara yang dipergunakan oleh Anas.
Ia pun menyinggung peran Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng. Nazar berpendapat, Menterilah yang jadi penentu proyek senilai di atas Rp 50 miliar, seperti Hambalang dan Wisma Atlet.
Mengenai keterlibatan Angelina, salah seorang petinggi Demokrat, Nazar menuturkan bahwa Angelina yang bercerita menerima duit Rp 9 miliar dari proyek Wisma Atlet dalam pertemuan sejumlah petinggi Fraksi Demokrat di DPR. Angie--sapaan Angelina--bahkan selalu berkata tak mau dikorbankan dalam kasus ini. "Saya tak pernah menuduh Angie terlibat," katanya.
Pengacara Anas, Patra M. Zein, mengabaikan tudingan Nazar itu. "Kami sudah sampai pada tahap masuk kuping kanan, keluar kuping kanan," katanya kemarin. Adhi Karya juga membantah tuduhan Nazar.
Adapun Angie tak menjawab ketika dihubungi kemarin. Tapi ia telah berkali-kali menampik ketika disebut terlibat. Ketua Demokrat Bidang Hukum Benny K. Harman tak mau mengomentari kemungkinan Angie jadi tersangka. "Yang menentukan penegak hukum," ucapnya.
7 Tahun Hilang, Korban Tsunami Aceh Pulang
Wati, 15 tahun, warga Lr Sangkis, Desa Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan Aceh Barat, Provinsi Aceh, yang hilang saat diterjang gelombang tsunami 26 Desember 2004, kembali ke orang tuanya.
Kakek Wati di Meulaboh, Ibrahim, mengatakan cucunya tersebut menghilang ketika berusia delapan tahun saat tragedi tsunami menerpa Aceh 26 Desember 2004.
"Saya yakin benar kalau dia adalah cucu saya. Karena dari ciri-ciri sudah kami lihat ada kemiripan cucu saya yang hanyut bersama gelombang tsunami tujuh tahun lalu," katanya, Rabu, 21 Desember 2011.
Ibrahim mengatakan Wati selama ini tersesat dan melanglang buana sampai ke wilayah Aceh Utara dan Aceh Besar. Wati tidak mengetahui di mana orang tuanya karena trauma dan rasa takut masih menghantui perasaan gadis itu.
Ibrahim mengatakan gadis berambut cepak itu awalnya tiba di terminal Bus Meulaboh dari Kota Banda Aceh. Wati lalu duduk termenung di warung kopi Simpang Pelor.
Saat itulah warga setempat yang mengira gadis berjilbab biru tersebut peminta-minta menanyakan asal-usulnya. Namun Wati terdiam. Tak lama kemudian Wati hanya menyebutkan nama kakeknya yang tinggal di Kota Meulaboh.
"Saat ditanya orang, dia hanya teringat nama saya. Kemudian ada warga kita langsung mengantarkan dia ke rumah. Kemudian saya langsung memanggil kedua orang tuanya yang selamat waktu tsunami dulu," jelas Ibrahim.
Orang tua Wati, Yusniar, 35 tahun, dan M Yunus, 43 tahun, memastikan Wati adalah anak mereka. Sebab, Wati memiliki tahi lalat dan bekas luka di atas kelopak matanya saat berusia enam tahun bersamanya.
"Ini benar anak saya saat saya tanya dia punya kakak bernama Yuli dan seorang adik saat ia dulu berusia 7 tahun. Kakaknya dulu selamat, namun dia hilang dibawa gelombang tsunami," sebut Yusniar di rumah orang tuanya.
Padahal Yusniar tidak yakin kalau anak keduanya itu masih hidup setelah dibawa dahsyatnya arus gelombang tsunami. Akan tetapi setelah melihat dari ciri-ciri, bawaan serta kemiripan anak itu dengan raut wajah ayahnya, Yusniar menjadi yakin.
Isak tangis keluarga Wati menggemparkan warga Kelurahan Ujong Baroh. Masyarakat berbondong-bondong melihat Wati. Setelah tujuh tahun tak diketahui rimbanya, Wati ternyata masih hidup. Ia melanglang buana karena tidak tahu pulang ke rumah.
"Saya bukan tidak mencari anak saya dari dulu, tapi saya tidak yakin kalau dia masih hidup karena waktu itu (tsunami) ia terlepas dari tangan saya. Sementara kakak dan adiknya sempat saya larikan," ujar Yusniar.
Kakek Wati di Meulaboh, Ibrahim, mengatakan cucunya tersebut menghilang ketika berusia delapan tahun saat tragedi tsunami menerpa Aceh 26 Desember 2004.
"Saya yakin benar kalau dia adalah cucu saya. Karena dari ciri-ciri sudah kami lihat ada kemiripan cucu saya yang hanyut bersama gelombang tsunami tujuh tahun lalu," katanya, Rabu, 21 Desember 2011.
Ibrahim mengatakan Wati selama ini tersesat dan melanglang buana sampai ke wilayah Aceh Utara dan Aceh Besar. Wati tidak mengetahui di mana orang tuanya karena trauma dan rasa takut masih menghantui perasaan gadis itu.
Ibrahim mengatakan gadis berambut cepak itu awalnya tiba di terminal Bus Meulaboh dari Kota Banda Aceh. Wati lalu duduk termenung di warung kopi Simpang Pelor.
Saat itulah warga setempat yang mengira gadis berjilbab biru tersebut peminta-minta menanyakan asal-usulnya. Namun Wati terdiam. Tak lama kemudian Wati hanya menyebutkan nama kakeknya yang tinggal di Kota Meulaboh.
"Saat ditanya orang, dia hanya teringat nama saya. Kemudian ada warga kita langsung mengantarkan dia ke rumah. Kemudian saya langsung memanggil kedua orang tuanya yang selamat waktu tsunami dulu," jelas Ibrahim.
Orang tua Wati, Yusniar, 35 tahun, dan M Yunus, 43 tahun, memastikan Wati adalah anak mereka. Sebab, Wati memiliki tahi lalat dan bekas luka di atas kelopak matanya saat berusia enam tahun bersamanya.
"Ini benar anak saya saat saya tanya dia punya kakak bernama Yuli dan seorang adik saat ia dulu berusia 7 tahun. Kakaknya dulu selamat, namun dia hilang dibawa gelombang tsunami," sebut Yusniar di rumah orang tuanya.
Padahal Yusniar tidak yakin kalau anak keduanya itu masih hidup setelah dibawa dahsyatnya arus gelombang tsunami. Akan tetapi setelah melihat dari ciri-ciri, bawaan serta kemiripan anak itu dengan raut wajah ayahnya, Yusniar menjadi yakin.
Isak tangis keluarga Wati menggemparkan warga Kelurahan Ujong Baroh. Masyarakat berbondong-bondong melihat Wati. Setelah tujuh tahun tak diketahui rimbanya, Wati ternyata masih hidup. Ia melanglang buana karena tidak tahu pulang ke rumah.
"Saya bukan tidak mencari anak saya dari dulu, tapi saya tidak yakin kalau dia masih hidup karena waktu itu (tsunami) ia terlepas dari tangan saya. Sementara kakak dan adiknya sempat saya larikan," ujar Yusniar.
Kamis, 15 Desember 2011
Berbagai Teori Kecerdasan Personal
Kuliah Sigmund Freud di Universitas Clark, USA tahun 1909 tentang psikoanalisis merupakan tonggak pertama tumbuh-kembangnya teori tentang human personality yang menjadi cikal bakal kajian kecerdasan personal. Ketika itu, William James, psikolog dan filosof senior berpengaruh dari Amerika Serikat menyampaikan ucapan yang cukup monumental bersejarah kepada Freud: "The future of psychology belongs to your work".
Freud dan James merupakan representasi dari dua orientasi pemahaman kajian psikologi yang berbeda. Freud lebih memusatkan pada pengembangan kajian psikis individual (psikoanalisis). Menurutnya, kunci mencapai diri yang sehat adalah pengelolaan diri secara baik dalam mengatasi rongrongan psikis dalam diri. Sedang James bersimpati pada ide-ide Freud., tetapi ketertarikan James - yang juga banyak diikuti oleh psikolog sosial Amerika lainnya - lebih pada kajian hubungan antar individu (individual relationship) dalam tata pandang aliran behavioristik. Walaupun demikian, kedua pandangan tokoh ini mempercayai pentingnya konsep person (diri manusia), kepribadian berikut tumbuh-kembangnya .
Belakangan muncul konsep baru yang disebut Gardner sebagai personal intelligence (kecerdasan personal). Bangunan kecerdasan personal ini bersandarkan pada kecerdasan intrapersonal - yang dipelopori Freud melalui landasan kajian teori psikoanalisa individu - dan kecerdasan interpersonal dari kajian pemahaman sosial individu (the social origin of knowledge) yang dirintis James. Menurut Gardner, kecerdasan intra-personal berkaitan erat dengan kapasitas diri dalam mengelola, membedakan, menafsirkan aspek-aspek internal (inward) dirinya sendiri seperti perasaan, motivasi dan emosi yang berguna untuk memahami serta mengarahkan perilaku seseorang. Pada level bawah, kecerdasan intra personal adalah kapasitas seseorang yang berupaya membedakan situasi perasaan menyenangkan dari sesuatu yang tidak mengenakkan. Pilihan dari kondisi tersebut adalah melibatkan diri dan menikmatinya atau keluar dari situasi itu. Sedangkan pada tingkat yang lebih tinggi seseorang mampu mengenali dan menafsirkan perasaan-perasaan yang lebih rumit simbolik. Seorang penulis novel dapat menuangkan perasaan rumitnya melalui tulisan.
Sedangkan kecerdasan inter-personal berkaitan dengan kapasitas diri seseorang dalam memahami sifat-sifat orang lain (outward) seperti suasana hati, perasaan, motivasi dan temperamen. Pada level rendah, kecerdasan interpersonal bersinggungan dengan kapasitas seorang anak dalam mengenali dan membedakan berbagai suasana hati di sekitarnya. Sedangkan pada level tinggi, memungkinkan orang dewasa memahami atau "membaca" keinginan, kemauan dan harapan orang lain, meski perasaan tersembunyi.
Seseorang yang dianggap mengetahui sesuatu "know-that" dalam konteks kecerdasan intra dan inter-personal tidak sertamerta secara praksis lalu menjadi mampu "know-how" nya. Karakteristik kecerdasan personal sama dengan berbagai kecerdasan lain yang masih berupa potensi dan perlu "sentuhan" untuk menampakkannya. Survey tentang kecerdasan personal dianggap penting oleh Gardner. Menurutnya, bentuk-bentuk pemahaman personal sangat diperlukan pada sejumlah - kalau tidak ingin dikatakan semua - sektor kehidupan masyarakat. Namun, kajian kecerdasan personal cenderung diabaikan atau kurang diperhatikan oleh ahli psikologi kognisi. Padahal sejak lahir, atribut-atribut yang berkaitan dengan kecerdasan personal sudah melekat pada manusia. Bahkan simpanse-binatang mamalia yang mendekati ciri manusia-memiliki juga perasaan seperti pada diri manusia, yang diperolehnya tanpa terlebih dulu dilatih.
Tumbuh-kembangnya kecerdasan personal paling tidak dapat dibagi dalam beberapa masa yakni masa bayi sampai umur dua tahun; masa kanak-kanak usia dua hingga lima tahun; masa usia sekolah; masa remaja; dan masa dewasa. Pada fase-fase awal, individu telah mampu membedakan antara ayah dan ibu, orang tua dan orang lain, ekspresi gembira dan sedih atau marah. Berbagai perasaan yang diperoleh dari orang lain, pengalaman dan lingkungannya merupakan cikal bakal tanda-tanda empati pada diri individu sejalan dengan perkembangan aspek bahasa. Pada usia awal sekolah individu mendapatkan pengalaman bersosialisasi, mengenal orang lain, besifat lebih luwes, dan egocentrism berkurang. Biasanya di usia 6, 7 dan 8 tahun, anak melakukan sesuatu secara fisik apa yang dia bisa lakukan setelah memperoleh berbagai pengetahuan. Pada fase berikutnya, muncul sensitivitas sosial yang lebih besar pada perasaan orang lain.
Kecerdasan personal menurut Gardner dipengaruhi oleh budaya. Dalam budaya Jawa misalnya seseorang terbiasa dengan menekan kedalam perasaan-perasaan subyektifnya yang berbeda dengan dunia Barat yang selalu mengekspresikan perasaannya. Konsep lainnya adalah "civilized versus uncivillized or vulgar". Menurut konsep ini, kondisi "civilized" dapat diraih melalui displin beragama (ritual keagamaan) dan etika bersosialisasi. Kecerdasan personal yang berkembang dengan baik memungkinkan individu memiliki andil dalam pengembangan komunitas masyarakatnya. Makin rendah kemampuan seseorang memahami perasaannya sendiri, makin buruk orang tersebut dalam berinteraksi dengan orang lain. Selanjutnya, semakin kurang kemampuan individu memahami perasaan dan perilaku orang lain, semakin buruk interaksi orang tesebut dengan orang lain.
Dalam tulisan Gardner tidak disinggung sama sekali tentang konsep emotional intelligence yang diperkenalkan antara lain oleh Reuveun Bar-On, Peter Salovey, John Myers dan beberapa tokoh lain pada era ahun 1980an termasuk Daniel Goleman. Bahkan, kemudian Goleman melalui buku best seller pada tahun 1995 mengungkap secara populer dan lengkap kecerdasan emosional tersebut. Seandainya Gardner mengutip juga pendapat para tokoh diatas, maka tulisannya tentang kecerdasan personal akan lebih bermanfaat untuk pendidikan, sekalipun latar penelitian yang mereka lakukan bukan pada latar persekolahan.
Kajian-kajian Peter Salovery dan kawan-kawan sebenarnya menarik untuk dibahas mengingat mereka berupaya menampilkan alat tes kecerdasan emosional. Pada bukunya yang terbit kemudian Intelligence Reframed (1999) Gardner mulai melihat dan membahas referensi lain yang berkaitan dengan kecerdasan emosional termasuk kajian yang dilakukan oleh Goleman..
Berbeda dengan Goleman yang tampak berupaya me"globalisasikan" atau men"jual" temuannya untuk kepentingan awam, Gardner cukup berhati-hati dalam melakukan kajiannya yang lebih di arahkan pada dunia pendidikan. Ia cukup lapang dada dalam menerima berbagai kritik atas hasil temuannya itu.. Bahkan, ia sendiri berupaya melakukan otokritik terhadap teori kecerdasan majemuk seperti terungkap dalam tulisan Multiple Intelligences after 20 years (www.eiconsortium.org; diakses 30 Nopember 2006). Salah satu kritik yang diterimanya adalah tentang alat ukur kecerdasan yang tidak diupayakan untuk dikembangkan oleh Gardner sendiri. Teori dan temuannya memang tidak dilengkapi dengan alat tes untuk mengukur kecerdasan, karena kajian-kajian Gardner lebih didasarkan pada pengalaman dan pengamatan sehari-hari yang lebih bersifat kualitatif.
Hasil-hasil temuan Gadner dan Goleman dapat merupakan referensi yang saling melengkapi dalam kajian Psikologi Pendidikan, walaupun memang penelitian Gardner belakangan di arahkan pada kebutuhan dan keperluan dunia industri. Hal ini mengingat kajian Goleman tentang emotional intelligence didukung pendanaannya oleh perusahaan multinasional yang bergerak pada pengembangan sumber daya manusia bernama Hay Group (www.eiconsortium.org; diakses 30 Nopember 2006). Oleh karena pendanaan kegiatan Goleman diberikan oleh lembaga berorientasi komersial ini, sehingga dapat dimaklumi jika penelitiannya lebih ke arah lingkup dunia usaha dan industri, sesuai pesanan Hay Group. Sebaliknya, Gardner lebih menaruh perhatian pada dunia pendidikan formal. Penelitian Gardner yang melahirkan teori Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk) dilakukan terbatas dengan metode observasi dan kajian teoretik.
Hal cukup menarik yang perlu diungkap pada perbedaan tata pandang (worldview) dari kedua tokoh adalah persoalan nilai. Goleman sangat mempertimbangkan masalah-masalah nilai dan moral dalam penelitiannya, sedangkan Gardner menganggap hasil temuannya itu bersifat value free, artinya proses perkembangan atas temuannya itu tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai moral. Lebih jauh lagi Gardner tidak sepaham dengan teori yang muncul tentang kecerdasan spiritual, moral dan sejenisnya. Menurut Gardner, kecerdasan moral dan spiritual belum memenuhi kriteria keilmuan, sehingga belum bisa dimasukkan dalam kategori kecerdasan (intelligence). Dalam bukunya ia memang belum membahas "sentuhan" untuk menumbuh-kembangkan kecerdasan personal. Tetapi pada buku-buku selanjutnya ia mulai membahas lebih rinci tentang kondisi dan suasana yang diperlukan dalam meningkatkan kecerdasan majemuk individu (Gardner, 1999, 2002).. Salahsatu pembahasan masalah ini terdapat dalam The Disciplined Mind.
Dalam buku The Disciplined Mind (Gardner, 1999) diungkapkan bahwa jika sekolah-sekolah tidak segera merubah dirinya ke arah yang lebih baik, maka fungsi sekolah bisa diganti oleh lembaga atau institusi lain yang lebih responsif terhadap kebutuhan belajar masyarakat. Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah membuat individu ingin melakukan sesuatu bukan menyuruhnya atas apa yang harus dilakukan. Menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman, suasana menyenangkan, menantang dan menggugah minat belajar siswa/pebelajar merupakan misi penting pendidikan (halaman 77 dari The Disciplined Mind). Selama bertahun-tahun guru dan pendidik sering berkutat pada pengemabngan nilai-nilai kognitif semata. Sentuhan-sentuhan potensi yang terdapat dalam teori Multiple Intellegences kurang terperhatikan dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, penyesuaian suasana lingkungan belajar yang mengacu pada pengembangan potensi berbagai kecerdasan lain menurut Gardner diperlukan dan membawa siswa pada pemahaman mendalam tentang: true or false, beautiful or unpalatable, good or evil (The Disciplined Mind halaman 52, 75, 186). Selain itu, dalam khasanah kecerdasan majemuk telah muncul berbagai buku tentang latihan-latihan untuk mengaktualisasikan potensi kecerdasan majemuk, salah satunya buku: berjudul: Multiple Intelligences: Best Ideas From Reserach and Practice (Mindy dan kawan-kawan, 2004).
*) Mhs PPs MPI-UIN Maliki Malang
Dosen Luar Biasa Universitas Brawijaya
Freud dan James merupakan representasi dari dua orientasi pemahaman kajian psikologi yang berbeda. Freud lebih memusatkan pada pengembangan kajian psikis individual (psikoanalisis). Menurutnya, kunci mencapai diri yang sehat adalah pengelolaan diri secara baik dalam mengatasi rongrongan psikis dalam diri. Sedang James bersimpati pada ide-ide Freud., tetapi ketertarikan James - yang juga banyak diikuti oleh psikolog sosial Amerika lainnya - lebih pada kajian hubungan antar individu (individual relationship) dalam tata pandang aliran behavioristik. Walaupun demikian, kedua pandangan tokoh ini mempercayai pentingnya konsep person (diri manusia), kepribadian berikut tumbuh-kembangnya .
Belakangan muncul konsep baru yang disebut Gardner sebagai personal intelligence (kecerdasan personal). Bangunan kecerdasan personal ini bersandarkan pada kecerdasan intrapersonal - yang dipelopori Freud melalui landasan kajian teori psikoanalisa individu - dan kecerdasan interpersonal dari kajian pemahaman sosial individu (the social origin of knowledge) yang dirintis James. Menurut Gardner, kecerdasan intra-personal berkaitan erat dengan kapasitas diri dalam mengelola, membedakan, menafsirkan aspek-aspek internal (inward) dirinya sendiri seperti perasaan, motivasi dan emosi yang berguna untuk memahami serta mengarahkan perilaku seseorang. Pada level bawah, kecerdasan intra personal adalah kapasitas seseorang yang berupaya membedakan situasi perasaan menyenangkan dari sesuatu yang tidak mengenakkan. Pilihan dari kondisi tersebut adalah melibatkan diri dan menikmatinya atau keluar dari situasi itu. Sedangkan pada tingkat yang lebih tinggi seseorang mampu mengenali dan menafsirkan perasaan-perasaan yang lebih rumit simbolik. Seorang penulis novel dapat menuangkan perasaan rumitnya melalui tulisan.
Sedangkan kecerdasan inter-personal berkaitan dengan kapasitas diri seseorang dalam memahami sifat-sifat orang lain (outward) seperti suasana hati, perasaan, motivasi dan temperamen. Pada level rendah, kecerdasan interpersonal bersinggungan dengan kapasitas seorang anak dalam mengenali dan membedakan berbagai suasana hati di sekitarnya. Sedangkan pada level tinggi, memungkinkan orang dewasa memahami atau "membaca" keinginan, kemauan dan harapan orang lain, meski perasaan tersembunyi.
Seseorang yang dianggap mengetahui sesuatu "know-that" dalam konteks kecerdasan intra dan inter-personal tidak sertamerta secara praksis lalu menjadi mampu "know-how" nya. Karakteristik kecerdasan personal sama dengan berbagai kecerdasan lain yang masih berupa potensi dan perlu "sentuhan" untuk menampakkannya. Survey tentang kecerdasan personal dianggap penting oleh Gardner. Menurutnya, bentuk-bentuk pemahaman personal sangat diperlukan pada sejumlah - kalau tidak ingin dikatakan semua - sektor kehidupan masyarakat. Namun, kajian kecerdasan personal cenderung diabaikan atau kurang diperhatikan oleh ahli psikologi kognisi. Padahal sejak lahir, atribut-atribut yang berkaitan dengan kecerdasan personal sudah melekat pada manusia. Bahkan simpanse-binatang mamalia yang mendekati ciri manusia-memiliki juga perasaan seperti pada diri manusia, yang diperolehnya tanpa terlebih dulu dilatih.
Tumbuh-kembangnya kecerdasan personal paling tidak dapat dibagi dalam beberapa masa yakni masa bayi sampai umur dua tahun; masa kanak-kanak usia dua hingga lima tahun; masa usia sekolah; masa remaja; dan masa dewasa. Pada fase-fase awal, individu telah mampu membedakan antara ayah dan ibu, orang tua dan orang lain, ekspresi gembira dan sedih atau marah. Berbagai perasaan yang diperoleh dari orang lain, pengalaman dan lingkungannya merupakan cikal bakal tanda-tanda empati pada diri individu sejalan dengan perkembangan aspek bahasa. Pada usia awal sekolah individu mendapatkan pengalaman bersosialisasi, mengenal orang lain, besifat lebih luwes, dan egocentrism berkurang. Biasanya di usia 6, 7 dan 8 tahun, anak melakukan sesuatu secara fisik apa yang dia bisa lakukan setelah memperoleh berbagai pengetahuan. Pada fase berikutnya, muncul sensitivitas sosial yang lebih besar pada perasaan orang lain.
Kecerdasan personal menurut Gardner dipengaruhi oleh budaya. Dalam budaya Jawa misalnya seseorang terbiasa dengan menekan kedalam perasaan-perasaan subyektifnya yang berbeda dengan dunia Barat yang selalu mengekspresikan perasaannya. Konsep lainnya adalah "civilized versus uncivillized or vulgar". Menurut konsep ini, kondisi "civilized" dapat diraih melalui displin beragama (ritual keagamaan) dan etika bersosialisasi. Kecerdasan personal yang berkembang dengan baik memungkinkan individu memiliki andil dalam pengembangan komunitas masyarakatnya. Makin rendah kemampuan seseorang memahami perasaannya sendiri, makin buruk orang tersebut dalam berinteraksi dengan orang lain. Selanjutnya, semakin kurang kemampuan individu memahami perasaan dan perilaku orang lain, semakin buruk interaksi orang tesebut dengan orang lain.
Dalam tulisan Gardner tidak disinggung sama sekali tentang konsep emotional intelligence yang diperkenalkan antara lain oleh Reuveun Bar-On, Peter Salovey, John Myers dan beberapa tokoh lain pada era ahun 1980an termasuk Daniel Goleman. Bahkan, kemudian Goleman melalui buku best seller pada tahun 1995 mengungkap secara populer dan lengkap kecerdasan emosional tersebut. Seandainya Gardner mengutip juga pendapat para tokoh diatas, maka tulisannya tentang kecerdasan personal akan lebih bermanfaat untuk pendidikan, sekalipun latar penelitian yang mereka lakukan bukan pada latar persekolahan.
Kajian-kajian Peter Salovery dan kawan-kawan sebenarnya menarik untuk dibahas mengingat mereka berupaya menampilkan alat tes kecerdasan emosional. Pada bukunya yang terbit kemudian Intelligence Reframed (1999) Gardner mulai melihat dan membahas referensi lain yang berkaitan dengan kecerdasan emosional termasuk kajian yang dilakukan oleh Goleman..
Berbeda dengan Goleman yang tampak berupaya me"globalisasikan" atau men"jual" temuannya untuk kepentingan awam, Gardner cukup berhati-hati dalam melakukan kajiannya yang lebih di arahkan pada dunia pendidikan. Ia cukup lapang dada dalam menerima berbagai kritik atas hasil temuannya itu.. Bahkan, ia sendiri berupaya melakukan otokritik terhadap teori kecerdasan majemuk seperti terungkap dalam tulisan Multiple Intelligences after 20 years (www.eiconsortium.org; diakses 30 Nopember 2006). Salah satu kritik yang diterimanya adalah tentang alat ukur kecerdasan yang tidak diupayakan untuk dikembangkan oleh Gardner sendiri. Teori dan temuannya memang tidak dilengkapi dengan alat tes untuk mengukur kecerdasan, karena kajian-kajian Gardner lebih didasarkan pada pengalaman dan pengamatan sehari-hari yang lebih bersifat kualitatif.
Hasil-hasil temuan Gadner dan Goleman dapat merupakan referensi yang saling melengkapi dalam kajian Psikologi Pendidikan, walaupun memang penelitian Gardner belakangan di arahkan pada kebutuhan dan keperluan dunia industri. Hal ini mengingat kajian Goleman tentang emotional intelligence didukung pendanaannya oleh perusahaan multinasional yang bergerak pada pengembangan sumber daya manusia bernama Hay Group (www.eiconsortium.org; diakses 30 Nopember 2006). Oleh karena pendanaan kegiatan Goleman diberikan oleh lembaga berorientasi komersial ini, sehingga dapat dimaklumi jika penelitiannya lebih ke arah lingkup dunia usaha dan industri, sesuai pesanan Hay Group. Sebaliknya, Gardner lebih menaruh perhatian pada dunia pendidikan formal. Penelitian Gardner yang melahirkan teori Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk) dilakukan terbatas dengan metode observasi dan kajian teoretik.
Hal cukup menarik yang perlu diungkap pada perbedaan tata pandang (worldview) dari kedua tokoh adalah persoalan nilai. Goleman sangat mempertimbangkan masalah-masalah nilai dan moral dalam penelitiannya, sedangkan Gardner menganggap hasil temuannya itu bersifat value free, artinya proses perkembangan atas temuannya itu tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai moral. Lebih jauh lagi Gardner tidak sepaham dengan teori yang muncul tentang kecerdasan spiritual, moral dan sejenisnya. Menurut Gardner, kecerdasan moral dan spiritual belum memenuhi kriteria keilmuan, sehingga belum bisa dimasukkan dalam kategori kecerdasan (intelligence). Dalam bukunya ia memang belum membahas "sentuhan" untuk menumbuh-kembangkan kecerdasan personal. Tetapi pada buku-buku selanjutnya ia mulai membahas lebih rinci tentang kondisi dan suasana yang diperlukan dalam meningkatkan kecerdasan majemuk individu (Gardner, 1999, 2002).. Salahsatu pembahasan masalah ini terdapat dalam The Disciplined Mind.
Dalam buku The Disciplined Mind (Gardner, 1999) diungkapkan bahwa jika sekolah-sekolah tidak segera merubah dirinya ke arah yang lebih baik, maka fungsi sekolah bisa diganti oleh lembaga atau institusi lain yang lebih responsif terhadap kebutuhan belajar masyarakat. Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah membuat individu ingin melakukan sesuatu bukan menyuruhnya atas apa yang harus dilakukan. Menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman, suasana menyenangkan, menantang dan menggugah minat belajar siswa/pebelajar merupakan misi penting pendidikan (halaman 77 dari The Disciplined Mind). Selama bertahun-tahun guru dan pendidik sering berkutat pada pengemabngan nilai-nilai kognitif semata. Sentuhan-sentuhan potensi yang terdapat dalam teori Multiple Intellegences kurang terperhatikan dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, penyesuaian suasana lingkungan belajar yang mengacu pada pengembangan potensi berbagai kecerdasan lain menurut Gardner diperlukan dan membawa siswa pada pemahaman mendalam tentang: true or false, beautiful or unpalatable, good or evil (The Disciplined Mind halaman 52, 75, 186). Selain itu, dalam khasanah kecerdasan majemuk telah muncul berbagai buku tentang latihan-latihan untuk mengaktualisasikan potensi kecerdasan majemuk, salah satunya buku: berjudul: Multiple Intelligences: Best Ideas From Reserach and Practice (Mindy dan kawan-kawan, 2004).
*) Mhs PPs MPI-UIN Maliki Malang
Dosen Luar Biasa Universitas Brawijaya
Sabtu, 03 Desember 2011
Perang Airbus - Boeing Merebut Pesanan 230 Pesawat Lion Air
Kontrak raksasa antara produsen pesawat AS, Boeing, dengan maskapai Lion Air dari Indonesia ternyata membuat gusar Airbus. Pembuat pesawat asal Eropa itu menuduh pemerintah AS sudah campur tangan sehingga Boeing diuntungkan dalam proyek jual beli pesawat.
Penilaian itu diutarakan oleh Kepala Eksekutif Operasional Airbus, John Leahy. Dia mengomentari kesepakatan pembelian 230 unit pesawat Boeing 737 oleh Lion Air di Bali November lalu. Penandatanganan itu dihadiri langsung oleh Presiden AS, Barack Obama.
Menurut Leahy, lobi-lobi dengan memanfaatkan Presiden Obama telah menunjukkan AS ternyata memberlakukan standar ganda mengenai kompetisi pasar bebas. "Hanya ada satu adidaya di dunia dan kita tahu pasti bukan Prancis, tapi kemungkinan besar diwakili oleh Presiden Obama," kata Leahy di Washington DC seperti yang dikutip kantor berita Reuters, 1 Desember 2011.
"Saat dia mulai membuat berita-berita utama bahwa dia menjual banyak pesawat dan bagaimana itu tidak akan terwujud tanpa keterlibatan pribadinya, ini menunjukkan bahwa kita telah melihat distorsi ekonomi dan kita tidak boleh bicara mengenai perdagangan yang bebas dan terbuka di dunia bila AS bersikap begitu," kata Leahy, yang merupakan eksekutif Airbus asal AS.
Pernyataan Leahy ini menandakan sengitnya persaingan antara Airbus dan Boeing dalam merebut pangsa terbesar dalam pasar pesawat komersil. Belum ada reaksi dari pemerintah AS maupun petinggi Boeing atas komentar eksekutif Airbus itu.
Proyek antara Boeing dan Lion Air itu berbiaya sekitar US$21,7 miliar. Ini merupakan transaksi komersil terbesar bagi sejarah Boeing. Mekanisme pembayaran proyek itu akan dibantu oleh Bank Ekspor Impor AS.
Bagi Obama, proyek itu akan melibatkan 110.000 pekerja industri. Ini merupakan isu strategis bagi Obama, yang kemungkinan akan mencalonkan diri lagi sebagai presiden pada Pemilu 2012, mengingat pengangguran merupakan tantangan bagi AS untuk pulih dari krisis ekonomi.
Kesepakatan itu muncul beberapa bulan setelah Airbus sukses mendapat proyek pemesanan pesawat dari maskapai asal AS, American Airlines, sebanyak 260 unit.
Sebelum kesepakatan antara Boeing dan Lion Air, muncul kabar bahwa Airbus tertarik untuk berbisnis dengan maskapai asal Indonesia itu. Leahy bahkan yakin bahwa Airbus bisa kembali menang bila tidak ada intervensi politik dari Washington.
"CEO dan pemilik maskapai itu, yang selama ini hanya membeli pesawat Boeing, sebenarnya pernah datang ke saya di Toulouse dua kali untuk berbicara mengenai pembelian pesawat dan akhirnya dia berkata tidak ada pilihan," kata Leahy, yang juga merangkap sebagai Kepala Eksekutif Komersial Airbus.
"Saya tidak yakin apa yang dimaksud dengan 'tidak ada pilihan,' namun tampaknya ada campur tangan politik yang dahsyat dan menurut saya Gedung Putih sangat bangga atas itu dan berkata proyek [Boeing] tersebut tidak akan terjadi tanpa campur tangan Gedung Putih. Well, mungkin itu benar, namun itu tidak bagus bagi kebebasan berkompetisi dan perdagangan bebas," lanjut Leahy.
Sementara itu pihak Lion Air membantah kabar bahwa perjanjian dengan Boeing didasarkan atas tekanan. "Saya tidak bersedia mengomentari isu itu, namun yang bisa saya katakan adalah kami melakukan pembelian murni berdasarkan pertimbangan komersial dan kami bebas untuk melakukannya," kata juru bicara Lion Air, Edward Sirait kepada Reuters.
Penilaian itu diutarakan oleh Kepala Eksekutif Operasional Airbus, John Leahy. Dia mengomentari kesepakatan pembelian 230 unit pesawat Boeing 737 oleh Lion Air di Bali November lalu. Penandatanganan itu dihadiri langsung oleh Presiden AS, Barack Obama.
Menurut Leahy, lobi-lobi dengan memanfaatkan Presiden Obama telah menunjukkan AS ternyata memberlakukan standar ganda mengenai kompetisi pasar bebas. "Hanya ada satu adidaya di dunia dan kita tahu pasti bukan Prancis, tapi kemungkinan besar diwakili oleh Presiden Obama," kata Leahy di Washington DC seperti yang dikutip kantor berita Reuters, 1 Desember 2011.
"Saat dia mulai membuat berita-berita utama bahwa dia menjual banyak pesawat dan bagaimana itu tidak akan terwujud tanpa keterlibatan pribadinya, ini menunjukkan bahwa kita telah melihat distorsi ekonomi dan kita tidak boleh bicara mengenai perdagangan yang bebas dan terbuka di dunia bila AS bersikap begitu," kata Leahy, yang merupakan eksekutif Airbus asal AS.
Pernyataan Leahy ini menandakan sengitnya persaingan antara Airbus dan Boeing dalam merebut pangsa terbesar dalam pasar pesawat komersil. Belum ada reaksi dari pemerintah AS maupun petinggi Boeing atas komentar eksekutif Airbus itu.
Proyek antara Boeing dan Lion Air itu berbiaya sekitar US$21,7 miliar. Ini merupakan transaksi komersil terbesar bagi sejarah Boeing. Mekanisme pembayaran proyek itu akan dibantu oleh Bank Ekspor Impor AS.
Bagi Obama, proyek itu akan melibatkan 110.000 pekerja industri. Ini merupakan isu strategis bagi Obama, yang kemungkinan akan mencalonkan diri lagi sebagai presiden pada Pemilu 2012, mengingat pengangguran merupakan tantangan bagi AS untuk pulih dari krisis ekonomi.
Kesepakatan itu muncul beberapa bulan setelah Airbus sukses mendapat proyek pemesanan pesawat dari maskapai asal AS, American Airlines, sebanyak 260 unit.
Sebelum kesepakatan antara Boeing dan Lion Air, muncul kabar bahwa Airbus tertarik untuk berbisnis dengan maskapai asal Indonesia itu. Leahy bahkan yakin bahwa Airbus bisa kembali menang bila tidak ada intervensi politik dari Washington.
"CEO dan pemilik maskapai itu, yang selama ini hanya membeli pesawat Boeing, sebenarnya pernah datang ke saya di Toulouse dua kali untuk berbicara mengenai pembelian pesawat dan akhirnya dia berkata tidak ada pilihan," kata Leahy, yang juga merangkap sebagai Kepala Eksekutif Komersial Airbus.
"Saya tidak yakin apa yang dimaksud dengan 'tidak ada pilihan,' namun tampaknya ada campur tangan politik yang dahsyat dan menurut saya Gedung Putih sangat bangga atas itu dan berkata proyek [Boeing] tersebut tidak akan terjadi tanpa campur tangan Gedung Putih. Well, mungkin itu benar, namun itu tidak bagus bagi kebebasan berkompetisi dan perdagangan bebas," lanjut Leahy.
Sementara itu pihak Lion Air membantah kabar bahwa perjanjian dengan Boeing didasarkan atas tekanan. "Saya tidak bersedia mengomentari isu itu, namun yang bisa saya katakan adalah kami melakukan pembelian murni berdasarkan pertimbangan komersial dan kami bebas untuk melakukannya," kata juru bicara Lion Air, Edward Sirait kepada Reuters.
Selasa, 29 November 2011
Media Asing ; Indonesia Itu BlackBerry Nation
Indonesia mendapat julukan baru sebagai "BlackBerry Nation" oleh sejumlah media asing. Julukan tersebut merujuk pada rusuh pembelian produk BlackBerry Bellagio setengah harga Jumat (24/11/2011).
Ricuh tersebut membuat Jakarta yang menjadi lokasi penjualan perdana Blackberry 9790 (Bellagio) makin "dikenal" masyarakat dunia. Sejumlah media asing ikut memberitakan insiden memalukan tersebut.
RIM sengaja memilih lokasi Jakarta sebagai tempat peluncuran Blackberry Bellagio pertama di dunia. Seminggu setelah peluncuran khusus bagi media, RIM juga sudah membuat geger karena membagikan Blackberry Bellagio kepada seluruh undangan secara gratis. Sepekan kemudian, RIM kembali membuat gempar dengan menyediakan Blackberry Bellagio yang didiskon 50 persen kepada 1.000 orang pembeli pertama.
Seperti dikutip Slashgear, RIM sukses membuat Blackberry begitu populer bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta gara-gara diskon besar ini. Masyarakat tumpah ruah untuk mengantre dan sempat ada pembeli yang cedera serta pingsan. Sekitar 200 anggota polisi dan mobil ambulans pun ikut berjaga-jaga mengamankan penjualan ponsel tersebut.
Media Phonesreview di Inggris menulis penjualan ponsel Blackberry di seluruh dunia mengalami penurunan. Namun, penjualan ponsel tersebut di Indonesia justru mengalami kenaikan.
Selain itu, media tersebut menulis masyarakat di negara lain sudah berpindah membeli iPhone dan ponsel Android, tapi Indonesia ternyata masih menjadi pasar terbesar bagi penjualan Blackberry. Atas dasar itu Indonesia mendapat julukan "Blackberry Nation".
Ricuh tersebut membuat Jakarta yang menjadi lokasi penjualan perdana Blackberry 9790 (Bellagio) makin "dikenal" masyarakat dunia. Sejumlah media asing ikut memberitakan insiden memalukan tersebut.
RIM sengaja memilih lokasi Jakarta sebagai tempat peluncuran Blackberry Bellagio pertama di dunia. Seminggu setelah peluncuran khusus bagi media, RIM juga sudah membuat geger karena membagikan Blackberry Bellagio kepada seluruh undangan secara gratis. Sepekan kemudian, RIM kembali membuat gempar dengan menyediakan Blackberry Bellagio yang didiskon 50 persen kepada 1.000 orang pembeli pertama.
Seperti dikutip Slashgear, RIM sukses membuat Blackberry begitu populer bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta gara-gara diskon besar ini. Masyarakat tumpah ruah untuk mengantre dan sempat ada pembeli yang cedera serta pingsan. Sekitar 200 anggota polisi dan mobil ambulans pun ikut berjaga-jaga mengamankan penjualan ponsel tersebut.
Media Phonesreview di Inggris menulis penjualan ponsel Blackberry di seluruh dunia mengalami penurunan. Namun, penjualan ponsel tersebut di Indonesia justru mengalami kenaikan.
Selain itu, media tersebut menulis masyarakat di negara lain sudah berpindah membeli iPhone dan ponsel Android, tapi Indonesia ternyata masih menjadi pasar terbesar bagi penjualan Blackberry. Atas dasar itu Indonesia mendapat julukan "Blackberry Nation".
Analisis Kegagalan Konstruksi Jembatan Kutai Kartanegara
Jembatan Kutai Kertanegara adalah salah satu jembatan yang dirancang dengan menggunakan cable-suspension sebagai konstruksi utamanya yang berfungsi sebagai penahan sekaligus penyalur tegangan-tegangan yang terjadi yang diakibat beban-beban statis ataupun juga beban-beban dinamis. Dimana dalam perhitungan konstruksi jembatan biasanya diistilahkan dengan Beban Mati ( Dead Load ) dan Beban Hidup ( Live Load ).
Selain kedua istilah beban tersebut masih ada istilah lain untuk beban-beban yang juga biasa terjadi dan harus diperhitungkan antara lain adalah Beban Angin ( Wind Load ) dan Beban yang disebabkan oleh Gempa ( Seismic Load ) serta masih ada lagi tapi jarang diperhitungkan yaitu Resonansi Load yang disebabkan pengaruh dari suatu bunyi yang cukup keras dan bisa menimbulkan getaran pada konstruksi jembatan, terjadi pada tempat-tempat tertentu yang sering dilanda angin kencang atau badai. Dalam analysis perhitungannya beban-beban tersebut harus dikombinasi kan antara satu dengan yang lain berdasarkan aturan-aturan yang sudah baku dan telah ditetapkan sebagai Peraturan-peraturan yang harus diikuti dan dilaksanakan.
Adapun yang dimaksud beban mati diatas adalah semua bagian komponen atau material konstruksi yang bersifat tetap dan terus menerus membebani keberadaan kontruksi tersebut. Untuk beban hidup umumnya merupakan beban segala macam kendaraan yang melintas dan mempengaruhi konstruksi tersebut sewaktu-waktu pada saat berada diatasnya. Sedangkan beban angin dan beban gempa sifatnya temporary tetapi tetap harus ada dalam analysisnya.
Mengamati dan mencermati dari insiden kegagalan kontruksi pada jembatan kutai kertanegara yang terjadi pada hari sabtu tiga hari yang lalu berdasarkan keterangan saksi-saksi pada saat terjadinya insiden kegagalan kontruksi, secara teoritis ada 2 hal yang bisa menyebabkan hal itu. Pertama akibat adanya pengaruh maintenance atau pemeliharaan ( saat insiden terjadi maintenance/pemeliharaan sedang berlansung ). Dan kedua adanya peningkatan beban hidup yang bisa menjadikan terjadinya kelebihan beban ( over load ). Untuk alasan pertama kemungkinannya sangat kecil karena umumnya maintenance atau pemeliharan dilakukan tidak mengganti atau merubah kontruksi utama jembatan.
Bagaimana dengan kemungkinan kedua, hal ini terjadi secara tidak langsung akibat dari adanya maintenance/pemeliharaan dikarenakan adanya buka tutup salah satu sisi jalan pada jembatan sehingga menyebabkan perlambatan dan bahkan bisa kemacetan kendaraan yang berpengaruh pada peningkatan beban pada salah satu sisi yang lain hal ini bisa membuat lantai jembatan miring tegak lurus sisi arah jalan pada jembatan hal ini sesuai dengan keterangan salah seorang saksi yang melihat terjadinya kemiringan sisi jembatan pada saat insiden. Mungkinkah hal ini penyebabnya?
Sesungguhnya yang menarik dan bisa dilihat untuk diperhatikan yaitu pada bagian-bagian utama konstruksi pasca-insiden, kita coba perhatikan satu persatu bagian demi bagian konstruksi utama. Pertama pondasi dan pilar utama sekalipun ada cacat tapi tetap kokoh berdiri dalam hal ini tentunya bukan sebagai faktor utama kegagalan struktur jembatan. Kedua Block beton penahan angkur cable tetap ada serta masih kokoh dan demikian pula cable suspensionnya tetap menempel serta tergantung pada pilar utama, sekalipun ada informasi block beton sedikit ada keretakan dan pergeseran tapi hal itu sudah terjadi beberapa waktu sebelumnya indikasi itu bisa dicermati pernah adanya perlebaran pada perletakan girder salah satu sisi yang terletak di tenggarongnya.
Andaipun hal itu terjadi karena kegagalan end blok tentunya konstruksi rangka tetap tergantung pada tempatnya dan tidak sedramatis secepat hitungan detik jatuh bersamaan ke sungai serta adanya bekas dari pergeseran tersebut. Dalam suatu kesempatan sertifikasi kontruksi pada tahun 2004 dikota Samarinda, salah seorang mentor nya yang cukup mengetahui dalam perancangan jembatan tersebut menyebutkan secara teknis bahwa untuk system pembagian distribusi pembebanan pada jembatan Kutai Kertanegara, terbagi 2, yaitu : Rangka baja dengan bentang 270 meter tersebut merupakan konstruksi penahan untuk semua beban mati yang disalurkan kepilar utama dan selanjutnya kepondasi. Dan cable suspension utama sebagai penahan konstruksi semua beban hidup untuk disalurkan kepilar dan seterusnya ke pondasi.
Pada saat sebelum terjadinya keruntuhan adanya peningkatan jumlah kendaraan yang melintas dalam ini merupakan beban hidup. Tentunya akan diterima calbe suspension-nya sebagai penyalur utama tegangan yang timbul dari akibat hal itu. Yang sangat menarik kiranya untuk dicermati adalah semua beban hidup dari kendaraan yang akan disalurkan ke cable suspension harus melewati kontruksi yang biasa disebut tie-rod/hanger atau penggantung, dari pengalaman penulis titik terlemah pada konstuksi tie-rod/hanger ini terletak pada derat bautnya dan pada clampnya. Jika kita mengamati keruntuhan dilokasi insiden, hampir-hampir tidak tampak dari sisa-sia kontruksi tie-rod/hanger atupun penggantung tersebut, jika disebabkan derat bautnya dapat dipastikan sekurang-kurangnya masih tetap tergantung dan berada pada tempat terkoneksinya di cable-suspension, sementara clamp-clampnya juga tidak tersisa. Sangatlah sayang jika hal ini dikesampingkan begitu saja, terutama pada kekuatan material clamp-nya yang pantas untuk dicurigai sebagai penyebabnya. Penulis merupakan praktisi pelaksana kontruksi dan anggota Himpunan Pengembangan Jalan Indonsia ( HPJI ).
Selain kedua istilah beban tersebut masih ada istilah lain untuk beban-beban yang juga biasa terjadi dan harus diperhitungkan antara lain adalah Beban Angin ( Wind Load ) dan Beban yang disebabkan oleh Gempa ( Seismic Load ) serta masih ada lagi tapi jarang diperhitungkan yaitu Resonansi Load yang disebabkan pengaruh dari suatu bunyi yang cukup keras dan bisa menimbulkan getaran pada konstruksi jembatan, terjadi pada tempat-tempat tertentu yang sering dilanda angin kencang atau badai. Dalam analysis perhitungannya beban-beban tersebut harus dikombinasi kan antara satu dengan yang lain berdasarkan aturan-aturan yang sudah baku dan telah ditetapkan sebagai Peraturan-peraturan yang harus diikuti dan dilaksanakan.
Adapun yang dimaksud beban mati diatas adalah semua bagian komponen atau material konstruksi yang bersifat tetap dan terus menerus membebani keberadaan kontruksi tersebut. Untuk beban hidup umumnya merupakan beban segala macam kendaraan yang melintas dan mempengaruhi konstruksi tersebut sewaktu-waktu pada saat berada diatasnya. Sedangkan beban angin dan beban gempa sifatnya temporary tetapi tetap harus ada dalam analysisnya.
Mengamati dan mencermati dari insiden kegagalan kontruksi pada jembatan kutai kertanegara yang terjadi pada hari sabtu tiga hari yang lalu berdasarkan keterangan saksi-saksi pada saat terjadinya insiden kegagalan kontruksi, secara teoritis ada 2 hal yang bisa menyebabkan hal itu. Pertama akibat adanya pengaruh maintenance atau pemeliharaan ( saat insiden terjadi maintenance/pemeliharaan sedang berlansung ). Dan kedua adanya peningkatan beban hidup yang bisa menjadikan terjadinya kelebihan beban ( over load ). Untuk alasan pertama kemungkinannya sangat kecil karena umumnya maintenance atau pemeliharan dilakukan tidak mengganti atau merubah kontruksi utama jembatan.
Bagaimana dengan kemungkinan kedua, hal ini terjadi secara tidak langsung akibat dari adanya maintenance/pemeliharaan dikarenakan adanya buka tutup salah satu sisi jalan pada jembatan sehingga menyebabkan perlambatan dan bahkan bisa kemacetan kendaraan yang berpengaruh pada peningkatan beban pada salah satu sisi yang lain hal ini bisa membuat lantai jembatan miring tegak lurus sisi arah jalan pada jembatan hal ini sesuai dengan keterangan salah seorang saksi yang melihat terjadinya kemiringan sisi jembatan pada saat insiden. Mungkinkah hal ini penyebabnya?
Sesungguhnya yang menarik dan bisa dilihat untuk diperhatikan yaitu pada bagian-bagian utama konstruksi pasca-insiden, kita coba perhatikan satu persatu bagian demi bagian konstruksi utama. Pertama pondasi dan pilar utama sekalipun ada cacat tapi tetap kokoh berdiri dalam hal ini tentunya bukan sebagai faktor utama kegagalan struktur jembatan. Kedua Block beton penahan angkur cable tetap ada serta masih kokoh dan demikian pula cable suspensionnya tetap menempel serta tergantung pada pilar utama, sekalipun ada informasi block beton sedikit ada keretakan dan pergeseran tapi hal itu sudah terjadi beberapa waktu sebelumnya indikasi itu bisa dicermati pernah adanya perlebaran pada perletakan girder salah satu sisi yang terletak di tenggarongnya.
Andaipun hal itu terjadi karena kegagalan end blok tentunya konstruksi rangka tetap tergantung pada tempatnya dan tidak sedramatis secepat hitungan detik jatuh bersamaan ke sungai serta adanya bekas dari pergeseran tersebut. Dalam suatu kesempatan sertifikasi kontruksi pada tahun 2004 dikota Samarinda, salah seorang mentor nya yang cukup mengetahui dalam perancangan jembatan tersebut menyebutkan secara teknis bahwa untuk system pembagian distribusi pembebanan pada jembatan Kutai Kertanegara, terbagi 2, yaitu : Rangka baja dengan bentang 270 meter tersebut merupakan konstruksi penahan untuk semua beban mati yang disalurkan kepilar utama dan selanjutnya kepondasi. Dan cable suspension utama sebagai penahan konstruksi semua beban hidup untuk disalurkan kepilar dan seterusnya ke pondasi.
Pada saat sebelum terjadinya keruntuhan adanya peningkatan jumlah kendaraan yang melintas dalam ini merupakan beban hidup. Tentunya akan diterima calbe suspension-nya sebagai penyalur utama tegangan yang timbul dari akibat hal itu. Yang sangat menarik kiranya untuk dicermati adalah semua beban hidup dari kendaraan yang akan disalurkan ke cable suspension harus melewati kontruksi yang biasa disebut tie-rod/hanger atau penggantung, dari pengalaman penulis titik terlemah pada konstuksi tie-rod/hanger ini terletak pada derat bautnya dan pada clampnya. Jika kita mengamati keruntuhan dilokasi insiden, hampir-hampir tidak tampak dari sisa-sia kontruksi tie-rod/hanger atupun penggantung tersebut, jika disebabkan derat bautnya dapat dipastikan sekurang-kurangnya masih tetap tergantung dan berada pada tempat terkoneksinya di cable-suspension, sementara clamp-clampnya juga tidak tersisa. Sangatlah sayang jika hal ini dikesampingkan begitu saja, terutama pada kekuatan material clamp-nya yang pantas untuk dicurigai sebagai penyebabnya. Penulis merupakan praktisi pelaksana kontruksi dan anggota Himpunan Pengembangan Jalan Indonsia ( HPJI ).
Sabtu, 26 November 2011
Mengakhiri Impunitas, Menyudahi Ketakutan Jurnalis
Impunitas adalah satu keadaan ketika pelaku penghilangan nyawa lolos dari investigasi.
Asia Tenggara punya reputasi buruk di kalangan wartawan. Ancaman selalu mengintai dengan bentuk beragam. Contohnya, ada jurnalis yang dipenjara karena tuntutan usang pencemaran nama serta fitnah; penahanan tanpa menjalani proses pengadilan; korban kekerasan; serta impunitas dalam kasus pembunuhan jurnalis.
Bukan hal kebetulan bahwa jurnalis yang menempuh risiko itu adalah mereka yang mengungkap kelemahan struktur pemerintahan, ketimpangan distribusi sumber daya, dan ketiadaan akuntabilitas serta keterbukaan pemerintah. Beragam kelemahan yang diungkai itu mempengaruhi warga negara untuk bisa menikmati hak-hak mendasarnya seperti, antara lain, hak untuk hidup, hak atas tempat tinggal, hak atas kesehatan, hak atas pendidikan, dan hak atas penghidupan.
Saran yang biasanya disampaikan kepada para jurnalis adalah tak ada kisah yang layak dihargai dengan nyawa mereka. Akan tetapi, para jurnalis telah menyaksikan banyak nyawa melayang sepanjang pengalaman mereka bekerja. Namun, tak banyak pelaku pembunuhan yang bisa dihadirkan di meja hijau karena impunitas sudah mengurat-mengakar.
Impunitas adalah satu keadaan ketika pelaku penghilangan nyawa - baik yang menjadi korban adalah jurnalis, aktivis, atau pengacara - lolos dari investigasi maupun proses pengadilan. Impunitas dan kekerasan mendapat tempat di negara dengan demokrasi damai. Kita tak bisa berdiam diri dan menghentikan mereka kini, dan di sini.
Sebuah zero sum game: tiap penjahat yang tak mendapatkan hukuman jadi pemenang. Hal ini mewakili para pribadi yang punya kuasa, negara, atau bahkan pengusaha. Masyarakat tak mendapatkan apa-apa. Nihil. Hak publik mendapatkan informasi dirampas.
Pembunuhan sadis Marlene Esperat di Filipina pada tahun 2005 merupakan salah satu misal.
Esperat merupakan anggota Ombudsman setempat, selain bekerja sebagai jurnalis. Ia kukuh dengan perjuangannya memerangi korupsi. Ia berada terlalu dekat dengan kebenaran yang dicarinya. Pernah bekerja dengan Departemen Pertanian di Mindanao Tengah, Filipina, ia lantas menjadi wartawan dan kerap memuat tulisannya di Midland's Review.
Ia mengungkap penyelewengan pupuk serta bermacam kejahatan lain yang melibatkan Departemen Pertanian. Ia dihabisi di depan anak-anaknya ketika sedang menikmati makan malam pada tanggal 24 Maret 2005. Para tersangka pembunuh mengaku bahwa mereka dibayar US$3 ribu untuk membunuhnya.
Setelah enam tahun proses pengadilan yang pelik, otak di balik pembunuhan Esperat akhirnya akan dibawa ke hadapan hakim. Bagi keluarganya, penantian akan akhir sidang mungkin masih lama. Namun setidaknya kasus ini menuju ke arah yang diharapkan.
Hari paling kelam dalam sejarah media adalah pembantaian brutal atas 58 orang, termasuk 32 pekerja media, di Provinsi Maguindanao, Filipina Selatan. Mereka dibunuh di tengah upaya mendaftarkan calon mereka dalam pemilihan umum oleh kelompok paramiliter Klan Ampatua.
Kita tahu bahwa dua tahun setelah tragedi berdarah terburuk dalam sejarah Filipina itu, 196 orang ditangkap. 93 orang dari jumlah itu, termasuk beberapa anggota keluarga Ampatua, ditahan dan 64 lainnya diseret ke pengadilan. Namun, proses pengadilan terhambat oleh kematian satu-per-satu saksi, dugaan suap dan ancaman kepada pihak penggugat. Harapannya, tuntutan kepada para terdakwa ditarik.
Selepas peristiwa 23 November 2009, tak hanya bangsa Filipina belaka yang dituntut melihat akibat yang ditimbulkan dari kekerasan terhadap media, namun juga komunitas internasional.
Keluarga korban dan masyarakat umum terkena dampaknya selama bertahun-tahun kemudian. Mereka dengan mantap terkungkung dalam budaya ketakutan.
Namun, tak hanya Filipina semata yang terantai dengan impunitas. Keadaan yang menyebabkan impunitas terjadi - korupsi yang merajalela, peradilan yang lemah, penegakan hukum yang mandek, dan kerangka hukum yang lunglai - merayap di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Di Thailand, dua jurnalis asing, yakni Hiro Muramoto dan Fabio Polenghi, dibunuh ketika sedang meliput konflik politik di negara itu pada tahun 2010. Namun, pelaku yang seharusnya bertanggung jawab atas kejahatan itu belum lagi dituntut.
Kasus penghilangan orang dan pembunuhan ekstrajudisial atas pengacara HAM, aktivis lingkungan dan buruh menunjukkan adanya masalah besar di Thailand. Selain itu, negara dan lembaga penegak hukum seperti tak memiliki kehendak politik untuk mengadili para kriminal.
Di Indonesia, dari sejumlah kasus yang dicatat sampai 2010, 63 persen jurnalis yang tewas, dipercaya dienyahkan oleh tangan para pejabat pemerintah. Menurut data dari Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), 75 persen dari kasus-kasus semacam itu belum terungkap.
Solusi dari ancaman impunitas itu tak hanya ada di pundak pemerintah dan elit politik, meski mereka memiliki otoritas terbesar. Pemilik media juga punya tanggung jawab besar dalam melindungi karyawannya. Pun, jurnalis partikelir dalam melindungi dirinya. Di atas itu semua, perjuangan mengakhiri impunitas adalah perjuangan rakyat meminta pertanggungjawaban pemerintahnya atas nama keadilan.
--
Gayathry Venkiteswaran adalah Direktur Eksekutif Aliansi Jurnalis Asia Tenggara (SEAPA). Tanggal 23 November diperingati sebagai Hari Internasional Melawan Impunitas. Ini adalah kali pertama komunitas internasional mengupayakan peringatan ini. Tanggal 23 menandai terjadinya Pembantaian Maguindanao.
Asia Tenggara punya reputasi buruk di kalangan wartawan. Ancaman selalu mengintai dengan bentuk beragam. Contohnya, ada jurnalis yang dipenjara karena tuntutan usang pencemaran nama serta fitnah; penahanan tanpa menjalani proses pengadilan; korban kekerasan; serta impunitas dalam kasus pembunuhan jurnalis.
Bukan hal kebetulan bahwa jurnalis yang menempuh risiko itu adalah mereka yang mengungkap kelemahan struktur pemerintahan, ketimpangan distribusi sumber daya, dan ketiadaan akuntabilitas serta keterbukaan pemerintah. Beragam kelemahan yang diungkai itu mempengaruhi warga negara untuk bisa menikmati hak-hak mendasarnya seperti, antara lain, hak untuk hidup, hak atas tempat tinggal, hak atas kesehatan, hak atas pendidikan, dan hak atas penghidupan.
Saran yang biasanya disampaikan kepada para jurnalis adalah tak ada kisah yang layak dihargai dengan nyawa mereka. Akan tetapi, para jurnalis telah menyaksikan banyak nyawa melayang sepanjang pengalaman mereka bekerja. Namun, tak banyak pelaku pembunuhan yang bisa dihadirkan di meja hijau karena impunitas sudah mengurat-mengakar.
Impunitas adalah satu keadaan ketika pelaku penghilangan nyawa - baik yang menjadi korban adalah jurnalis, aktivis, atau pengacara - lolos dari investigasi maupun proses pengadilan. Impunitas dan kekerasan mendapat tempat di negara dengan demokrasi damai. Kita tak bisa berdiam diri dan menghentikan mereka kini, dan di sini.
Sebuah zero sum game: tiap penjahat yang tak mendapatkan hukuman jadi pemenang. Hal ini mewakili para pribadi yang punya kuasa, negara, atau bahkan pengusaha. Masyarakat tak mendapatkan apa-apa. Nihil. Hak publik mendapatkan informasi dirampas.
Pembunuhan sadis Marlene Esperat di Filipina pada tahun 2005 merupakan salah satu misal.
Esperat merupakan anggota Ombudsman setempat, selain bekerja sebagai jurnalis. Ia kukuh dengan perjuangannya memerangi korupsi. Ia berada terlalu dekat dengan kebenaran yang dicarinya. Pernah bekerja dengan Departemen Pertanian di Mindanao Tengah, Filipina, ia lantas menjadi wartawan dan kerap memuat tulisannya di Midland's Review.
Ia mengungkap penyelewengan pupuk serta bermacam kejahatan lain yang melibatkan Departemen Pertanian. Ia dihabisi di depan anak-anaknya ketika sedang menikmati makan malam pada tanggal 24 Maret 2005. Para tersangka pembunuh mengaku bahwa mereka dibayar US$3 ribu untuk membunuhnya.
Setelah enam tahun proses pengadilan yang pelik, otak di balik pembunuhan Esperat akhirnya akan dibawa ke hadapan hakim. Bagi keluarganya, penantian akan akhir sidang mungkin masih lama. Namun setidaknya kasus ini menuju ke arah yang diharapkan.
Hari paling kelam dalam sejarah media adalah pembantaian brutal atas 58 orang, termasuk 32 pekerja media, di Provinsi Maguindanao, Filipina Selatan. Mereka dibunuh di tengah upaya mendaftarkan calon mereka dalam pemilihan umum oleh kelompok paramiliter Klan Ampatua.
Kita tahu bahwa dua tahun setelah tragedi berdarah terburuk dalam sejarah Filipina itu, 196 orang ditangkap. 93 orang dari jumlah itu, termasuk beberapa anggota keluarga Ampatua, ditahan dan 64 lainnya diseret ke pengadilan. Namun, proses pengadilan terhambat oleh kematian satu-per-satu saksi, dugaan suap dan ancaman kepada pihak penggugat. Harapannya, tuntutan kepada para terdakwa ditarik.
Selepas peristiwa 23 November 2009, tak hanya bangsa Filipina belaka yang dituntut melihat akibat yang ditimbulkan dari kekerasan terhadap media, namun juga komunitas internasional.
Keluarga korban dan masyarakat umum terkena dampaknya selama bertahun-tahun kemudian. Mereka dengan mantap terkungkung dalam budaya ketakutan.
Namun, tak hanya Filipina semata yang terantai dengan impunitas. Keadaan yang menyebabkan impunitas terjadi - korupsi yang merajalela, peradilan yang lemah, penegakan hukum yang mandek, dan kerangka hukum yang lunglai - merayap di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Di Thailand, dua jurnalis asing, yakni Hiro Muramoto dan Fabio Polenghi, dibunuh ketika sedang meliput konflik politik di negara itu pada tahun 2010. Namun, pelaku yang seharusnya bertanggung jawab atas kejahatan itu belum lagi dituntut.
Kasus penghilangan orang dan pembunuhan ekstrajudisial atas pengacara HAM, aktivis lingkungan dan buruh menunjukkan adanya masalah besar di Thailand. Selain itu, negara dan lembaga penegak hukum seperti tak memiliki kehendak politik untuk mengadili para kriminal.
Di Indonesia, dari sejumlah kasus yang dicatat sampai 2010, 63 persen jurnalis yang tewas, dipercaya dienyahkan oleh tangan para pejabat pemerintah. Menurut data dari Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), 75 persen dari kasus-kasus semacam itu belum terungkap.
Solusi dari ancaman impunitas itu tak hanya ada di pundak pemerintah dan elit politik, meski mereka memiliki otoritas terbesar. Pemilik media juga punya tanggung jawab besar dalam melindungi karyawannya. Pun, jurnalis partikelir dalam melindungi dirinya. Di atas itu semua, perjuangan mengakhiri impunitas adalah perjuangan rakyat meminta pertanggungjawaban pemerintahnya atas nama keadilan.
--
Gayathry Venkiteswaran adalah Direktur Eksekutif Aliansi Jurnalis Asia Tenggara (SEAPA). Tanggal 23 November diperingati sebagai Hari Internasional Melawan Impunitas. Ini adalah kali pertama komunitas internasional mengupayakan peringatan ini. Tanggal 23 menandai terjadinya Pembantaian Maguindanao.
Jumat, 25 November 2011
Inilah 40 Pengusaha Terkaya Indonesia
Majalah ekonomi terkemuka, Forbes, kembali mengeluarkan daftar orang-orang terkaya di Indonesia. Sebanyak 40 pengusaha dianggap layak dinobatkan sebagai orang terkaya di jagat nusantara.
Seperti dikutip dari laman Forbes.com, Kamis, 24 November 2011, urutan tiga besar orang terkaya di Indonesia masih dihuni oleh keluarga Hartono, Susilo Wonowidjojo, dan Eka Tjipta Widjaja. Tambahan kekayaan ketiga pengusaha itu ditaksir mencapai US$7,5 miliar atau menguasai lebih dari setengah total kekayaan 40 orang kaya di Tanah Air.
Dalam daftar kali ini, sebanyak 22 orang kaya mampu menambah pundi-pundi kekayaannya, sedangkan 11 pengusaha lainnya harus tergelincir dari posisinya tahun lalu. Sementara itu, tujuh orang sama sekali keluar dari daftar 40 orang terkaya Indonesia.
Forbes menilai kekayaan para orang kaya Indonesia ini dengan menggunakan perhitungan harga saham yang berakhir pada 11 November 2011 dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, untuk perusahaan tertutup dinilai dengan membandingkan dengan perusahaan serupa yang sudah mencatatkan saham di bursa saham.
Tak seperti daftar kekayaan miliarder yang dikeluarkan Forbes yang berfokus pada kekayaan individu, daftar orang terkaya Indonesia ini merefleksikan kekayaan dari sebuah keluarga.
Berikut ini daftar 40 orang terkaya Indonesia yang dikeluarkan Forbes:
1. Budi & Michael Hartono (US$14 miliar).
2. Susilo Wonowidjojo (US$10,5 miliar).
3. Eka Tjipta Widjaja (US$8 miliar)
4. Low Tung Kwok (US$3,7 miliar)
5. Anthoni Salim (US$3,6 miliar)
6. Sukanto Tanoto (US$2,8 miliar)
7. Martua Sitorus (US$2,7 miliar)
8. Peter Sondakh (US$2,6 miliar)
9. Putera Sampoerna (US$2,4 miliar)
10. Achmad Hamami (US$ 2,2 miliar)
11. Chairul Tanjung (US$2,1 miliar)
12. Boenjamin Setiawan (US$2 miliar)
13. Sri Prakash Lohia (US$1,7 miliar)
14. Murdaya Poo (US$1,5 miliar)
15. Tahir (US$1,4 miliar)
16. Edwin Soeryadjaya (US$1,35 miliar)
17. Kiki Barki (US$1,3 miliar)
18. Garibaldi Thohir (US$1,25 miliar)
19. Sjamsul Nursalim (US$1,22 miliar)
20. Ciliandra Fangiono (US$1,21 miliar)
21. Eddy William Katuari (US$1,2 miliar)
22. Hary Tanoesoedibjo (US$1,19 miliar)
23. Kartini Muljadi (US$1,15 miliar)
24. Theodore Rachmat (US$1,14 miliar)
25. Djoko Susanto (US$1,04 miliar)
26. Harjo Sutanto (US$1 miliar)
27. Ciputra (US$950 juta)
28. Samin Tan (US$940 juta)
29. Benny Subianto (US$900 juta)
30. Aburizal Bakrie (US$890 juta)
31. Engki Wibowo & Jenny Quantero (US$810 juta)
32. Hashim Djojohadikusumo (US$790 juta)
33. Soegiarto Adikoesoemo (US$770 juta)
34. Kuncoro Wibowo (US$730 juta)
35. Muhammad Aksa Mahmud (US$710 juta)
36. Husain Djojonegoro (US$700 juta)
37. Sandiaga Uno (US$660 juta)
38. Mochtar Riady (US$650 juta)
39. Trihatma Haliman (US$640 juta)
40. Handojo Santosa (US$630 juta)
Seperti dikutip dari laman Forbes.com, Kamis, 24 November 2011, urutan tiga besar orang terkaya di Indonesia masih dihuni oleh keluarga Hartono, Susilo Wonowidjojo, dan Eka Tjipta Widjaja. Tambahan kekayaan ketiga pengusaha itu ditaksir mencapai US$7,5 miliar atau menguasai lebih dari setengah total kekayaan 40 orang kaya di Tanah Air.
Dalam daftar kali ini, sebanyak 22 orang kaya mampu menambah pundi-pundi kekayaannya, sedangkan 11 pengusaha lainnya harus tergelincir dari posisinya tahun lalu. Sementara itu, tujuh orang sama sekali keluar dari daftar 40 orang terkaya Indonesia.
Forbes menilai kekayaan para orang kaya Indonesia ini dengan menggunakan perhitungan harga saham yang berakhir pada 11 November 2011 dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, untuk perusahaan tertutup dinilai dengan membandingkan dengan perusahaan serupa yang sudah mencatatkan saham di bursa saham.
Tak seperti daftar kekayaan miliarder yang dikeluarkan Forbes yang berfokus pada kekayaan individu, daftar orang terkaya Indonesia ini merefleksikan kekayaan dari sebuah keluarga.
Berikut ini daftar 40 orang terkaya Indonesia yang dikeluarkan Forbes:
1. Budi & Michael Hartono (US$14 miliar).
2. Susilo Wonowidjojo (US$10,5 miliar).
3. Eka Tjipta Widjaja (US$8 miliar)
4. Low Tung Kwok (US$3,7 miliar)
5. Anthoni Salim (US$3,6 miliar)
6. Sukanto Tanoto (US$2,8 miliar)
7. Martua Sitorus (US$2,7 miliar)
8. Peter Sondakh (US$2,6 miliar)
9. Putera Sampoerna (US$2,4 miliar)
10. Achmad Hamami (US$ 2,2 miliar)
11. Chairul Tanjung (US$2,1 miliar)
12. Boenjamin Setiawan (US$2 miliar)
13. Sri Prakash Lohia (US$1,7 miliar)
14. Murdaya Poo (US$1,5 miliar)
15. Tahir (US$1,4 miliar)
16. Edwin Soeryadjaya (US$1,35 miliar)
17. Kiki Barki (US$1,3 miliar)
18. Garibaldi Thohir (US$1,25 miliar)
19. Sjamsul Nursalim (US$1,22 miliar)
20. Ciliandra Fangiono (US$1,21 miliar)
21. Eddy William Katuari (US$1,2 miliar)
22. Hary Tanoesoedibjo (US$1,19 miliar)
23. Kartini Muljadi (US$1,15 miliar)
24. Theodore Rachmat (US$1,14 miliar)
25. Djoko Susanto (US$1,04 miliar)
26. Harjo Sutanto (US$1 miliar)
27. Ciputra (US$950 juta)
28. Samin Tan (US$940 juta)
29. Benny Subianto (US$900 juta)
30. Aburizal Bakrie (US$890 juta)
31. Engki Wibowo & Jenny Quantero (US$810 juta)
32. Hashim Djojohadikusumo (US$790 juta)
33. Soegiarto Adikoesoemo (US$770 juta)
34. Kuncoro Wibowo (US$730 juta)
35. Muhammad Aksa Mahmud (US$710 juta)
36. Husain Djojonegoro (US$700 juta)
37. Sandiaga Uno (US$660 juta)
38. Mochtar Riady (US$650 juta)
39. Trihatma Haliman (US$640 juta)
40. Handojo Santosa (US$630 juta)
Kamis, 24 November 2011
Teologi Tawuran
Ada banyak pemicu kenapa tawuran dikalangan masyarakat terdidik (Mahasiswa) kerap kali terjadi, mungkin diantarnya karena ego kelembagaan yang terbagi kedalam sejumlah fakultas. Bahwa fakultas "A" jauh lebih superior dibanding fakultas "B" atau "C" dan lainnya. Kemudian dengan pola pikir yang singkat dilakukanlah agresi kekerasan untuk mempertahankan diri (manusia dan paham dasarnya), yang mungkin juga untuk mempertahankan ego kelembagaan tadi. Menguatnya keidentitasan yang terjal ini membuat kelompok mahasiswa harus membedakan kalau "kita" bukan "mereka". Sehingga rasionalitas kekerasan menjadi sesuatu yang harus ditegakkan untuk membuktikan keidentitasan itu.
Secara holistik, bom pemicu tawuran dapat dilihat pada pola pendidikan yang begitu mengekang dengan segala tetek bengek aturan kampus yang membosankan, kemudian adanya budaya senioritas yang terus terpelihara secara kikuk, yakni hubungan senior dengan junior yang sebatas hormat semata dan bukan sebagai panutan yang harus diteladani. Hasil akhirnya disaat ada pemicu konflik sedikit saja, maka ramai-ramai turun mengatasnamakan kelompok untuk saling berseteruh sebagai bagian dari akumulasi kekecewaan dan kegelisahan yang dialami dalam kultur akademik dan kultur komunitas.
Membaca Teologi
Fokus analisis ini berusaha mengetengahkan tingkah laku keseharian manusia yang terkait dengan pahaman teologi yang terimplementasikan dalam kehidupan yang berhadapan dengan berbagai konteks permasalahan dilapangan (kehidupan sehari-hari).
Di wilayah ini (lapangan) bila ada pihak yang bertikai maka masing-masing mangatasnamakan kebenaran. Mengingat repotnya mendamaikan kasus yang terjadi di lapangan bila sudah merasa benar sendiri, dan diperunyam lagi dengan adanya korban diantara dua belah pihak yang bertikai. Olehnya itu perlu melacak kembali pola-pola kebertuhanan (teologi) yang selama ini dianggap sudah tuntas apabila berakhir di rumah-rumah ibadah atau terjebak pada ritual simbolik semata.
Kata teologi berasal dari Yunani yaitu, Theos yang berarti Tuhan dan Logos yang berarti ilmu. Kesimpulan sederhananya menyangkut pemahaman manusia tentang Tuhan.
Secara umum dapat dikategorikan kedalam dua pola teologi yang terus berseteru dalam masyarakat, lalu dijadikan pandangan dasar atas berbagai masalah. Yang pertama. Pola teologi konservatif yakni tradisi kepercayaan masyarakat yang turun temurun diwariskan dari leluhur yang dijadikan pandangan hidup dan nilai-nilai sosial ditengah masyarakat. Bagian-bagian ini kemudian dicampurbaurkan atau sengaja dicocok-cocokkan terhadap pandangan agama. Yang kedua. Pola teologi liberal atau tepatnya simbol kaum rasionalis dengan diktum pemahaman otentik terhadap Tuhan yang mencakup. Zat, Sifat, dan Perbuatan (Husein Herianto, 2000).
Pandangan teologi konservatif bekerja dengan menempatkan sifat Tuhan seperti maha adil, maha bijak, maha pengasih, dan maha penyayang. Doktrin ini dipertahankan dengan posisi Tuhan yang maha berkuasa dan maha berkehendak, sehingga implikasinya diwilayah sosial berubah menjadi, orang yang jahat bisa saja masuk surga lalu sebaliknya orang yang alim bisa saja masuk neraka. Karena baik dan buruk semuanya ciptaan Tuhan dan tidak mungkin Tuhan mengingkari ciptaannya sendiri. Ajaran teologi seperti ini menjadi sangat mudah untuk dimanfaatkan. Maka tak jarang banyak orang melakukan tindakan apa saja untuk memperkaya diri seperti korupsi atau memukuli orang seenaknya dan tindak kejahatan lainnya dengan sesuka hai tanpa beban. Karena untuk menebusnya cukup dengan mengucap kata Asthagfirullah al Azim saja atau membangun rumah-rumah ibadah (masjid). Toh Tuhan juga yang menentukan baik buruknya.
Simpulan akhir dalam memberikan jawaban dan menawarkan solusi terhadap kasus semisal tawuran, menjadi sangat menapikan manusianya sebagai pelaku dalam permasalahan konflik yang terjadi. Sebab tawuran yang terjadi dimaknai sebagai suatu permainan yang sudah diskenariokan oleh Tuhan, jadi posisi para pelaku tawuran tak lebih sebagai pemain-pemain yang tidak tahu masalah karena itu semua sudah menjadi takdir.
Paham teologi yang kedua dalam menawarkan solusi ialah pola teologi liberal (rasionalis) ini merupakan pola teologi yang lebih menekankan batasan permasalahan pada diri manusia. Apa saja yang menjadi tindak tanduk manusia dalam kesehariannya itu lahir dari manusianya sendiri. Jadi, untuk menengarai kasus tawuran misalnya, solusinya ada pada si pelaku sendiri (manusia). Karena manusianya tidak memahami Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan. Jadi agresi terhadap sesama manusia tidak dapat dielakkan.
Jadi manusia menjadi yang tersudut dan menapikan sebab-sebab lainnya dalam kenyataan dilapangan. Karena Sifat Tuhan yang maha pengasih tak terpahami sehingga muncul agresi untuk mempertahankan diri.
Mencari Teologi Alternatif
Kedua pola teologi diatas sudah berdalih dengan segala analisisnya dalam menanggapi dan menawarkan solusinya. Tapi bagaimana dengan hasil akhirnya, dan bagaimana pula dengan kondisi pola pikir manusia.
Kegiatan kebertuhanan yang selama ini dijalani sangatlah sempit sehingga muncul keterpisahan dalam segala hal. Ketakwaan tak lebih sebagai kesalehan individu. Dan hubungan sosial merupakan aktifitas lain yang terpisah dari aktifitas keagamaan.
Sebagaimana diketahui bersama kalau kedua pola teologi ini sudah bekerja sepanjang atau mungkin sebaya dengan sejarah hidup manusia. Namun solusi yang ditawarkan malah kewalahan dengan sendirinya dan konflik horizontal (tawuran) hari ini masih terus terjadi.
Teologi alternatif atau teologi kritis merupakan antitesis dari kedua paham teologi diatas. Pola teologi ini memfokuskan pada upaya menyingkap nama-nama dan sifat Tuhan dalm keseluruhan eksistensi. Mengingat Tuhan bukan hanya ditempat ibadah saja tapi harus diimplementasikan kedalam aktifitas keseharian kita sebagai manusia. Agar hubungan manusia dengan Tuhan bukan hubungna antara majikan dan budak, kemudian hubungan manusia dengan manusia adalah sebagai parnet yang harus saling melengkapi. Hal ini dimaksudkan agar derajat kemanusiaan kita tidak jatuh ketitik terendah, karena manusia merupakan ciptaan yang paling mulia diantara ciptaan-ciptaaNya.
Sudah waktunya kita semua bangkit membenahi diri dengan memikirkan ulang pola-pola kebertuhanan yang kita terapkan selama ini didalam kehidupan bermasyrakat. Orang yang mukmin bukan sekedar percaya kepada Tuhan, jika tidak ada kesadaran sosialnya ia masih tergolong kafir. Kuranga lebih seperti itulah peringatan yang diteriakkan oleh Asghar Ali Engineer. Seorang pemikir Islam modern dari India. Benarkah kita manusia, benarkah kita bertuhan.
***
Oleh;
F. Daus AR
Komite Komunitas Demokrasi Pangkep
Secara holistik, bom pemicu tawuran dapat dilihat pada pola pendidikan yang begitu mengekang dengan segala tetek bengek aturan kampus yang membosankan, kemudian adanya budaya senioritas yang terus terpelihara secara kikuk, yakni hubungan senior dengan junior yang sebatas hormat semata dan bukan sebagai panutan yang harus diteladani. Hasil akhirnya disaat ada pemicu konflik sedikit saja, maka ramai-ramai turun mengatasnamakan kelompok untuk saling berseteruh sebagai bagian dari akumulasi kekecewaan dan kegelisahan yang dialami dalam kultur akademik dan kultur komunitas.
Membaca Teologi
Fokus analisis ini berusaha mengetengahkan tingkah laku keseharian manusia yang terkait dengan pahaman teologi yang terimplementasikan dalam kehidupan yang berhadapan dengan berbagai konteks permasalahan dilapangan (kehidupan sehari-hari).
Di wilayah ini (lapangan) bila ada pihak yang bertikai maka masing-masing mangatasnamakan kebenaran. Mengingat repotnya mendamaikan kasus yang terjadi di lapangan bila sudah merasa benar sendiri, dan diperunyam lagi dengan adanya korban diantara dua belah pihak yang bertikai. Olehnya itu perlu melacak kembali pola-pola kebertuhanan (teologi) yang selama ini dianggap sudah tuntas apabila berakhir di rumah-rumah ibadah atau terjebak pada ritual simbolik semata.
Kata teologi berasal dari Yunani yaitu, Theos yang berarti Tuhan dan Logos yang berarti ilmu. Kesimpulan sederhananya menyangkut pemahaman manusia tentang Tuhan.
Secara umum dapat dikategorikan kedalam dua pola teologi yang terus berseteru dalam masyarakat, lalu dijadikan pandangan dasar atas berbagai masalah. Yang pertama. Pola teologi konservatif yakni tradisi kepercayaan masyarakat yang turun temurun diwariskan dari leluhur yang dijadikan pandangan hidup dan nilai-nilai sosial ditengah masyarakat. Bagian-bagian ini kemudian dicampurbaurkan atau sengaja dicocok-cocokkan terhadap pandangan agama. Yang kedua. Pola teologi liberal atau tepatnya simbol kaum rasionalis dengan diktum pemahaman otentik terhadap Tuhan yang mencakup. Zat, Sifat, dan Perbuatan (Husein Herianto, 2000).
Pandangan teologi konservatif bekerja dengan menempatkan sifat Tuhan seperti maha adil, maha bijak, maha pengasih, dan maha penyayang. Doktrin ini dipertahankan dengan posisi Tuhan yang maha berkuasa dan maha berkehendak, sehingga implikasinya diwilayah sosial berubah menjadi, orang yang jahat bisa saja masuk surga lalu sebaliknya orang yang alim bisa saja masuk neraka. Karena baik dan buruk semuanya ciptaan Tuhan dan tidak mungkin Tuhan mengingkari ciptaannya sendiri. Ajaran teologi seperti ini menjadi sangat mudah untuk dimanfaatkan. Maka tak jarang banyak orang melakukan tindakan apa saja untuk memperkaya diri seperti korupsi atau memukuli orang seenaknya dan tindak kejahatan lainnya dengan sesuka hai tanpa beban. Karena untuk menebusnya cukup dengan mengucap kata Asthagfirullah al Azim saja atau membangun rumah-rumah ibadah (masjid). Toh Tuhan juga yang menentukan baik buruknya.
Simpulan akhir dalam memberikan jawaban dan menawarkan solusi terhadap kasus semisal tawuran, menjadi sangat menapikan manusianya sebagai pelaku dalam permasalahan konflik yang terjadi. Sebab tawuran yang terjadi dimaknai sebagai suatu permainan yang sudah diskenariokan oleh Tuhan, jadi posisi para pelaku tawuran tak lebih sebagai pemain-pemain yang tidak tahu masalah karena itu semua sudah menjadi takdir.
Paham teologi yang kedua dalam menawarkan solusi ialah pola teologi liberal (rasionalis) ini merupakan pola teologi yang lebih menekankan batasan permasalahan pada diri manusia. Apa saja yang menjadi tindak tanduk manusia dalam kesehariannya itu lahir dari manusianya sendiri. Jadi, untuk menengarai kasus tawuran misalnya, solusinya ada pada si pelaku sendiri (manusia). Karena manusianya tidak memahami Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan. Jadi agresi terhadap sesama manusia tidak dapat dielakkan.
Jadi manusia menjadi yang tersudut dan menapikan sebab-sebab lainnya dalam kenyataan dilapangan. Karena Sifat Tuhan yang maha pengasih tak terpahami sehingga muncul agresi untuk mempertahankan diri.
Mencari Teologi Alternatif
Kedua pola teologi diatas sudah berdalih dengan segala analisisnya dalam menanggapi dan menawarkan solusinya. Tapi bagaimana dengan hasil akhirnya, dan bagaimana pula dengan kondisi pola pikir manusia.
Kegiatan kebertuhanan yang selama ini dijalani sangatlah sempit sehingga muncul keterpisahan dalam segala hal. Ketakwaan tak lebih sebagai kesalehan individu. Dan hubungan sosial merupakan aktifitas lain yang terpisah dari aktifitas keagamaan.
Sebagaimana diketahui bersama kalau kedua pola teologi ini sudah bekerja sepanjang atau mungkin sebaya dengan sejarah hidup manusia. Namun solusi yang ditawarkan malah kewalahan dengan sendirinya dan konflik horizontal (tawuran) hari ini masih terus terjadi.
Teologi alternatif atau teologi kritis merupakan antitesis dari kedua paham teologi diatas. Pola teologi ini memfokuskan pada upaya menyingkap nama-nama dan sifat Tuhan dalm keseluruhan eksistensi. Mengingat Tuhan bukan hanya ditempat ibadah saja tapi harus diimplementasikan kedalam aktifitas keseharian kita sebagai manusia. Agar hubungan manusia dengan Tuhan bukan hubungna antara majikan dan budak, kemudian hubungan manusia dengan manusia adalah sebagai parnet yang harus saling melengkapi. Hal ini dimaksudkan agar derajat kemanusiaan kita tidak jatuh ketitik terendah, karena manusia merupakan ciptaan yang paling mulia diantara ciptaan-ciptaaNya.
Sudah waktunya kita semua bangkit membenahi diri dengan memikirkan ulang pola-pola kebertuhanan yang kita terapkan selama ini didalam kehidupan bermasyrakat. Orang yang mukmin bukan sekedar percaya kepada Tuhan, jika tidak ada kesadaran sosialnya ia masih tergolong kafir. Kuranga lebih seperti itulah peringatan yang diteriakkan oleh Asghar Ali Engineer. Seorang pemikir Islam modern dari India. Benarkah kita manusia, benarkah kita bertuhan.
***
Oleh;
F. Daus AR
Komite Komunitas Demokrasi Pangkep
Selasa, 22 November 2011
Bangunan 'Piramida' Tertua Ditemukan di Garut
Tim katastropik purba menduga ada bangunan berbentuk piramida di Desa Sadahurip dekat Wanaraja Garut, Jawa Barat. Dari temuan itu, ada fakta yang cukup mengagetkan. Apa itu?
Dari hasil penelitian intensif dan uji karbon dipastikan bahwa umur bangunan yang terpendam dalam gunung tersebut lebih tua dari Piramida Giza.
“Dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji karbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza,” terang Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief dalam rilils kepada detikcom, Minggu (22/11/2011).
Sekedar catatan, Piramida Giza selama ini dikenal sebagai piramida tertua dan terbesar dari 3 piramida yang ada di Nekropolis Giza. Dipercaya bahwa piramida ini dibangun sebagai makam untuk firaun dinasti keempat Mesir, Khufu dan dibangun selama lebih dari 20 tahun dan diperkirakan berlangsung pada sekitar tahun 2560 sebelum Masehi.
Andi menerangkan, dalam beberapa waktu ke depan, Tim Katastropik Purba akan melakukan paparan ke publik tentang temuan-temuannya tersebut. Tak hanya soal temuan piramida di Garut tersebut, tim ini nantinya juga akan memaparkan temuan istimewa di kawasan Trowulan, Batu Jaya, beberapa lokasi menhir di Sumatera dan lain-lain.
“Ada temuan mencengangkan tentang uji karbon dating pada 3 lapis kebudayaan di kawasan Trowulan yang terlanjur kita sebut Majapahit pada zaman sejarah masehi itu. Juga tentang temuan-temuan lapisan sejarah di Lamri Aceh dan sekitarnya,” terang Andi.
Terhadap temuan ini, sambung Andi, Tim Katastropik Purba juga akan terus berkoordinasi dengan bidang kepurbakalaan, antropologi, arkeologi, pakar budaya, ahli sejarah dan lainnya. D isamping akan terus berkoordinasi lintas ilmu kebumian sehubungan dengan temuan-temuan sejarah bencana-bencana lokal dan global untuk dicari mitigasinya.
Sekedar catatan, beberapa hasil penelitian Tim Katastropik Purba ini telah disampaikan kepada publik. Diantaranya, rekomendasi agar 3 gunung di Jawa Barat yakni Gunung Kaledong, Gunung Putri, dan Gunung Haruman dijadikan sebagai cagar budaya.
Rekomendasi itu atas dasar penelitian melalui metoda ilmu kebumian, meneliti sumber-sumber bencana alam dan melacak informasi dari masa lalu yang berkaitan dengan kejadian bencana alam katastropik.
Obyek penelitian lain yang berada pada jalur-jalur patahan gempabumi dan gunung api di sepanjang Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan sampai Papua, terus dikaji secara ilmiah.
“Hasil penelitian-penelitian lanjutan tentang ini akan disampaikan ke publik,” pungkas Andi.
Dari hasil penelitian intensif dan uji karbon dipastikan bahwa umur bangunan yang terpendam dalam gunung tersebut lebih tua dari Piramida Giza.
“Dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji karbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza,” terang Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief dalam rilils kepada detikcom, Minggu (22/11/2011).
Sekedar catatan, Piramida Giza selama ini dikenal sebagai piramida tertua dan terbesar dari 3 piramida yang ada di Nekropolis Giza. Dipercaya bahwa piramida ini dibangun sebagai makam untuk firaun dinasti keempat Mesir, Khufu dan dibangun selama lebih dari 20 tahun dan diperkirakan berlangsung pada sekitar tahun 2560 sebelum Masehi.
Andi menerangkan, dalam beberapa waktu ke depan, Tim Katastropik Purba akan melakukan paparan ke publik tentang temuan-temuannya tersebut. Tak hanya soal temuan piramida di Garut tersebut, tim ini nantinya juga akan memaparkan temuan istimewa di kawasan Trowulan, Batu Jaya, beberapa lokasi menhir di Sumatera dan lain-lain.
“Ada temuan mencengangkan tentang uji karbon dating pada 3 lapis kebudayaan di kawasan Trowulan yang terlanjur kita sebut Majapahit pada zaman sejarah masehi itu. Juga tentang temuan-temuan lapisan sejarah di Lamri Aceh dan sekitarnya,” terang Andi.
Terhadap temuan ini, sambung Andi, Tim Katastropik Purba juga akan terus berkoordinasi dengan bidang kepurbakalaan, antropologi, arkeologi, pakar budaya, ahli sejarah dan lainnya. D isamping akan terus berkoordinasi lintas ilmu kebumian sehubungan dengan temuan-temuan sejarah bencana-bencana lokal dan global untuk dicari mitigasinya.
Sekedar catatan, beberapa hasil penelitian Tim Katastropik Purba ini telah disampaikan kepada publik. Diantaranya, rekomendasi agar 3 gunung di Jawa Barat yakni Gunung Kaledong, Gunung Putri, dan Gunung Haruman dijadikan sebagai cagar budaya.
Rekomendasi itu atas dasar penelitian melalui metoda ilmu kebumian, meneliti sumber-sumber bencana alam dan melacak informasi dari masa lalu yang berkaitan dengan kejadian bencana alam katastropik.
Obyek penelitian lain yang berada pada jalur-jalur patahan gempabumi dan gunung api di sepanjang Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan sampai Papua, terus dikaji secara ilmiah.
“Hasil penelitian-penelitian lanjutan tentang ini akan disampaikan ke publik,” pungkas Andi.
Minggu, 20 November 2011
Heboh, Facebook Tuntut Pembajakan Blogger Indonesia 2 Milyar
Seorang blogger Indonesia yang bernama Ainun Nazieb tersandung masalah dengan raksasa penguasa jejaring sosial Facebook. Perusahaan tersebut melayangkan surat tuntutan terhadap Nazieb.
Apa masalahnya?
Surat tuntutan ini bermula ketika Nazieb membuat blog pribadi yang beralamat di nazieb.com dan membuat tema blog bernama 'Smells Like Facebook' yang mirip dengan tampilan Facebook versi pertama. Nazieb dituntut facebook sebesar 2 Milliar. (Lihat template Blog Nazieb tersebut DISINI)
Berawal dari ke-iseng-an untuk membuat tema blog pribadi yang mirip tampilan Facebook, akhirnya ada beberapa teman yang meminta dia menyediakannya sebagai tema yang bisa dipakai oleh orang banyak karena dinilai menarik.
"Jujur saya tidak berniat mencari keuntungan, karena saat itu saya hanya berniat share saja," tutur Nazieb, ketika dihubungi okezone, Kamis (17/11/2011).
Tema blog tersebut memang sudah distop untuk diunduh dari blog pribadinya, namun peredarannya belum tentu berhenti. Orang lain masih mungkin bisa melakukan share melalui blog mereka.
Themes Yang mirip tampilan facebook.
Upaya yang sedang dilakukan Nazeib saat ini ialah berkonsultasi dengan kuasa hukumnya yang disediakan oleh pimpinan perusahaan di mana dia bekerja sekarang. Bersama kuasa hukumnya dia akan memenuhi panggilan pihak Facebook Indonesia pada hari Senin, 21 November atau Rabu, 23 November 2011.
Saat ini dia masih mengkonsultasikan masalah ini dengan kuasa hukum yang disediakan oleh pimpinan perusahaan tempat dia bekerja, kemudian dia dan kuasa hukumnya akan mendatangi panggilan perwakilan Facebook pada hari Senin atau Rabu mendatang, untuk mengetahui apa yang sebenarnya dituntut pihak Facebook.
Apa yang dilakukan Ainun Nazieb memang lebih dari sebuah kreatifitas biasa. Memanfaatkan ilmu untuk sebuah karya memang sangat diharapkan ada di setiap individu generasi penerus bangsa, namun sebaiknya memperhatikan juga karya orang lain. Jangan sampai menimbulkan masalah yang lebih besar karena masalah hak cipta.
Kiranya kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita yang bergelut di dunia digital, khususnya sebagai blogger atau web desainer / developer. Karya orang wajib untuk dihargai. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan beberapa blogger adalah menghapus credit / copyrigth yang biasanya terletak di footer setiap template.
Apa masalahnya?
Surat tuntutan ini bermula ketika Nazieb membuat blog pribadi yang beralamat di nazieb.com dan membuat tema blog bernama 'Smells Like Facebook' yang mirip dengan tampilan Facebook versi pertama. Nazieb dituntut facebook sebesar 2 Milliar. (Lihat template Blog Nazieb tersebut DISINI)
Berawal dari ke-iseng-an untuk membuat tema blog pribadi yang mirip tampilan Facebook, akhirnya ada beberapa teman yang meminta dia menyediakannya sebagai tema yang bisa dipakai oleh orang banyak karena dinilai menarik.
"Jujur saya tidak berniat mencari keuntungan, karena saat itu saya hanya berniat share saja," tutur Nazieb, ketika dihubungi okezone, Kamis (17/11/2011).
Tema blog tersebut memang sudah distop untuk diunduh dari blog pribadinya, namun peredarannya belum tentu berhenti. Orang lain masih mungkin bisa melakukan share melalui blog mereka.
Themes Yang mirip tampilan facebook.
Upaya yang sedang dilakukan Nazeib saat ini ialah berkonsultasi dengan kuasa hukumnya yang disediakan oleh pimpinan perusahaan di mana dia bekerja sekarang. Bersama kuasa hukumnya dia akan memenuhi panggilan pihak Facebook Indonesia pada hari Senin, 21 November atau Rabu, 23 November 2011.
Saat ini dia masih mengkonsultasikan masalah ini dengan kuasa hukum yang disediakan oleh pimpinan perusahaan tempat dia bekerja, kemudian dia dan kuasa hukumnya akan mendatangi panggilan perwakilan Facebook pada hari Senin atau Rabu mendatang, untuk mengetahui apa yang sebenarnya dituntut pihak Facebook.
Apa yang dilakukan Ainun Nazieb memang lebih dari sebuah kreatifitas biasa. Memanfaatkan ilmu untuk sebuah karya memang sangat diharapkan ada di setiap individu generasi penerus bangsa, namun sebaiknya memperhatikan juga karya orang lain. Jangan sampai menimbulkan masalah yang lebih besar karena masalah hak cipta.
Kiranya kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita yang bergelut di dunia digital, khususnya sebagai blogger atau web desainer / developer. Karya orang wajib untuk dihargai. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan beberapa blogger adalah menghapus credit / copyrigth yang biasanya terletak di footer setiap template.
Langganan:
Postingan (Atom)